24 Oktober 2011

Pengadilan Allah

Ahh, muaaakk banget deh denger berita akhir-akhir ini. Entah, rasanya mulai pesimis bisa menjadi bagian dalam perubahan negeri ini. Entah harus percaya sama siapa lagi. Entah mau dibawa kemana bangsa ini oleh para pemimpinnya.

Cape dengernya, yang satu nuduh ini, yang lainnya ngelak dan nuduh balik. Grr, mau ga didengerin yaa tetep kedengeran, heu. Apa orang-orang itu ga takut ya? Bukankah setiap orang akan dijemput oleh hari penghitungan, hari pengadilan dimana semua perbuatan akan ditimbang baik dan buruknya, dan bukankah pengadilan Allah adalah pengadilan yang seadil-adilnya? Pengadilan yang akan memutuskan yang benar sebagai sesuatu yang memang benar, dan yang salah sebagai sesuatu yang seharusnya salah.

Seperti kata bukunya Fuadi, "Man yazra' yahsud, siapa yang menanam akan menuai yang ditanam."

Yah, sudahlah. None of my bussiness ngurus begituan. Yang penting saat ini belajar dulu yang banyak supaya bisa punya bekel ilmu buat jadi solusi di masa depan, sambil berdoa supaya selalu dijaga keimanan dan keteguhan hati ini, selalu dijaga dari perbuatan-perbuatan syaitan

Racauan Pagi Hariii..

Ahaii, akhirnya nonton final episodenya Harry Potter yang melegenda itu. Gw ga ngeh ceritanya, tapi yang jelas gw amat sangat suka ending-nya. Yes, I love that 19 years later's scenes. Ketika akhirnya kejahatan musnah, sementara cinta dan persahabatan tulus yang menang. Ketika akhirnya tokoh-tokoh sentral di film tersebut saling menikah dan memiliki anak. Ahh...

Entah, gw suka bener sama a very happy ending story, mau film, novel, ato apapunlah. Rasanya ngasih perasaan yang menyenangkan dan ngebuat mood jadi bagus kalo ngingetnya. Maklum, gw aga-aga drama king, jadi suka terlalu terbawa alur dan emosi cerita, haha.

Yah, semoga aja hidup gw juga akan berakhir manis, berakhir bahagia. Sukses di dunia, karier cemerlang, punya istri yang setia menemani hari tua, punya cucu yang lucu-lucu yang bisa ditimang-timang dimasa retired nanti, sehat walafiat, tidak kekurangan sesuatu apapun, hingga akhirnya suatu hari nanti wafat dalam khusnul khotimah. Amin..

7 Agustus 2011

Sawarna, finally!

Ihaiii, S.A.W.A.R.N.A!!!!!! :)
9-10 Juli 2011
***

Berbeda dengan cerita perjalanan liburan saya sebelumnya, kali ini saya hanya akan membagikan tips dan trik berlibur kesana, enjoy it!

Siluet gueee, keren ah!
Butuh perjalanan sekitar 7-8 jam dari Depok/Jakarta untuk menuju Pantai Sawarna, 2 jam dari Pelabuhan Ratu. Mengingat jalur yang selalu macet, maka sebaiknya memang memilih untuk berangkat pagi-pagi buta dan sampai tujuan pas waktu makan siang atau Anda bisa pergi aga siangan dan sampai pas waktunya Tahajud, karena dipastikan akan terkena macet menunggu si Komo lewat.

Jalannya tidak begitu bersahabat, cukup membuat perut mual, pala pusing yang disertai dengan kelabilan mood, apalagi bagi Anda yang duduk di belakang. Disarankan untuk tidak menggunakan city car berpenumpang full atau penumpang mobil tersebut akan terpaksa turun dan jalan mendaki jalanan terjal sementara Anda akan menyetir dengan kekuatan penuh, keringat bercucuran serta emosi yang berantakan.

Ternyata Sawarna panas banget jendral. Buat yang biasa idup di kutub, bawalah perlengkapan anti kepanasan Anda. Kipas angin, kacamata hitam, dan sunblock pastinya. Gak usah bawa topi, Anda akan dipinjamkan topi petani yang sungguh amat unik dan pas untuk aksesoris pada foto Anda. Pastikan membawa kamera, karena pemandangannya sangat cocok untuk diabadikan pada kamera Anda, walau Anda sama sekali tidak berbakat dalam hal fotografi.

Pilihlah homestay yang terakreditasi A, alias aman, nyaman, masakan host yang enak, dan murah. Alhamdulillahh, kemarin saya mendapatkan homestay yang terakreditasi A dengan bantuan Uti, just follow her @utinilamsari. You can feel free to ask about that. Kalau bisa, gunakanlah momen traktiran kerabat terdekat Anda untuk biaya penginapan karena akan sangat membantu keuangan Anda. Jangan lupa, jaga barang berharga Anda dengan mengunci kamar atau homestay Anda. Bagaimanapun juga, banyak orang yang hilir mudik disana.

Sewalah jasa guide untuk berkeliling disana. Pilihlah guide yang tau jalan disana supaya Anda tidak nyasar. Selain itu, kemampuan berkomunikasi dan tampang juga amat diperlukan, siapa tahu Anda ingin berfoto dengannya di dalam gua. Jangan pilih yang menggunakan high heels atau anggota MLM tertentu. Kalau bisa, gunakanlah jasa guide yang direkomendasikan host homestay Anda. Untuk dua hari perjalanan keliling Sawarna, satu grup hanya membayar Rp100.000,-. Dengan jasa guide, Anda akan mengunjungi seluruh spot yang tersedia disana.

Gunakanlah sendal teplek atau bahkan sendal gunung untuk berjalan-jalan. Anda akan melewati bukit-bukit, jalan raya, persawahan, jembatan gantung, pasir pantai, padang lumut kuning, hingga karang bebatuan yang tajam. Hati-hati melangkah atau Anda bisa saka menginjak hewan air disana. Bawalah persediaan makanan dan minuman yang memadai. Janganlah membawa makanan dan minuman jika sedang bulan Ramadhan karena puasa Anda bisa batal.

Gunakanlah warna baju yang mencolok agar terlihat kontras pada foto Anda. Jangan tanggalkan baju Anda di sembarang tempat, apalagi Anda berperut tidak sedap dipandang. Janganlah pula mandi terlalu lama karena akan membuat teman Anda menunggu dengan kesal akibat pasir yang membuat pantat gatal.

Janganlah menggunakan makeup yang berlebihan. Jangan pula terlalu napsu ngeliat bule-bule berjemur. Bawalah diri Anda sesederhana mungkin. Janganlah Anda membawa pekerjaan, atau selama perjalanan Anda akan membolak-balikan kertas dan tidak bisa tertidur pulas. Dan gunakanlah kalimat, "Kami dokter dan mau ke RSUD" jika ditanya orang yang tidak dikenal. Bawalah hardisk eksternal Anda, siapa tahu Anda ingin meng-copy film Korea terbaru.

Pulanglah dari sana jangan terlalu sore, kemacetan masih mengintai Anda. Tidak usah membawa pasir pantai atau air laut karena akan memenuhi bagasi Anda. Jika Anda penakut, janganlah coba-coba naik motor melintasi jembatan gantung, apalagi membawa kamera, sesungguhnya itu akan membuat air mata Anda keluar beraturan disertai dengan muka yang tiba-tiba pucat pasi seperti nasi kemaren sore. #eh

Terakhir, janganlah lupa sholat lima waktu sebagai ungkapan syukur Anda. Bawalah bekal makanan yang banyak jika membawa teman yang berat badannya mendekati 90kg atau dia akan marah-marah sepanjang perjalanan. Bayarlah uang patungan Anda sesuai dengan perhitungan, jangan mencoba-coba untuk tidak membayar atau Anda akan dikucilkan serta dijodohkan dengan sapi-sapi yang sedang berlibido tinggi karena musim kawin telah tiba.

NOTE: Tidak semua yang dibaca adalah benar. Gunakan intuisi Anda dalam menentukan tips ynag berharga. Terima kasih, selamatt berlibur.

Spesial thanks, Indri, Uti, Teteh, Inggit, Mamang, dan Abang. Love yaa!!


Our full team! *Sunrise at Sawarna*
More photos at fachmyfajri.tumblr.com
Photos by Galih dan Indri

Masterchef Aussie S02, just love it!!


Kalau ditanya sekarang gw lagi ngikutin tontonan apa, pasti yang pertama gw sebut itu Masterchef Australia 2010. Gw ngerasa ini acara meaningful banget, beda dari reality show pencarian bakat lainnya, Beda, iyalah, its all about cooking and food. Beda, karena capability pesertanya luar biasa dan jurinya yang outstanding dari segala sisi, susah dibandingin sama versi dalem negeri. *it doesn't mean I don't love local products ya!*

Kenapa gw suka banget acara ini, jelas karena ini tentang makanan, the most interesting things in the "me" world, haha. Enak aja ngeliat makanan-makanan tersaji dengan penampilan yang bikin aer liur netes pelan-pelan, haha. Nambah ilmu pulak, jadi tau kerjaan si Mpok di dapur, mulai tau cara masak dikit-dikit. Yang jelas, jadi pingin belajar masak, biar nanti kalo laper tengah malem bisa masak makanan enak, ga cuman telor ceplok sama indomie aja, hehe, biar kaya si babeh, jago bikin nasi goreng yang enak.

Ah, acara ini juga menghadirkan chef profesional yang mendunia. Dan yang gw suka adalah ke-humble-an mereka. Buat gw, orang terkenal, berkeahlian khusus, cerdas, humble, dan ga sombong itu sangat menginspirasi. Di episode berapa entah, chef Maggy yang uda tua jadi bintang tamu dan dia gokil abis. Masih mau ngajarin lawannya pas lagi kompetisi, masih bilang dia ga bisa apa-apa, masih mengakui kelebihan orang lain, ah gw harus humble kaya gitu.

Dan yang paling buat gw nganga adalah dieliminasinya Marion, my favorite contestant, everybody's favorite. Semua kontestan di kompetisi itu bahkan uda tau kalo si Marion ini calon juara yang paling kuat, begitu juga dengan viewer, banyak yang "berkicau" di twitter akan kekecewaan keluarnya Marion. Tapi ya, itulah hidup. Even kita ga akan tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita di masa yang akan datang. Satu hal yang gw tambah pahami adalah bahwa jalan Tuhan untuk seseorang itu luar biasa dan sangat misterius.

Haha, entahlah. Mungkin masi ga ikhlas ngeliat kontestan favorit keluar kompetisi, apalagi emang tau dia yang paling oke. Nonton masterchef tanpa Marion itu sama aja nonton final Uber Cup tanpa tim China, sama kaya nonton Dewi Perssik tanpa goyang gergajinya, haha.

Marion

Whateverlah, pokoknya suatu saat gw harus bisa masak enak. Buat anak-istri di kala libur, hehe. Amin.

The contestants
Photos are taken from www.masterchef.com.au

Papua, other side of Indonesia!

Gyaaaa, finally menginjakan kaki di Tanah Papua. Sebuah sisi lain kehidupan masyarakat Indonesia, luarrr biasa. Berangkat dengan Garuda Indonesia jam 11 malem, bareng Pa Luthfi dan Oki. FYI, untuk menuju Jayapura, pesawatnya akan transit di Bali dan Timika dulu. Ga sempet turun di Ngurah Rai karena tengah malem, ngantuk parahh, tapi sempet turun dan muter-muter di bandara Timika. Banyak bule disini, mobilnya bagus-bagus, bandaranya juga bagus, klasik minimalis kaya rumah-rumah di Chicago, Texas gitu. *kaya pernah ke Amerika aja gw*, rame, dan ada ada lambang Ban segede gaban di depan bandaranya, ya dipersembahkan untuk pekerja Freeport katanya. Dan first time kaki gw menginjak tanah Papua.

Sampe di Jayapura, bandaranya rameee banget uda kaya terminal. Secara ada 30 kabupaten/kota di Papua (termasuk provinsi) dan yang bisa ditempuh lewat jalur darat cuman 3 kabupaten kalo dari Jayapura, sisanya harus naek pesawat. Perjalanan satu jam lebih dari bandara ke kantor. Satu hal, nyamuknya ganas! Luar biasa, kesenengan deh mereka nyedot dari gw, heu. Jayapura panas, tapi sering ujan mendadak juga, cuacanya aga sulit diprediksi. Masyarakat Papua juga sering terlihat berkumpul di luar, sambil makan buah Kina.

Kondisi disana berbukit-bukit, rame ko, ga sesepi yang gw kira. Angkotnya unik, duduknya madep depan, makanannya rata-rata seafood, secara ngesot dikit dari kota uda laut, kantor aja kalo ngeliat ke jendela view-nya laut sama tebing gitu. Banyak anjing sama babi yang jalan-jalan santai di pinggir jalan, wow. Harga makanan dan kebutuhan lain juga lebih tinggi disana, dan ada happy puppy, haha, uda jauh-jauh, tetep aja yang dicari tempat karaoke keluarga.

Seminggu disana, gw sempet jalan-jalan ke Danau Sentani. Lucky me, lagi ada pekan FDS, Festival Danau Sentani, dimana berbagai suku di Papua menunjukan budaya mereka di atas Danau Sentani. Selain itu sempet ke Perbatasan Papua Nugini. Hahai, pertama kalinya gw liat perbatasan. Agak lenggang, dijaga oleh masing-masing angkatan bersenjata.

Sentani's Lake
Sayangnya gw ga sempet banyak foto. Males, hehe. *ngeles* Jumat subuh, gw uda balik lagi ke Jakarta, kali ini lewat Biak-Makassar. Jadilah seminggu ini gw keliling Indonesia bagian tengah dan timur. Di Biak sempet liat-liat lautnya. Gile cingg, lautnya 5 gradasi warna dengan pasir putih bersih, bagusss bangett! Ga lama di Biak, kita terbang ke Makassar. Yeah, kali pertama juga gw nginjekin kaki di bumi Sulawesi. Bandaranya bagus, megah.

Ya, gitulah perjalanannya. Walau ga banyak kemana-mana, tapi banyak yang pertama kali buat gw. Thanks Allah, untuk perjalanan hidup yang luar biasa ini.


Me, spreading peace for all the world, alah! at, border line Indonesia and Papua New Guinea

6 Agustus 2011

Malang, a dream comes true vacation!

Finally, Malang. Setelah setengah tahun diundur gara-gara mother nature yang ga mendukung kita kesana, long weekend kemaren akhirnya gw dan temen-temen berkesempatan kesana. Kita berenam belas, gw, Teteh *Ratih*, Abang *Galih*, Irir, Nanto, Sopia, Mamang, Inggit, Darius dan 7 temen kantornya Galih, ruame pol uda kaya tamasya se-kecamatan! *gezz*

Pergi naek Kereta Gumarang menuju Surabaya selama 13 jam! Kotak, kotak deh tuh pantat, ditambah harus nahan pipis pula, oh God PR banget dah. Nyampe Surabaya Kamis pagi dan langsung go ahead ke Batu, Malang dengan mampir makan siang Bakso Solo! *entah bisa-bisanya Bakso Solo bertahan diantara menjamurnya kenikmatan Bakso Malang*

Nyampe vila, beberes badan yang aroma dan tingkat kekucelannya uda ga keruan. Dengan angkot sewaan kita move on ke Coban Rondo, aer terjun jande kalo kata orang sini mah. Worthed, aer terjun tinggi, bagus, htm murmer, dan jalan menuju kesananya bentar. Gw demen yang beginian dah! *well, walopun gw lebih demen bobo-bobo ganteng di kasur ato dilepas di mall yang penuh barang diskonan, haha..

Kelaperan, kita menuju alun-alun Kota Batu, nganga gw! Bagus bener, banyak lampion-lampion, rumah buah, sampe mini bianglala (kincir angin reksasa). Eh makan tahu telor jumbo delapan rebu, mayan dah ngasi makan naga di perut. Heumm, aturan Depok punya nih yang kaya beginian. Pa Walikota ayo dongg buat alun-alun..

Next, Bromo! Saking excited-nya gw gabisa ngorok, anjirr degdegannya kaya mau eek di tempat umum yang penuh antrean. Dijemput dengan L300 lewat hutan, ato apapun itu, gelep bener, ngeri boi. Nyampe Bukit Pananjakan jam 4 subuh, duingiiin pol walo ga sedingin yang gw kira. Dengan kostum ala Bernard Bear *makasii ya temen-temen buat sanjungannya* gw bergaya bak model pro berbusana musim dingin dengan latar Om Bromo yang begitu menawan. Best views ever there.

Mampir ke Jatim Park 2, which is ada Batu Secret Zoo dan Museum Satwa yang super duper wow. Konsep kebun binatang yang bikin gw nganga part 2, itu keren abis. Kenapa di Jakarta ga ada yak?! Dengan 50 rebu kita puas muter-muter liat hewan-hewan lengkap dan bervariasi, setelahnya bisa maen aer di arena kolam renang dan sedikit games petualangan. FYI, kita bisa foto sama burung gretongan, kalo ama kuda bayar 10 rebu. Manteplah. Museum Satwanya juga megah dan super lengkap. *jadi kerjaan gw cuma nganga sepanjang trip kali ini.

Tim ahirnya kepecah jadi dua, ada yang pulang, ada yang lanjut ke BNS. Sungguh aneh tapi nyata, gw ikut tim yang ke BNS. Dari kemaren malem belom tidur, belom mandi, kaki bekonde, tapi entah kenapa gw harus ke tempat itu. Bareng Galih, Sopia, Nanto, Inggit, Cici, dan Septi kita cao ke BNS. Dan eng, ing, eng, this theme park is so damn beautiful. Ada pasar malem beserta maenan-maenan canggih macem di Dufan, dancing fountain, laser and multimedia show, dan lampion garden! Yes, it made me nganga part 3! *dapet gelas cantik tiga kali nganga sehari*. Foto-foto di macem-macem spot lampion garden dengan berbagai gaya, maem di food court dengan ditemani dancing fountain Rumah kita dan Cinta Satu Malam, nyobain main wild mouse, for the first time, gw ngerasa lagi bukan di Indonesia. Such a spectacular nite, yes at Batu Night Spectacular.

Pagi telah tibaaa.. Hadehh rasanya males bener mau jalan ke Sempu. Bukan gara-gara gw ga suka pantai, tapi how to get there-nya itu yang bikin mikir, harus treking 5 jam pp, makjreg! Well, ada sesuatu yang mengharuskan gw ikut dalam trip ini, dan finally I'm in. Butuh perjalanan mobil 4 jam untuk sampe ke Sendang Biru, naik perahu 20 menit, dan treking 2,5 jam. Gezz, jauh, becek, dan ga ada ojek. God help me out of here!

Nyampe di Sempu. Baguuuusssss! Sayang cuman setengah jam. Waktunya cuman abis buat ngaso sama makan siang, bekelan KFC paling enak yang pernah gw makan. Udah ga ada mood sama sekali buat difoto, apalagi moto. Yes, I had 2,5 hours again againts that track. Yet, soooo many spiritual moments yang gw dapetin selama perjalanan pulang, ditambah gw jalan tidak dalam rombongan. Gyaa, it made some me time, with nature, with God. Begitu sampe parkiran mobil langsung sujud sukur dah bareng si Abang, mantep rasanya.

Minggu, day finale at the journey. Wisata kuliner di Malang, ahe! This is I'm waiting for. Makan es krim di Oen, dan bakso bakar Pak Man, maknyess. Baru kali ini makan bakso 55 rebu, 5 bakso kuah malang dan 30 bakso bakar, ahaha. Kenyang, we move on to Surabaya. Di Stasiun Pasar Turi aga shocked dengan ruang tunggunya yang sangat manusiawi, ber AC dan nyaman. Main werewolf, permainan menegangkan dan menyenangkan, fun to the max! Then, Sang Gumarang kembali membawa gw ke rutinitas, ke kehidupan nyata. Mentari Senin segera menanti pengabdian gw untuk negara.

Thanks Allah for this-dreams-come-true-vacation. I'll go back to Malang someday. Great quality time with besties, Teteh, Abang, Nanto, Irir, Sopia, Mamang, Inggit, Darius, I love you all more and more, and thanks for the new relationship with Septi, Rina, Mba Inge, Cici, Hesti, Yoga, and Ara. Ditunggu fotonya.
Photos at fachmyfajri.tumblr.com

Jogjaaa, Jogjaaa!!

Jumat, 13 Mei 2011..
Bung *Yunus* dengan taksinya dateng ngejemput gw, mumun *Febri*, dan kokoh *Ritchie* dengan bawaan minimalis menuju bandara. Kita berempat mau ke Jogja, dateng ke kawinan Opah *Anjar* dan Betti. Well, kedatengan gw kali ini diem-diem, pingin ngasi surprise ke Opah, bilangnya ga dateng soalnya, hehe.

Nyampe di bandara, langsung chek in dan makan. Untung ga delay, kita terbang sejam dan jam8 nyampe di Adisucipto. Kita nginep di rumah sodaranya Kokoh yang super gede dan ga berpenghuni. Jadilah malem pertama gw ga bisa tidur sama sekali, matee. Ditambah Acan yang langsung dari Banjarmasin belom juga dateng, bikin ga tenang bener.

Pas subuh, pas Acan dateng, pas gw laper, haha. Sarapan makan bubur Jakarta! *jauh-jauh ke Jogja, makannya khas Jakarta. Abis mandi ganteng, kita nyewa mobil dan jalan-jalan keliling kotaa, yihaa! Sayang Bung harus pergi sama sodaranya, jadilah tinggal berempat ke Candi Prambanan! My first time being here, ke Ratu Boko, foto-foto di reruntuhan Candi, katanya ini tempat Papahnya Roro Jonggrang. Makan disana, dan murah boi. Bener-bener deh kalo gw idup di Jogja dengan notabene makanan super murah, makin kaya babi badan gw.

At Ratu Boko.
Setelah asik jepret sana-sini di Prambanan, kita balik ke Malioboro. Gyaa, kebanyakan yang dijual, gw jadi binun mao beli apa. Alhasil, nothing! Cuman nemenin Acan sama Bung beli sendal Jogja sama bahan batik. Cape jalan dari ujung ke ujung, kita pulang, mandi, dan ganteng lagi kita, hha. Malemnya makan di restoran, yak gw lupa namanya, dengan sambel yang super duper pedes. Mumun makan lahap kaya kuli ga dikasi makan seminggu. Pulangnya, kita ke Happy Puppy, karokean dengan Dimpil as additional player.

At Prambanan, my first! hehe..
Abis karokean, kita nite trip keliling Jogja dengan temennya Bung yang jadi guide. Kita ngeliat Jogja di malam hari. Lewatin Keraton, muter-muter di alun-alun selatan, terus mesjid raya yang dipake shooting Sang Pencerah, sampe UGM. Sampe mata berat bangett, kita pulang dan tidur.

Minggu pagi, siap-siaplah kita ke Kawinan Opah. So excited, ketemu Nomaa sama Jibo, dan foto bersama kedua mempelai. Jogja lagi panas-panasnya waktu itu, dan kalo uda gitu gw lemes aja bawaannya. Kelar kondangan, kita makan di daerah Keraton, laperrr bangett boi secara ga sempet makan apapun di kondangan tadi. Makan makanan ala raja-raja keraton, enak-enak, dan yang pualing penting itu murah! Gw makan krim sup kentang sama salad, minumnya sarsapilla. Mantep..

Dan, belanja batiiikkk. Kita ke rumah batik, masih di kawasan Keraton. Mantep nii butik, recommended banget. Gw beli lima biji batik buat ngantor, ihiyy. Sampe ahirnya kita nganter Acan ke bandara buat balik ke Banjarmasin, dan kita meneruskan perjalanan darat via jalur selatan dengan Harun sebangai petunjuk dan pengeksekusi jalan. Kita pulang nebeng sama si Harun sampe Bandung. Well, this is my first time naek mobil dari Jawa ke Jakarta. Ga bisa tidur sama sekali, ngeri. Jalanan gelap, lewatin kota, ke kota yang lain. Harun sama Bung in charge banget gantiian nyetir, oh thanks to them.

Sampe Bandung, makan di deket Balai Kota, makan Nasi Bakar sama minum coklat panas, mantep. Setelahnya, karena Harun harus stay di Bandung, kita naik travel deh buat nyampe Jakarta. Lucunya, kita berempat masing-masing naik travel yang beda-beda tujuan. Gw ke Depok, Kokoh ke Slipi, Bung ke Pancoran, dan Mumun ke Ciledug. Dengan sukses gw tidur di samping pa supir selama perjalanan.

Here we are! Happy for you both, Opah n Betti..
That's it. Had a very amazing journey with my besties there. Kayanya masih kurang nih mengeksplore Jogjanya, someday kita jalan-jalan lagi dah. Oke, seeya at Palembang abis lebaran haji yak! :) #kode

Seneng, makanannya murmer banget!!

Lampung! *finally got there*

Yeahh, finally gw ke Lampung juga, ngeliat kampung halamannya Sita, Bung *Yunus*, Fengki, dan Barry, hehe. Kali ini bukan tugas kenegaraan, tapi karena Sita mau kawin, yaa, sobat in crime gw satu ini melangkahi gw untuk berumahtangga! *well, entah berapa orang yang gw bilang melangkahi, salah gw juga yang belom kawin-kawin, haha* --ketawa miris

Pergi naik Sriwijaya Air untuk pertama kalinya, delay untung ga lama. Oia, gw pergi ke Lampung sama Mbe *Dave*, kita dulu pernah sekelas sama Sita juga waktu tingkat 1 di STAN. Perjalanan udara cuman setengah jam, belom kelar degdegan take off, uda harus landing. Sampe Lampung, sepi, dan gw melihat banyak Bung disana secara logat dan muka, haha. Well, thanks to him, gw dijemput, dianterin sampe hotel yang ud di-booked sama Cina *Defi*

Mbe, Tieke, dan Mas Rudi
FYI, gw lagi sakit flu dan radang tenggorokan akut pada saat itu. Automatically, gw lebih milih gletakan di kamar hotel daripada harus jalan-jalan. Daaann, gw dijemput Tieke dan Mas Rudi for dinner. Tieke, Mbe, Sita, gw, dan Vera satu lagi, kita tim belajar bareng pas kuliah, dan I believe, IP gw menjulang pastinya gara-gara mereka. Kalo Mas Rudi, dulu gw suka ngadu sama doi kalo ada apa-apa, haha. Kangen banget, ampir 3 taon ga ketemu. Kita makan dipinggir bukit dengan view lampu kota yang keren. Pulangnya, gw yang lagi ga enak body diajak keliling kota sama mereka. Sepi bener, bersih, dan ingus beleleran.

Minggu pagi, gw bener-bener uda ga ada tenaga lagi. Ditinggal Mbe jalan-jalan muterin alun-alun pusat kota yang ada patung gajahnya, doi bahkan sempet gereja dulu, dan gw dengan sukses tertidur ganteng. Sampe ahirnya dijemput Tieke ke kawinan Sita. Waaa, bahagia rasanya melihat sahabat bersanding dengan pasangan pilihannya, rasanya ingin segera menyusul saja *ini jadi curhat*

Pulangnya, gw tidur lagi. Sampe waktu check out tiba dan gw diculik dan dibawa ke sebuah pantai yang jauhh bener dari kota. Pantainya bersih, gradasi warna lautnya keliatan, pasirnya putih, dan samar terlihat bayangan Sang Krakatoa. Bagus, tapi sayang badan bener-bener ga bisa diajak kompromi. Pulangnya kalap makan bakso Sony, ini bakso paling popular dan ruame se-Lampung. Emang enak sih, cuman ramenya itu ga ada yang ngalahin.

 Setelah numpang mandi di tempat Mas Rudi, gw dan Mbe dianter ke stasiun tempat pangkalan Bis Damri. Oia, gw pingin banget naik bis pulangnya, pingin ngerasain nyebrang Selat Sunda, hehe. Nyaman, naik Damri eksekutif, dengan berbekal KFC dan selimut. Ngerasain naik kapal besar, aga parah sih, sempet ga dapet tempat duduk, sempet mau marah-marah, untung ga jadi. Then finally, nyampe di Gambir dengan oleh-oleh keripik pisang yang aga nyusahin karena kebanyakan, haha.

Yeayy, satu cerita perjalanan lagi. Thanks Cina untuk arrange-nya yang mantep, Mas Rudi dan Tieke untuk guide dan penjemputannya, dan Mbe, thanks uda nemenin gw tanpa takut ketularan flu, haha. Keripik pisang cokelat Lampung emang juara, pullstop.

Langit Lampung, great!!
 

Rasanya Abis Reramean..

Rasanya abis reramean, kumpul sama orang-orang disayang dan jarang ketemu, ketawa cekakak cekikik, lalu harus tiba-tiba sendiri nyetir mobil pulang ditemani ipod bernyanyi lagu kenangan dan gelap malam itu bener-bener bikin hati galau yah, ga keruan rasanya.

Seperti ada separuh jiwa yang tertinggal, masih ingin bercengkrama. Ga kepingin ngeluarin aer mata juga, cuma apa yaa, bingung gw ngebahasainnya. Ah, sesek di dada pokonya. Ya, labil, dan sentimentil total. Ga enak ati.

Pinginnya tereak, muter balik mobil terus ketemu mereka lagi. Cuma bener-bener ga siap aja harus sendiri, harus kembali balik ke rutinitas, tanpa tau kapan kita bisa kumpul cekakakan lagi.

Satu hal yang gw pelajarin, waktu untuk kumpul sama sahabat-sahabat itu mahal. Priceless, ga bisa dibeli atau disubstitusi. Cuma bisa ngikutin takdir, kapan kesempatan bersama itu datang lagi. Cuma bisa harap-harap cemas kapan bisa cekakakan lagi, tanpa ada sedikitpun rasa yang hilang, seperti saat ini.

Ya, buat lo semua, the best of mine, yang udah ngehargain waktu bertemu kita, terima kasih. Ada goresan kenangan yang sulit luput dari benak gw dan ini berharga. Ada jejak kaki yang tak akan terhapus oleh waktu dan usia. Already miss you.
*minggu malam, di sebuah sisi jalan di daerah Buncit, ketika tiba-tiba saja hati saya menjadi tidak karuan.

21 Maret 2011

Geregesan..

Senin pagi, badan ga enak banget. Rasanya pingin banget diem di rumah aja, ga ngelakuin aktivitas apapun, apalagi kerja. Sayang, ga bisa. Gw masih harus ngerjain ini itu yang masih jadi kewajiban. Berangkatlah gw ke Kalibata.

Nyampe Kalibata, badan semakin ga keruan. Konsinyering ini emang bener-bener dah. Ga ada ampun gw dibuat. Batuk, pilek, sekarang pusing sama mual, lengkap tinggal demamnya aja dah. Mata beraer terus setiap ngeliat laptop. Bujug dah pokonya mah.

Sayang berjuta sayang, hari ini gw lembur nyelesain konsep akhir. Untung abis Magrib tadi sempet dikerokin sama dipijit tangan lentiknya Mba Yanti, entah apa jadinya badan gw kalo ga ada Mba gw yang satu itu, hehe. Dan saat ini sudah jam 23.30 malam, baru setengahnya yang dikoreksi, Ya Allah..

Ini mesti gara-gara keujanan kemaren deh. Heran gw, keujanan dikit doang, dari depan Mall masuk ke dalem aja uda begini yak, ujannya juga kecil ga bikin lepek sama sekali. Kenapa antibodi gw lemah banget dah ini, hadehh. Minum es teh dikit aja radangnya ga keruan, ampun-ampun. Ga bisa diajak kompromi bener.

Mungkin ini salah satu dampak jangka panjang dari gw ga dapet ASI dari nyokap kali yaa. Bukan, bukan masut nyalahin beliau. Cuma pengen ngasi tau aja kalo ASI penting banget. Gw juga jarang maen ujan waktu kecil, jadi gitulah kalo kena ujan dikit, puyeng.

Ahh udahlah, malah meracau ga jelas gw. Orang yang sakitnya lebih parah aja masih lebih semangat dan kuat dari gw. Masih banyak yang nyemangati gw. Semangat saya, mudah2an sakit ini bisa ngegugurin dosa-dosa gw yang seabrek yak, amin.

***

Tiba2 aja semangat baca tweet ini:

Hasan_acan
Ya Alloh smoga tmn saya ini dikuatkan..RT @fachmy_fajri: Ya Allahh ga kuaaaat! T.T


duniadianita
@fachmy_fajri waduh...itu bukan gr2 gw. Tp gr2 hujan Mie:( hikz2... Cepet sembuh ya. Semg kerjaan cpt beres dan cpt plg yah...take care


dmiqdas
RT @indri_hapsari: @fachmy_fajri @duniadianita @utinilamsari cepat sembuh amy... :)


RATIHdian
@fachmy_fajri semangaaat pake semangkaa!! :)

Gyahahaaa, thanks guys!

Wara Wiri Dadakan!

Lagi-lagi ngaret. Gw dijemput Dian yang udah stand by dengan si merahnya. Kita plus Indri dan Galih mau jalan ceritanya. Dadakan jadi yang lain ga bisa ikut. Sekalian juga gw mao kondangan temen, biarin aja mereka nungguin di mobil, hehe.

Macet dan ujan. Sabtu ceria banget, sampe akhirnya gw ga jadi dateng kondangan karena uda jam 2 tapi masi di Kalibata dan pastinya uda bubar semuanya kecuali satpam di gedung pesta. Maaf ya Arien jadi ga sempet liat lo di singgasana, semoga berkah pernikahannya, jadi keluarga yang bahagia dan dirahmati Allah. Amin.

First destination, Ambass. Karena tau macet dan pasti ga bakalan dapet parkiran, kita jalan dari Bellagio. Mikirnya deket, tapi mayan deh kaki bekonde. Ditambah Indri jatoh di lobangan pula, hadehh rasanya pingin ngilang. Gw aja yang jalan di belakangnya malu, gimana doi yang jatoh ya! Heuu, tapi puas ketawa ngakak, kalo jalanan ga becek, mau deh gw guling-guling, kekekekk. Tumben bukan gw yang apes.

Masuk Ambas langsung cari toko kacamata langganannya Indri. Dari yang tadinya cuman nemenin Galih beli, jadi gw sama Indri ikut-ikutan. Bodo ah, yang penting punya kacamaya unyu, eh ungu, ahaha. Karena harus nunggu kacamata sekitar dua jaman, akhirnya kita mutusin keluar Ambas, ke Pasar Festival, ngebowling.

Geraaaah, cape, kalah lagi. Tuh bowling Center rame bener, ditambah belom makan dari pagi, bikin ga fokus, kalah deh. *nyari alesan*. Lain kali gw bales kekalahan ini, bukan levelan gw lo Bang, ahaha. Laper, kita makan di Mbah Jingkrak, Setiabudi. Pingin banget masakan Jawa soalnya. Makan kaya kuli ga dikasi makan seminggu, nambah dua porsi dengan lauk yang melimpah, nikmat, Alhamdulillahh.

Kenyang makan dan foto, kita cao lagi ke Ambass, ngambil kacamata. Yihaa, adegan muter-muter tawaf keliling Ambas dan lelarian nguber waktu pun tak terelakan. Galih dan Indri jadi tim yang lari-lari ke tukang kacamata, gw sama Dian jadi tim yang ketawa-ketiwi sambil nyari jalan keluar parkiran. Adil bukan? Ahaha. Jadi ga sempet beli cireng mecin, roti sus, sama dry box buat kamera deh, heu.

Next, dadakan kita ke Bogor, nganter Indri yang harus ke acara kampusnya. Jadilah kita cerita ini-itu di sepanjang Tol Jagorawi. Cekikikan ga keruan, membunuh letih. Muter-muter IPB, ada setitik embun di pangkal mata, seperti membuka kisah lama, kisah ketika Tuhan menantang saya untuk sebuah mimpi yang lebih baik daripada sekedar berlabuh di sana. Ah, udahlah gw kan lagi seneng-seneng, hehe. Nunggu Indri cium tangan sama dosennya sambil dangdutan, kita foto-foto, sabodo teuing diliatin mahasiswa sana.

Dan, dan, dan, kita makan surabi duren, yeeeee! seneng hati, seneng perut. Sayang si Teteh ga ikutan deh. Gw makan sosis telur keju spc, Galih oncom keju spc, Indri duren keju, dan Dian pisang cokelat. Nikmatnyo..

Udah jam11 aja, pulang sambil sharing ini-itu. Kali ini dengan bobot yang lebih berat. Tentang psikologi, filsafah hidup, dan pernikahan. Entah, they always make my day. Thanks ya, walau rencana mau pulang sore, jadi pulang jam 1 malem, tapi saya senang, perut kenyang, sampe pingin kayang.

Lagi yaa..

Paris Pan Japa.. *Subang*

Diawali dengan perbincangan di Warung Tenda Pecel Ayam bersama Dian di bilangan Pintu Air, saya butuh liburan dan ingin sekali ke Bandung. FYI, di tempat ini ayamnya enak, jadi tempat favorit waktu kita berdua masih bareng di Aktuaria. *nostalgia ceritanya*

Sabtu, 19 Februari 2011

Hari ini saya lelahnya buka main. Baru pulang ngelembur jam 5 pagi dan nyampe rumah jam 6, sudah harus jalan lagi ke Bandung, dengan nama liburan, jam7. Beberes seadanyan tanpa sarapan, langsung cao.

Kali ini tidak ada ngaret, tumben. Saya, Dian, Mamang, Teteh, dan Indri, serta Galih di sudah duluan nyampe Bandung. Senangnya.

Well, kali ini saya speechless total. Akhirnya, pernah ke Bosscha, liat teropong gede bener, pernah ke Tangkuban Perahu, pernah muter-muter Bandung ga keruan, pernah berendem aer panas di Ciater, pernah foto di Gedung Sate, pernah makan keju gratis indomie, pernah mengira Subang adalah Paris Van Java, pernah digebrak........... (Degdegan ahh nulisnya, heu..)

Ahaha, dodol emang. Mau jalan-jalan ke Bandung tapi nyari penginapannya di Subang cuma gara-gara pingin berendem tengah malem. Yap, Subang itu emang Paris Van Java deh, kekekekkk.

Saya bahagia, tanpa embel-embel apapun. Thanks to all of you, dapet salam tuh dari Pak Polisi, ups! Oke, kapan-kapan lagi yaa! Kita main-mainan berpacu dalam melodi lagi, tapi taboknya beneran, ahaha.  

Damn, I already miss our togetherness.

Nii fotonya! Asoy.

*bergaya sebelum pulang di depan vila dadakan kita*

*my first time here, asoyyyyy*

*at gedung sate, jam12 malem! -_-"

*abis berendem aer belerang panas, segeerrr!*

*jadi saksi Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi, haha*

*abis nyabu, enak bener buburnya*

Ambegan!!

Waduh, gaswat, gaswat, sekarang makin banyak yang ngecap gw sebagai seorang yang ABG, alias ambegaaan! Oh, no.. Gilakk apa yaa sampe salah satu atasan kerja saya berpendapat begitu, berterus terang kalo Ia berhati-hati dengan sensitivitas saya. Dunia mulai kebalik.

Ya, ya, emang gw akuin kalo gw tukang ngambek, tapi itu kan dulu, waktu masih labil. Oke, sekarang juga masih labil, tapi udah jarang ahh ngambek. Gw uda 23 taun gitu, ngambek is so last year. Sekarang sih kalo ga ngenakin ati mah sudah "asal-cukup-tau-saja".

Apa bedanya dongooo?!
Beda, beda, beda! Dulu itu gw suka ngambek kalo gw ga sreg sama orang. Tenang, ga semua orang ko. Gw cuma ngambek sama orang-orang terpilih, orang yang gw rasa tau bener gw dan tetep aja masih ga ngenakin. Biasanya sama orang-orang terdekat. Kalo yang lain sih bodo amatlah mau ngapain juga. Asal ga ganggu idup gw, ga bakal juga gw ganggu idup lo.

Kalo lagi ngambek biasanya gw diem, mukanya dilipet, ga mau ngomong, bakal nganggep tuh orang ga ada, dan kl kelewatan gw semprot di muka umum. Beberapa kawan lama di kampus tau bener deh kalo uda gini gw harus diapain. Tapi itu dulu, waktu masih abege, bener deh.

Sekarang gw lebih banyak cueknya, anggapannya udah berubah. Ga semua orang terdekat itu mentang-mentang tau gw, harus sama kaya yang gw pikirin. Mereka juga punya kepentingan lain mungkin atau apapunlah tanpa sengaja harus berbeda dari yang gw harapkan.

Sekarang, cukup-tau-aja ampuh tuh. Ga usa nguras-nguras tenaga, ga ada hak juga buat begitu. Ya, gw bakal ngasi jawaban setiap ditanya walau masih kikuk, masih ngasih senyum walau terlihat sedikit dipaksakan. Ga zaman deh buat marah-marah, cuman cukup-tau-aja dan cukup-berurusan-sama-lo. Ya, seterah dehh lo mau ngapain, ga akan gw ambil pusing. Besok-besok dikurangi berurusan sama lo atau memilih tidak berurusan sama sekali. Cukup dewasa bukan? Paling tidak iya untuk saya. *maklum masih labil*

Malu sebenernya nulis ini, aib gw jadi manusia gede ambeknya. Tanpa bertujuan menyakiti siapapun, tulisan ini hanya sebagai pengingat untuk pribadi gw sendiri demi menjadi sesuatu yang lebih baik.
Berjuta-juta maaf untuk orang-orang yang pernah menjadi "korban" gw ambekin. Semoga maaf bisa menghilangkan bekas luka di hati.

Saat Bahagia

Sabtu, 12 Februari 2011.
Bangun kesiangan, yang artinya kesiangan juga jemput Acan. Ya, saudara seperjuangan saya ini datang jauh-jauh dari Borneo sana katanya ingin menemui saya, Opah, dan sekalian dateng ke nikahan Mario. Sudah dua tahun lebih persahabatan kami dipisahkan oleh Laut Jawa dan saya harus menjemputnya hari ini di bandara karena Opah masih tugas.

Perjuangan ke bandara yang luar biasa, empat jam menginjak rem-gas-kopling dan akhirnya bertemu dengannya. Masih seperti yang dulu, bawel, dan bikin emosi. Masih seperti yang dulu, rambut ala sm*sh dan badan cungkring. Masih seperti yang dulu, menyenangkan.

Perjalan diawali dengan perut lapar, nyasar, dan nunggu Opah yang masih cek fisik di salah satu instansi pemerintah. Pusing saya dibuatnya mendengar kata-kata laparnya. Sampai ahirnya Opah selesai dan kami bertiga makan malam di Mbah Jingkrak di bilangan Setia Budi, cozy place with spicy food. Ga sempet foto-foto, langsung cao ke Plaza Indonesia. Muter-muter ga keruan cuma beli barang seserahan nantinya, dan masuklah ke dalam bioskop di eX. Nonton The Mechanic, seat kedua dari depan, ngedongak dua jam, pusing.

Oia, ada kejadian super tolol pas mau pulang. Sejam lebih kita nyari mobil yang lupa di parkir dimana. Oh God, rasanya kaki bekonde. Mana tuh parkiran luas, plus panas. Kita trace back-lah itu memori-memori yang tersisa, dan ketemu. Emang ga salahlah jadi auditor, luar biasa, ahaha. Perjalanan pulang diisi sama diskusi tentang kerjaan, tentang kantor, tentang negara. Saudara seperjuangan memang paling memahami.

Keesokan harinya..
(Lagi-lagi) kesiangan bangun, dateng telat. Kali ini saya hanya sama Acan. Ngurus kepulangannya ke Lion tower di Gajah Mada dan melincur ke Taman Anggrek. Makan siang, nyari sepatu futsal si Acan, dan ngambil cincin kawinnya Opah. Makan kekenyangan, sepatu nihil, dan ga jadi ngambil cincin, bikin ngantuk! *ga nyambung

Tambah Dimas, additional player. Kita ke Sarinah buat nyari sepatu (lagi-lagi nihil) dan sekalian jemput Opah. Tim komplit, kita ke Jakarta Bowling Center. Best part of the day, I did some strikes. Bukan levelan sayalah mereka itu, ahaha. Kapan-kapan kita battle lagi oke?!

Cukup dua game, kita balik ke rumah Opah, mandi, prepare ke kawinan Mario di TMII. Setelah ngomong ngalor ngidul plus nyobain batik jualannya Opah, kita cao. Di kawinan ketemu banyak temen kampus, Pamela, Wulan, Edo, Ade, Martin, dan sisanya saya lupa. Kawinan selesai, perjalanan dua hari kita juga usai. Sempet foto-foto dulu sebelum pisah. Ahh, entah kapan lagi bisa bersama. Acan harus kembali ke Banjarmasin, saya harus kembali ke rutinitas yang membuat sulit bertemu Dimas dan Opah yang notabenenya satu kantor.

Makasii ya, I had a great, great weekend with you, my best! Semoga Tuhan mempersatukan kita kembali di kantor pusat, di waktu yang lebih baik. Amin.

Best quotes kita (#penting):
*apapun itu, yang penting mahal. --minta dibunuh!
*cewe cakep itu belum tentu pinter. Kalopun cakep dan pinter, belum tentu solehah dan umurnya panjang. Tuhan itu Maha Adil.
*laper, laper, laper!!!!

12 Februari 2011

Untukmu..

Takdirlah yang mempertemukan kami, dipersatukan oleh artis favorit wanita yang sama, sisanya semua berbeda. Unik memang, perbedaan yang membuat kami berdampingan, caci maki yang menumbuhkan persaudaraan.

Begitu sebalnya saya ketika orang memiripkan pemikiran dan kesukaan kami, dan pasti dia juga tidak kalah sebalnya, saya yakin itu. Selalu mencari alternatif pemikiran dan kesukaan lain agar tidak terlihat sama walau agak dipaksakan. Tak heran, adu persepsi dan argumen sering menghiasi perjalanan kami, walau pasti diakhiri dengan senyum di hati. Menyenangkan.

Dia bukan orang yang cukup pintar dalam mem-balance-kan debit kredit pada persamaan akuntansi, bukan juga orang yang pandai merangkai kata dalam karya ilmiahnya. Tapi satu hal yang pasti, dia begitu cerdasnya membuat saya terpingkal dengan kelakuannya, meredakan gengsi dan emosi saya, memainkan perannya dengan apik dalam salah satu episode perjalanan saya, memotivasi saya memenangkan kehidupan.

Seperti kata Gibran, "kawanku, kamu dan aku akan tetap asing terhadap kehidupan, terhadap satu sama lain, dan terhadap diri masing-masing, sampai hari ketika kamu berbicara dan aku mendengar, menganggap suaramu suaraku, dan ketika aku berdiri di hadapanmu, mengira diriku berdiri di depan cermin.

Dengan modal memahami, menemani, dan melakukan sesuatu demi saya sudah cukup membuat dirinya ada di dalam doa panjang saya. Ya, saya berdoa semoga Allah selalu mempersatukan dan menjaga tali silaturahmi dan persaudaraan kita hingga akhir hayat, memberikan kesempatan untuk kita memimpin negeri ini, dan tetap menjadikan kita lentera yang bersinar abadi di kala lampu lainnya redup.

Benar Aristoteles berucap bahwa sahabat laksana satu jiwa yang terdapat dalam dua tubuh. Dulu hadirnya adalah sebuah biasa untuk saya, namun ketiadaannya saat ini menjadi sesuatu yang hilang, separuh jiwa saya. Dipisahkan puluhan ribu jarak dan sebuah prinsip yang terlanggarkan.

Semoga, irama indah persahabatan kita tak pernah berganti nada. Langit biru tidak ditutup oleh awan kelabu. Terima kasih, terima kasih telah berperan banyak dalam mewarnai pencarian jati diri saya..

Untukmu, ya saya tau kamu membaca ini. Saya rindu.