Usai sudah pesta demokrasi lima tahunan yang dirayakan oleh rakyat Indonesia. Sebuah pesta janji, mengangkat rakyat kecil setinggi-tingginya, membuai mereka hingga beban hidup terasa semakin ringan saja. Demokrasi dielu-elukan, dipuja-puja bak dewa. Tapi apakah rakyat mengerti bahwa mereka harus menjalankan demokrasi yang sebenar-benarnya? Apakah mereka memilih para wakilnya, presiden dan wakil presiden dengan hati nurani mereka sesuai dengan kapabilitas dan kemampuan yang dipilih?
Lucu, di sisi lain rakyat harus memilih pemimpinnya, yang dipimpin justru saling menjatuhkan di berbagai media. Demokrasi macam apa ini? Yang saya tahu, kampanye itu menaikan derajat dan menyampaikan visi misi sendiri, bukan menjatuhkan calon lain, menggugat visi dan misi mereka.
Memang tak ada yang abadi di dunia politik. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang abadi hanyalah kepentingan. Selama satu visi, satu misi, satu tujuan dan kepentingan, maka jadilah mereka kawan, koalisi atau apalah itu namanya. Tapi, berbeda sedikit saja, memiliki ego sedikit saja, permusuhan dan saling adu mulut yang akan dituai oleh para elite politik itu.
Sebenarnya, apa yang ada dipikiran mereka? Apakah mereka benar-benar akan merealisasikan janji-janji manis mereka? Atau mereka hanya memikirkan janji-janji manis apalagi yang akan mereka buaikan kepada rakyat kecil sehingga dengan fanatisnya rakyat tersebut akan menggiring mereka ke Senayan? Sayang, mereka tak berucap.
Maka sebagai rakyat kecil, pintar-pintarlah kita memilih, menentukan masa depan kita sendiri. Jangan mau terbawa wacana fiktif para tikus politik yang hanya akan mengakomodasi kepentingan mereka. Jangan mau terbawa gosip-gosip buruk tentang satu calon yang muncul dari calon lainnya. Jadilah pemilih yang cerdas dan visioner dalam menentukan nasib bangsa. Pilihan ada di tangan kita, rakyat Indonesia. Kemenangan atas pemilu adalah kemenangan kita sebagai rakyat yang sukses dalam menentukan pilihan. Lanjutkan yang lebih cepat lebih baik, yang pro dengan rakyat!
Minggu, 19 Juli 2009
Semarang Digoyang!
Hari ini bersejarah buat gw. Pertama kalinya gw naek kereta bisnis Jakarta-Semarang sendirian, pertama kalinya ke Stasiun Senen, pertama kalinya menganggap Yunus itu supir gw, pertama kalinya jalan-jalan sendirian di Atrium, dan yang paling penting pertama kalinya ke Semarang tanpa emak gw! Weeeeewww..
Naik bisnis dengan modal cuma seratus ribu, kesan pertamanya parah, parah, panas banget! Ini mah ekonomi versi bagusan dikit ajah. Banyak yang jualan, banyak yang kipas-kipas pake koran, banyak yang ngedumel karena pelayanan yang gag memuaskan, dan lain sebagainya. Gw yang notabenenya kebelet pipis, pas masuk WC gag jadi keluar tuh aer seni, hha.. Pertanyaannya, kenapa gag naek eksekutif aja my??????
Well, gw naek bisnis biar ada temen, Ojan. Tapi tau gitu mah gw pesen tiket eksekutif dari awal! Ojan, ojan, bikin orang spaning ajah lo mah! Hmm, perjalanan yang cukup membuat emosi, hha,, Gw gag bisa tidur, boro-boro dah! Keretanya ngebut banget, uda gitu pake klakson mulu, beuuh bikin parnoo.. Mana tengah malem kelaperan, keausan, kedinginan. Satu hal, obat tidur yang gw minum tidak ampuh sama sekali, bete!
Sampe di Semarang subuh, sekitar jam setengah limaan. Dijemput sama Opah yang bikin bete! Tapi karena uda dijemput yaa harus baik, hhe.. Doi ditemenin Harun dan mana si Ilam bodoh yaa, janjinya mao jemput gw?! Semarang di saat sang surya belum berani mengeluarkan tajinya, aga parno gw. Kota tua di depan mata, ada bendungan yang dibuat buat nampung aer supaya gag banjir, seereeemmmmm..
Sepi, senyap, tak ada tanda-tanda kehidupan malam. Hanya pedagang sayuran yang mau tidak mau harus meningalkan kasur mereka sejak dini hari tadi. Tiba di rumah budenya Opah, hangat, senang! Ada Ilam dengan muka bodohnya (dan percayalah, muka itulah yang selalu berhasil membuat gw tersenyum bahagia, tengz bro!), Kambing yang nemenin gw ngenet subuh-subuh, Ailum yang baru gw kenal, Nyamnyul yang tidur (tetap) dengan muka tuanya, Anggiat dengan kelakuan tidurnya yang anomali, dan Harun yang tidurnya miring. Hhaha, saya senang..
Ahh, memang menyenangkan berkumpul dengan teman-teman. Bersama kami datang ke Pesta pernikahan Indra, seru, deg-degan, dan tetap senang. Sayangnya saya bad mood, ngantuk dan Semarang panaaaassss banget, gag bangetlah buat keluar-keluar sekedar buat foto-foto ajah! Pengen pulang, pengen pulang, pengen pulang..
Beli oleh-oleh di Bandeng Jowanna (am I rite?!), makan siang (lagi) dimanalah itu namanya (lagi-lagi saya lupa! Hmm, tak pernah ingat tepatnya..) bareng-bareng, bikin seneng. Harun dan Anggiat duluan, Ilam juga uda naek bus ke Jogja, kami pun kembali ke rumah budenya Opah. Abis magrib, abis beres-beres seadanya, abis makan malam, abis bersih-bersih badan (gw engga, secara badan gw uda bersih dari sananya, hha..), kami pulang menuju Jakarta (horreee!!) dengan kereta bisnis yang sama ketika gw berangkat. Selamat tinggal Semarang. Nampaknya kita belum cocok dalam membina hubungan, hha! SAYA MASIH MENCINTAI JAKARTA..
Naik bisnis dengan modal cuma seratus ribu, kesan pertamanya parah, parah, panas banget! Ini mah ekonomi versi bagusan dikit ajah. Banyak yang jualan, banyak yang kipas-kipas pake koran, banyak yang ngedumel karena pelayanan yang gag memuaskan, dan lain sebagainya. Gw yang notabenenya kebelet pipis, pas masuk WC gag jadi keluar tuh aer seni, hha.. Pertanyaannya, kenapa gag naek eksekutif aja my??????
Well, gw naek bisnis biar ada temen, Ojan. Tapi tau gitu mah gw pesen tiket eksekutif dari awal! Ojan, ojan, bikin orang spaning ajah lo mah! Hmm, perjalanan yang cukup membuat emosi, hha,, Gw gag bisa tidur, boro-boro dah! Keretanya ngebut banget, uda gitu pake klakson mulu, beuuh bikin parnoo.. Mana tengah malem kelaperan, keausan, kedinginan. Satu hal, obat tidur yang gw minum tidak ampuh sama sekali, bete!
Sampe di Semarang subuh, sekitar jam setengah limaan. Dijemput sama Opah yang bikin bete! Tapi karena uda dijemput yaa harus baik, hhe.. Doi ditemenin Harun dan mana si Ilam bodoh yaa, janjinya mao jemput gw?! Semarang di saat sang surya belum berani mengeluarkan tajinya, aga parno gw. Kota tua di depan mata, ada bendungan yang dibuat buat nampung aer supaya gag banjir, seereeemmmmm..
Sepi, senyap, tak ada tanda-tanda kehidupan malam. Hanya pedagang sayuran yang mau tidak mau harus meningalkan kasur mereka sejak dini hari tadi. Tiba di rumah budenya Opah, hangat, senang! Ada Ilam dengan muka bodohnya (dan percayalah, muka itulah yang selalu berhasil membuat gw tersenyum bahagia, tengz bro!), Kambing yang nemenin gw ngenet subuh-subuh, Ailum yang baru gw kenal, Nyamnyul yang tidur (tetap) dengan muka tuanya, Anggiat dengan kelakuan tidurnya yang anomali, dan Harun yang tidurnya miring. Hhaha, saya senang..
Ahh, memang menyenangkan berkumpul dengan teman-teman. Bersama kami datang ke Pesta pernikahan Indra, seru, deg-degan, dan tetap senang. Sayangnya saya bad mood, ngantuk dan Semarang panaaaassss banget, gag bangetlah buat keluar-keluar sekedar buat foto-foto ajah! Pengen pulang, pengen pulang, pengen pulang..
Beli oleh-oleh di Bandeng Jowanna (am I rite?!), makan siang (lagi) dimanalah itu namanya (lagi-lagi saya lupa! Hmm, tak pernah ingat tepatnya..) bareng-bareng, bikin seneng. Harun dan Anggiat duluan, Ilam juga uda naek bus ke Jogja, kami pun kembali ke rumah budenya Opah. Abis magrib, abis beres-beres seadanya, abis makan malam, abis bersih-bersih badan (gw engga, secara badan gw uda bersih dari sananya, hha..), kami pulang menuju Jakarta (horreee!!) dengan kereta bisnis yang sama ketika gw berangkat. Selamat tinggal Semarang. Nampaknya kita belum cocok dalam membina hubungan, hha! SAYA MASIH MENCINTAI JAKARTA..
Medan, Duty's Call..
Medan, hari pertama..
Ngantukk, bangun pagi-pagi, emak gw ngomel-ngomel coz baju gw masi berarakan dimana-mana! Hha.. Males banget rasanya mao pergi ke Medan, seminggu pula! But it is a duty, I have to go, demi negara tercinta, hadahh.. Naek pesawat Garuda Indonesia, terminal 2F, kaya orang plengo, sendirian. Maenin hape, fesbukan supaya gag nangis, hhe.. Alhamdulillah pesawat terbangnya bagus, smooth landing juga, jadi gag berasa naek ojeg, wkk.. Dijemput orang perwakilan, ngehadap Kalan, ketemu Mba Ncus, ketemu Onny, belum ketemu Faris ma Mas Dadik. Ingin sekali bercengkrama dengan mereka berempat, menggali rasa hangat yang selalu kami simpan. Sekarang harus lebih jaim, gag bisa kaya dulu, kita sudah harus professional di kantor. Saya kangeeeenn bersama kalian. Mulai presentasi matriks (hadaahh, untung ada Bos Nur, hehe,..), makan di Ikan Goreng Cianjur (jauh-jauh ke Medan, makanannya tetep Sunda), dan balik ke hotel. Makan malem di emperan hotel, makan Soto Padang, mirip Soto Betawi, jadi pengen pulang, hha.. Yang bikin parno, Bos Nur nonton film setan dan gw harus berpura-pura tidak takut sehingga menyibukan diri dengan berbagai cara, wkk..
Medan, hari kedua..
Saya semakin rindu Jakarta. Hari ini dimulai dengan mencoba memvalidasi matrik dari perwakilan, tapi gagal karena kebanyakan ngobrol. Makan siang bersama Faris dan Onny di Sun Plaza, mall paling megah se-Medan. Lumayanlah, berbagi rezeki dengan teman-teman yang belum mendapat remunerasi hingga saat ini. Dadik sombonng dah, dia lebih memilih lunch bersama pacar baru dua harinya itu, anak PKL! Wedeh.. Malamnya saya meninggalkan Bos Nur sendirian di hotel, pergi ke Medan Fair naek bentor untuk yang pertama kalinya. Kayak ITC, gda yang spesial, tapi ditraktir makan es krim sama Dadik, lumayan, hhi.. pulangnya juga sendirian naek bentor. Wah, uda kaya penganten sunat dah naek bentor tanpa kap keliling Medan. Ajiiip..
Medan, hari ketiga..
Hari ini diskusi sama tim ProvSu, seru, saya tak paham topik tapi harus berbicara, hha.. makan bareng Pak Yono, sang kasubagset kalan, dan Bos Nur di ruangan. Ngobrol full team, dengan Mba Ncus, Onny, Dadik, dan Faris. Hampir saja saya lepas kontrol, hhi.. ahh, rasanya memang saya harus sedikit terlihat dewasa. Malamnya berencana makan malama sama Mba Ncus namun gagal. Saya harus ikut dengan Bos Nur ditemani oleh Pak Yono dan keluarga makan seafood, lanjut dengan duren Medan, ajip sih, cuman saya kan ga doyan, hhe.. satu hal yang saya dapat malam itu, sahabat kecil yang baru. Yap, anaknya Pak Yono, pintar sekali..
Medan hari keempat..
Hari ini saya dan Bos Nur diantar oleh Pak Pur pergi ke Berastagi. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Lima jam perjalanan bolak-balik. Layaknya puncak yang ada di Bogor yang setiap bulannya saya kunjungi, dingin, indah, dan asik buat berfoto, hhi.. setelah maka siang yang enak, kami berfoto-foto ria, dan mampir ke pemandian air panas di dekat sana sambil melihat pemandangan monyet-monyet yang berkeliaran bebas mencari sesuap kacang dari pengunjung. Pulangnya saya dan teman-teman pergi karokean di Inul Vizta yang notabenenya baru buka. Dua jam cukup untuk mengobati kebiasaan bernyanyiku di ibukota. Setelahnya kami makan pizza di salah satu resto yang cukup terkenal di sana. Seru, serasa anak kuliahan kembali.
Medan, hari terakhir..
Kesiangaaannn, rencana pagi-pagi mao beli oleh-oleh batal. Kita harus buru-buru ke kantor supaya bisa mengejar data-data yang belum masuk. Setelah sempat breakfast bareng Kang Ucup yang juga lagi dinas di Medan, saya langsung cabut ke perwakilan dengan membawa koper segede gaban, dengan duren dan bolu Meranti ditenteng! Beraaaat banget, sampe nambah 11kg bagasi gw, parah.. hari ini paling gw tunggu-tunggu, gw pulang. Tapi kenapa jadi sedih yaa. Ah, andai saja gw bisa membawa keempat teman terbaik gw tersebut ke Jakarta, ke tempat semestinya kita terbang bersama.. Mungkin saat ini belum bisa, tapi suatu saat nanti, kita berkumpul di Jakarta yaa kawan. Terima kasih Medan telah menjamuku dengan pesonamu. Onny, Mba Ncus, Faris, dan Mas Dadik, sampai bertemu di kisah kita selanjutnya. Saya sayang kalian.
Ngantukk, bangun pagi-pagi, emak gw ngomel-ngomel coz baju gw masi berarakan dimana-mana! Hha.. Males banget rasanya mao pergi ke Medan, seminggu pula! But it is a duty, I have to go, demi negara tercinta, hadahh.. Naek pesawat Garuda Indonesia, terminal 2F, kaya orang plengo, sendirian. Maenin hape, fesbukan supaya gag nangis, hhe.. Alhamdulillah pesawat terbangnya bagus, smooth landing juga, jadi gag berasa naek ojeg, wkk.. Dijemput orang perwakilan, ngehadap Kalan, ketemu Mba Ncus, ketemu Onny, belum ketemu Faris ma Mas Dadik. Ingin sekali bercengkrama dengan mereka berempat, menggali rasa hangat yang selalu kami simpan. Sekarang harus lebih jaim, gag bisa kaya dulu, kita sudah harus professional di kantor. Saya kangeeeenn bersama kalian. Mulai presentasi matriks (hadaahh, untung ada Bos Nur, hehe,..), makan di Ikan Goreng Cianjur (jauh-jauh ke Medan, makanannya tetep Sunda), dan balik ke hotel. Makan malem di emperan hotel, makan Soto Padang, mirip Soto Betawi, jadi pengen pulang, hha.. Yang bikin parno, Bos Nur nonton film setan dan gw harus berpura-pura tidak takut sehingga menyibukan diri dengan berbagai cara, wkk..
Medan, hari kedua..
Saya semakin rindu Jakarta. Hari ini dimulai dengan mencoba memvalidasi matrik dari perwakilan, tapi gagal karena kebanyakan ngobrol. Makan siang bersama Faris dan Onny di Sun Plaza, mall paling megah se-Medan. Lumayanlah, berbagi rezeki dengan teman-teman yang belum mendapat remunerasi hingga saat ini. Dadik sombonng dah, dia lebih memilih lunch bersama pacar baru dua harinya itu, anak PKL! Wedeh.. Malamnya saya meninggalkan Bos Nur sendirian di hotel, pergi ke Medan Fair naek bentor untuk yang pertama kalinya. Kayak ITC, gda yang spesial, tapi ditraktir makan es krim sama Dadik, lumayan, hhi.. pulangnya juga sendirian naek bentor. Wah, uda kaya penganten sunat dah naek bentor tanpa kap keliling Medan. Ajiiip..
Medan, hari ketiga..
Hari ini diskusi sama tim ProvSu, seru, saya tak paham topik tapi harus berbicara, hha.. makan bareng Pak Yono, sang kasubagset kalan, dan Bos Nur di ruangan. Ngobrol full team, dengan Mba Ncus, Onny, Dadik, dan Faris. Hampir saja saya lepas kontrol, hhi.. ahh, rasanya memang saya harus sedikit terlihat dewasa. Malamnya berencana makan malama sama Mba Ncus namun gagal. Saya harus ikut dengan Bos Nur ditemani oleh Pak Yono dan keluarga makan seafood, lanjut dengan duren Medan, ajip sih, cuman saya kan ga doyan, hhe.. satu hal yang saya dapat malam itu, sahabat kecil yang baru. Yap, anaknya Pak Yono, pintar sekali..
Medan hari keempat..
Hari ini saya dan Bos Nur diantar oleh Pak Pur pergi ke Berastagi. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Lima jam perjalanan bolak-balik. Layaknya puncak yang ada di Bogor yang setiap bulannya saya kunjungi, dingin, indah, dan asik buat berfoto, hhi.. setelah maka siang yang enak, kami berfoto-foto ria, dan mampir ke pemandian air panas di dekat sana sambil melihat pemandangan monyet-monyet yang berkeliaran bebas mencari sesuap kacang dari pengunjung. Pulangnya saya dan teman-teman pergi karokean di Inul Vizta yang notabenenya baru buka. Dua jam cukup untuk mengobati kebiasaan bernyanyiku di ibukota. Setelahnya kami makan pizza di salah satu resto yang cukup terkenal di sana. Seru, serasa anak kuliahan kembali.
Medan, hari terakhir..
Kesiangaaannn, rencana pagi-pagi mao beli oleh-oleh batal. Kita harus buru-buru ke kantor supaya bisa mengejar data-data yang belum masuk. Setelah sempat breakfast bareng Kang Ucup yang juga lagi dinas di Medan, saya langsung cabut ke perwakilan dengan membawa koper segede gaban, dengan duren dan bolu Meranti ditenteng! Beraaaat banget, sampe nambah 11kg bagasi gw, parah.. hari ini paling gw tunggu-tunggu, gw pulang. Tapi kenapa jadi sedih yaa. Ah, andai saja gw bisa membawa keempat teman terbaik gw tersebut ke Jakarta, ke tempat semestinya kita terbang bersama.. Mungkin saat ini belum bisa, tapi suatu saat nanti, kita berkumpul di Jakarta yaa kawan. Terima kasih Medan telah menjamuku dengan pesonamu. Onny, Mba Ncus, Faris, dan Mas Dadik, sampai bertemu di kisah kita selanjutnya. Saya sayang kalian.
Saya Rindu..
Tak terasa, empat bulan lamanya sudah saya tidak lagi bersama mereka, keluarga besar BPK STAN 2008. Masih terngiang betapa bahagianya kami menjalani hidup selama di Pusdiklat, betapa susahnya kami ketika menjalani ujian bersama, dan betapa harunya ketika malam penuh bintang itu akhirnya datang. Hangat, damai, dan berenergi..
Hari ini, saya memberanikan diri melihat kembali memoar itu dalam sebuah video yang berputar di laptop ini. Ternyata rasa itu belum hilang, mereka masih mampu menggetarkan hati ini. Saya rindu kalian..
Empat bulan ini sangat berat untuk saya. Bukan karena pekerjaan, bukan juga tentang yang lain, tapi tentang kalian. Sekali lagi, saya rindu kalian..
Jarak telah memisahkan kami, begitu jauhnya. Waktu, kesibukan, hingga bentangan laut membuat kami seakan tak pernah berteman. Irama indah tentang kita pun berangsur berganti nada. Awan mendung mulai menyelemuti ceraahnya hati kami. Meski berbeda kini, akan selalu ada serpihan cinta untuk kalian, keluarga besarku..
Hari ini, saya memberanikan diri melihat kembali memoar itu dalam sebuah video yang berputar di laptop ini. Ternyata rasa itu belum hilang, mereka masih mampu menggetarkan hati ini. Saya rindu kalian..
Empat bulan ini sangat berat untuk saya. Bukan karena pekerjaan, bukan juga tentang yang lain, tapi tentang kalian. Sekali lagi, saya rindu kalian..
Jarak telah memisahkan kami, begitu jauhnya. Waktu, kesibukan, hingga bentangan laut membuat kami seakan tak pernah berteman. Irama indah tentang kita pun berangsur berganti nada. Awan mendung mulai menyelemuti ceraahnya hati kami. Meski berbeda kini, akan selalu ada serpihan cinta untuk kalian, keluarga besarku..
Rabu, 29 April 2009
Membuang Penat!
Mungkin bagi kebanyakan orang, tidak ada kegiatan alias libur panjang menjadi sangat menyenangkan. Bisa bangun siang, berbuat semaunya karena tidak ada deadline, mandi sehari sekali, lepe-lepe di tempat tidur, haff aku benci semua itu.
Setelah diklat yang menyenangkan dan penuh dengan berjuta kegiatan itu berakhir, aku mendapatkan jatah libur panjang selama dua minggu sebelum memulai aktivitas baru di kantor. Rasanya ingin sekali cepat-cepat masuk kantor, memulai rutinitas baru, berkarya dan mengabdi kepada bangsa, serta melakukan aktualisasi diri. Yahh, walaupun aku lebih suka jika kita kembali melakukan diklat di Pusdiklat Kalibata bersama-sama.
Terlalu banyak yang ku pikirkan ketika tidak ada kerjaan seperti saat ini. Itulah yang membuat masa melankolisku mengingat teman-teman diklat menjadi lebih lama. Ditambah adanya kenyataan bahwa aku ditinggal bersama dua puluh satu lainnya di Jakarta oleh teman-teman yang lain.
Bosan, penat, kosong, hampa. Aku ingin segera berkarya, melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh para pejuang bangsa. Aku memang bukan pahlawan, tidak pantas menjadi pahlawan. Tapi aku ingin bangsa ini bangga punya ”anak cemen” seperti aku. Biar aku buktikan dalam beberapa tahun, siapa nantinya yang anda sebut ”anak cemen” itu! Doakan aku kawan...
*Dalam waktu dua minggu tersebut, InulVizta dan Nav menjadi makanan keseharianku! wkwkwk,. auditor belum terpakai, artispun jadi!
Setelah diklat yang menyenangkan dan penuh dengan berjuta kegiatan itu berakhir, aku mendapatkan jatah libur panjang selama dua minggu sebelum memulai aktivitas baru di kantor. Rasanya ingin sekali cepat-cepat masuk kantor, memulai rutinitas baru, berkarya dan mengabdi kepada bangsa, serta melakukan aktualisasi diri. Yahh, walaupun aku lebih suka jika kita kembali melakukan diklat di Pusdiklat Kalibata bersama-sama.
Terlalu banyak yang ku pikirkan ketika tidak ada kerjaan seperti saat ini. Itulah yang membuat masa melankolisku mengingat teman-teman diklat menjadi lebih lama. Ditambah adanya kenyataan bahwa aku ditinggal bersama dua puluh satu lainnya di Jakarta oleh teman-teman yang lain.
Bosan, penat, kosong, hampa. Aku ingin segera berkarya, melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh para pejuang bangsa. Aku memang bukan pahlawan, tidak pantas menjadi pahlawan. Tapi aku ingin bangsa ini bangga punya ”anak cemen” seperti aku. Biar aku buktikan dalam beberapa tahun, siapa nantinya yang anda sebut ”anak cemen” itu! Doakan aku kawan...
*Dalam waktu dua minggu tersebut, InulVizta dan Nav menjadi makanan keseharianku! wkwkwk,. auditor belum terpakai, artispun jadi!
From Kalibata With Love!
Baru kali ini, setelah 20 tahun lebih mencintai Jakarta, aku merasa sesak, merasa kota ini tak lagi ramah. Macet yang biasanya sangat menyenangkan kala perjalananku menuju kantor mulai tak terasa. Hingar bingar Jakarta pun hanya menjadi antiklimaks bagi mendung yang menyelimuti hati. Aku rindu kalian, Jakarta hampa tanpa kalian..
Baru kali ini, setelah 20 tahun aku mengenal dan belajar mencintai Indonesia, aku harus mempertanyakan wilayah kekuasaan Indonesia yang begitu luas sehingga lagu Dari Sabang Sampai Merauke justru menjadi luka di hati. Mengapa Indonesia begitu besar, mengapa bukan Jawa saja, atau bahkan Jakarta saja yang disebut Indonesia sehingga aku dapat dengan mudahnya bertemu dengan mereka, teman seperjuanganku di Pusdiklat. Aku sayang kalian, Indonesia seharusnya bangga memiliki aset seperti kalian..
Ahh, aku sadar. Ternyata Indonesia lebih membutuhkan mereka dibandingkan hanya berkumpul bersamaku di sini. Ternyata Indonesia, Dari Sabang Sampai Merauke, selalu menjadi kebanggaan bagi kami, hingga peluh tidak lagi menjadi penting ketika perjuangan itu dimulai. Di sini, di Jakarta, aku menunggu kalian, berharap nasib baik mempertemukan kita kembali..
Selamat memulai episode baru dimanapun kalian berada. Teruskan perjuangan karena Indonesia membutuhkan jiwa-jiwa dashyat kita. Terima kasih telah menemaniku berjuang mangais jati diri selama ini, membuat 2,5 bulan menjadi sangat luar biasa untukku, mendewasakan aku. From Kalibata with love..
*Niatnya mao ditag ke temen2 via fesbuk tapi malas, haha!
Baru kali ini, setelah 20 tahun aku mengenal dan belajar mencintai Indonesia, aku harus mempertanyakan wilayah kekuasaan Indonesia yang begitu luas sehingga lagu Dari Sabang Sampai Merauke justru menjadi luka di hati. Mengapa Indonesia begitu besar, mengapa bukan Jawa saja, atau bahkan Jakarta saja yang disebut Indonesia sehingga aku dapat dengan mudahnya bertemu dengan mereka, teman seperjuanganku di Pusdiklat. Aku sayang kalian, Indonesia seharusnya bangga memiliki aset seperti kalian..
Ahh, aku sadar. Ternyata Indonesia lebih membutuhkan mereka dibandingkan hanya berkumpul bersamaku di sini. Ternyata Indonesia, Dari Sabang Sampai Merauke, selalu menjadi kebanggaan bagi kami, hingga peluh tidak lagi menjadi penting ketika perjuangan itu dimulai. Di sini, di Jakarta, aku menunggu kalian, berharap nasib baik mempertemukan kita kembali..
Selamat memulai episode baru dimanapun kalian berada. Teruskan perjuangan karena Indonesia membutuhkan jiwa-jiwa dashyat kita. Terima kasih telah menemaniku berjuang mangais jati diri selama ini, membuat 2,5 bulan menjadi sangat luar biasa untukku, mendewasakan aku. From Kalibata with love..
*Niatnya mao ditag ke temen2 via fesbuk tapi malas, haha!
GW PENGEN DIKLAAATTT (LAGI!!!)
(Meralat tulisan gw tentang diklat pada posting sebelumnya..!! hehe, maav pemirsa)
Akhirnya Tuhan menjawab semua doa-doa gw. Kebencian gw pada diklat ini perlahan mulai berubah menjadi rasa nyaman yang amat sangat. Gw mulai mencintai diklat ini, mencintai setiap detik yang gw lewati bersama-sama dengan 74 sahabat-sahabat serta Pak Kamto dan Pak Pangat tentunya, mencintai setiap proses yang harus gw hadapi untuk hasil yang indah. Ah, gw cinta ini semua..

Makan sambil ngantri, nunggu semuanya kebagian, uda gag masalh tuh! Justru kita bisa bersenda gurau melepas penat yang ada. Makanan gag enak juga bakalan abis kalo sambil ngobrol, haha! Duduk siap, grakk! Berdoa mulai…. Wah, kangen makan bareng deehh!

Baris?! Seru lagi! Kompak bareng-bareng jalan dari ujung ke ujung, hadap kanan, hadap kiri, jalan di tempat! Waaaw, derap langkah para calon pejabat BPK di masa yang akan datang! Wah, kangen baris bareng deehh!

Tidur sekamar berempat?! Rame kale! Jadi gag takut lagi kalo ada bunyi grek, grek, grek tengah malem. Jadi ada yang ngingetin solat, ada yang makein otem, ada yang ngajak ngobrol sambil meremin mata! Opah yang tukang ngorok, dimpil yang banyak bacot, anggiat yang demen meper di ujung tempat tidur ato tembok. Wah, kangen bobo bareng deehh!

Di kelas bosen?! Itu mah dulu! Sekarang bisa ngobrol mpe berbusa sama semuanya, bisa ngehina-hina orang semau udel gw, hoho! Maavkan saiah kawan-kawan, hehe. Ada Mumu yang bibirnya manyun, Frenki yang tai laletnya (baca:tai kebonya) berlebihan, Kokoh yang matanya cipit kulit putih kaya orang negro (loh?!), dan Yunus yang mukenya tengil, hahaii kita harus memajukan Perguruan Kuda Terbang. Ada juga dua tamagochi gw, Ogi dan Oni. Harun yang suka ngecupin tempat duduk gw di belakang, pokoknya semuanya ada perannya masing-masing sehingga gw senang di dalam kelas. Mengobrol seru dan sesekali tertidur sambil belajar! Wah, kangen sekelas bareng deehh!!

Bosen ketemu orang itu-itu aja?! Gag kog, justru nagih ketemu ma mereka! Maen voli tiap sore udah jadi rutinitas walopun orangnya dia lagi-dia lagi. Ahh, gw gag pernah bosen! Buktinya sekarang nyariin kan?! Haha.. Keluar pake kartu juga ternyata fine-fine aja tuh! Wah, kangen bersama kalian deehh!!

Jumat lama banget?! Justru gw heran, kenapa ahir-ahir ini Jumat dateng begitu cepet yaa! Tiba-tiba aja Mas Oti uda jemput, nungguin di parkiran. Lah, apa sekarang abis Senen itu Jumat yak?! Bodorrr!!! Wah, kangen menjalani hari-hari barengan kalian deehh!!

Apel?! Maknyoos kog! Gw seneng apel, huhuii! Seru nyanyi bareng-bareng, baris di samping Frenki, di belakang Mumu, di depan Yunus, becanda ala babu! Haha.. Nyuruh-nyuruh orang maju buat baca Panca Prasetya Korps RI, ngucapin Pancasila, ato mimpin nyanyi, hoho! Lucu! Pak Kamto dan Pak Pangat juga ada-ada aja, makin hari makin menjadi-fadi, haha! ”Apel Pagi mulai, laporan.....”. Wah, kangen apel bareng kalian deehh!!

Senam Pagi?! Hajar bleehh! Biar gag bisa lari muter-muter, push up, apalagi sit up, tapi seru! Gw uda punya tips dan trik gimana senam pagi tanpa keluar keringat sedikitpun, haha! Jadi tau kalo sunrise di Jakarta juga bagus, apalagi liat bareng temen-temen! ”Untuk senam pagi, buka barisan, jalaaan!!” Wah, kangen senam pagi bareng kalian deehh!!
X
Pokoknya diklat seru, seru, seru!! Dari benci jadi cinta deh. Pengen lagi menjalaninya bareng 74 teman yang lain dan Pak Kamto, Pak Pangat!! Waaa, kangen kalian deehh!!
Akhirnya Tuhan menjawab semua doa-doa gw. Kebencian gw pada diklat ini perlahan mulai berubah menjadi rasa nyaman yang amat sangat. Gw mulai mencintai diklat ini, mencintai setiap detik yang gw lewati bersama-sama dengan 74 sahabat-sahabat serta Pak Kamto dan Pak Pangat tentunya, mencintai setiap proses yang harus gw hadapi untuk hasil yang indah. Ah, gw cinta ini semua..
Makan sambil ngantri, nunggu semuanya kebagian, uda gag masalh tuh! Justru kita bisa bersenda gurau melepas penat yang ada. Makanan gag enak juga bakalan abis kalo sambil ngobrol, haha! Duduk siap, grakk! Berdoa mulai…. Wah, kangen makan bareng deehh!
Baris?! Seru lagi! Kompak bareng-bareng jalan dari ujung ke ujung, hadap kanan, hadap kiri, jalan di tempat! Waaaw, derap langkah para calon pejabat BPK di masa yang akan datang! Wah, kangen baris bareng deehh!
Tidur sekamar berempat?! Rame kale! Jadi gag takut lagi kalo ada bunyi grek, grek, grek tengah malem. Jadi ada yang ngingetin solat, ada yang makein otem, ada yang ngajak ngobrol sambil meremin mata! Opah yang tukang ngorok, dimpil yang banyak bacot, anggiat yang demen meper di ujung tempat tidur ato tembok. Wah, kangen bobo bareng deehh!
Di kelas bosen?! Itu mah dulu! Sekarang bisa ngobrol mpe berbusa sama semuanya, bisa ngehina-hina orang semau udel gw, hoho! Maavkan saiah kawan-kawan, hehe. Ada Mumu yang bibirnya manyun, Frenki yang tai laletnya (baca:tai kebonya) berlebihan, Kokoh yang matanya cipit kulit putih kaya orang negro (loh?!), dan Yunus yang mukenya tengil, hahaii kita harus memajukan Perguruan Kuda Terbang. Ada juga dua tamagochi gw, Ogi dan Oni. Harun yang suka ngecupin tempat duduk gw di belakang, pokoknya semuanya ada perannya masing-masing sehingga gw senang di dalam kelas. Mengobrol seru dan sesekali tertidur sambil belajar! Wah, kangen sekelas bareng deehh!!
Bosen ketemu orang itu-itu aja?! Gag kog, justru nagih ketemu ma mereka! Maen voli tiap sore udah jadi rutinitas walopun orangnya dia lagi-dia lagi. Ahh, gw gag pernah bosen! Buktinya sekarang nyariin kan?! Haha.. Keluar pake kartu juga ternyata fine-fine aja tuh! Wah, kangen bersama kalian deehh!!
Jumat lama banget?! Justru gw heran, kenapa ahir-ahir ini Jumat dateng begitu cepet yaa! Tiba-tiba aja Mas Oti uda jemput, nungguin di parkiran. Lah, apa sekarang abis Senen itu Jumat yak?! Bodorrr!!! Wah, kangen menjalani hari-hari barengan kalian deehh!!
Apel?! Maknyoos kog! Gw seneng apel, huhuii! Seru nyanyi bareng-bareng, baris di samping Frenki, di belakang Mumu, di depan Yunus, becanda ala babu! Haha.. Nyuruh-nyuruh orang maju buat baca Panca Prasetya Korps RI, ngucapin Pancasila, ato mimpin nyanyi, hoho! Lucu! Pak Kamto dan Pak Pangat juga ada-ada aja, makin hari makin menjadi-fadi, haha! ”Apel Pagi mulai, laporan.....”. Wah, kangen apel bareng kalian deehh!!
Senam Pagi?! Hajar bleehh! Biar gag bisa lari muter-muter, push up, apalagi sit up, tapi seru! Gw uda punya tips dan trik gimana senam pagi tanpa keluar keringat sedikitpun, haha! Jadi tau kalo sunrise di Jakarta juga bagus, apalagi liat bareng temen-temen! ”Untuk senam pagi, buka barisan, jalaaan!!” Wah, kangen senam pagi bareng kalian deehh!!
X
Pokoknya diklat seru, seru, seru!! Dari benci jadi cinta deh. Pengen lagi menjalaninya bareng 74 teman yang lain dan Pak Kamto, Pak Pangat!! Waaa, kangen kalian deehh!!
Kisah Kebaikan Hati Seorang Sahabat!
13 Maret 2009
Ngomong sama Mumu dengan gaya bibir yang dimaju-majuin..
“Muuu… Tolongin kumpulin uang dari anak-anak yang mao foto kopi soal-soal tryout PBJ dongg! Goceng Mu, gw gy ribet ngumpulin uang outbond, lo aja yak?! Tolong Muu….”
Dengan semena-menanya gw tereak di depan kelas…
“Oiii, yang mao foto kopi soal-soal PBJ, kumpulin uang ke Mumu, goceng, cepetan..”
Mumu bingung! Banyak yang ngerubutin doi dengan tiba-tiba..
Abis kuliah. Lagi-lagi dengan semena-mena..
”Muu, ayo kita foto kopi soalnya, temenin gw, sekalian loundry baju lo!”
”Cepetaaaaann Mu, lelet amad siiih!”
Mumu, mao aja gw tereak-tereakin. Kita minjem motornya Widi, serem bangeeet! Frenki nitip jaket basah yang bikin kiloan Mumu naek, haha. Kita berangkat ke tukang fotokopian deh, dengan hati yang ikhlas! Ribet dah tuh abangnya, nombok pula! Perginya Mumu yang bawa, pulangnya gw! Pas ada razia polisi, untung gag kena. Tuhan masih ngelindungin kita yaa! Feeling gw tokcer kan?! Haha..
Abis makan malem..
”Muu, ambil fotokopian yuukk, temenin gw tapi jangan malem-malem, gw belom belajar! Pinjem motornya Ardian aja..”
Di parkiran..
”Muu, maab yaa ngerepotin! Mudah-mudahan dengan ikhlas ngebantuin banyak orang kaya gini, repot-repot di kala yang lain belajar, besok kita jadi gampang ngerjain ujiannya! Makasii yaa muu..” *sambil cengar-cengir seperti biasanya, hehe..
Naek motor ngambil fotokopian! Gilaaa, berat cooy sekardus parah! Bensinnya ardian pake abis, waw! Mumu ke Giant pulangnya, gw nitip Hamtaro! Sendirian naek motor ke Pusdiklat bawa-bawa kardus! Untung ada Mba Ncus yang bantuin bawain, berat boyy!memang wanita satu itu sangat perkasa, ya lahirnya yaa jiwanya!n_n
Pulang dari Giant..
”Muu bantuin bagiin dongg! Abis itu kita belajar, oke Mu?!”
Malemnya gw kecapean, tidur, cuma belajar dari satu berkas soal..
Besok pagi pake acara push-up dipermalukan di depan umum bersama Mumu juga gara-gara lengan baju tak dikancing, astaga! Ujian bengong, mengharapkan belas kasihan Tuhan..
13 April 2009
Hasil ujian sertifikasi PBJnya uda keluar, Mumu uda di Samarinda..
”Mu, ujian kita L4, horeeee!!”
Gw cuma mao bilang, makasii berat Mu, maab kerjaan gw ngerepotin lo, menjebak lo melakukan tugas-tugas yang seharusnya tidak lo lakukan! Tapi gw percaya, dengan usaha minimalis gw belajar malemnya dan tiba-tiba dapet L4 pasti gara-gara lo ikhlas nemenin gw melakukan itu semua. Bener kan Mu apa yang gw bilang di parkiran. Tuhan lagi-lagi baik yaa sama kita! Jadi, ayo bareng-bareng kita lakuin semuanya dengan hati, doain gw yaa Mu..

Dedicated for Muammar Fauzy, si kuda manyun.. n_n
(Eh, ada salah dialog gag? Haha..)
Ngomong sama Mumu dengan gaya bibir yang dimaju-majuin..
“Muuu… Tolongin kumpulin uang dari anak-anak yang mao foto kopi soal-soal tryout PBJ dongg! Goceng Mu, gw gy ribet ngumpulin uang outbond, lo aja yak?! Tolong Muu….”
Dengan semena-menanya gw tereak di depan kelas…
“Oiii, yang mao foto kopi soal-soal PBJ, kumpulin uang ke Mumu, goceng, cepetan..”
Mumu bingung! Banyak yang ngerubutin doi dengan tiba-tiba..
Abis kuliah. Lagi-lagi dengan semena-mena..
”Muu, ayo kita foto kopi soalnya, temenin gw, sekalian loundry baju lo!”
”Cepetaaaaann Mu, lelet amad siiih!”
Mumu, mao aja gw tereak-tereakin. Kita minjem motornya Widi, serem bangeeet! Frenki nitip jaket basah yang bikin kiloan Mumu naek, haha. Kita berangkat ke tukang fotokopian deh, dengan hati yang ikhlas! Ribet dah tuh abangnya, nombok pula! Perginya Mumu yang bawa, pulangnya gw! Pas ada razia polisi, untung gag kena. Tuhan masih ngelindungin kita yaa! Feeling gw tokcer kan?! Haha..
Abis makan malem..
”Muu, ambil fotokopian yuukk, temenin gw tapi jangan malem-malem, gw belom belajar! Pinjem motornya Ardian aja..”
Di parkiran..
”Muu, maab yaa ngerepotin! Mudah-mudahan dengan ikhlas ngebantuin banyak orang kaya gini, repot-repot di kala yang lain belajar, besok kita jadi gampang ngerjain ujiannya! Makasii yaa muu..” *sambil cengar-cengir seperti biasanya, hehe..
Naek motor ngambil fotokopian! Gilaaa, berat cooy sekardus parah! Bensinnya ardian pake abis, waw! Mumu ke Giant pulangnya, gw nitip Hamtaro! Sendirian naek motor ke Pusdiklat bawa-bawa kardus! Untung ada Mba Ncus yang bantuin bawain, berat boyy!memang wanita satu itu sangat perkasa, ya lahirnya yaa jiwanya!n_n
Pulang dari Giant..
”Muu bantuin bagiin dongg! Abis itu kita belajar, oke Mu?!”
Malemnya gw kecapean, tidur, cuma belajar dari satu berkas soal..
Besok pagi pake acara push-up dipermalukan di depan umum bersama Mumu juga gara-gara lengan baju tak dikancing, astaga! Ujian bengong, mengharapkan belas kasihan Tuhan..
13 April 2009
Hasil ujian sertifikasi PBJnya uda keluar, Mumu uda di Samarinda..
”Mu, ujian kita L4, horeeee!!”
Gw cuma mao bilang, makasii berat Mu, maab kerjaan gw ngerepotin lo, menjebak lo melakukan tugas-tugas yang seharusnya tidak lo lakukan! Tapi gw percaya, dengan usaha minimalis gw belajar malemnya dan tiba-tiba dapet L4 pasti gara-gara lo ikhlas nemenin gw melakukan itu semua. Bener kan Mu apa yang gw bilang di parkiran. Tuhan lagi-lagi baik yaa sama kita! Jadi, ayo bareng-bareng kita lakuin semuanya dengan hati, doain gw yaa Mu..
Dedicated for Muammar Fauzy, si kuda manyun.. n_n
(Eh, ada salah dialog gag? Haha..)
3 Hari Untuk Selamanya
Jumat, 10 Aril 2009
Awal dari melowdrama weekend buatku. Menemani jam-jam terakhir Ebby dan Kliwon di Bintaro, saling memuji dengan cacian yang seperti biasanya, menyalami mereka, dan mendoakannya. Tugas yang amat sangat berat untuk mereka, menjadi penjaga pintu Timur Indonesia dari serangan musuh. Selamatkan mereka Tuhan..
Tertawa keras namun tak lepas bersama Ilaam, Meta, Riri, dan Ade. Ahh, aku benci tertawa seperti ini, hanya membuat dadaku sesak dan tak bernyawa.
Ternate, Ambon, Jayapura, dan Manokwari, izinkanlah mereka berpijak di tanahmu, mengharapkan rahmat dari-Nya.
Sabtu, 11 April 2009
Mataku sulit untuk terpejam. Hari ini, setengah dari kami akan memulai kehidupan barunya di tanah yang berbeda pada bagian bumi pertiwi yang lain. Satu per satu inboxku penuh dengan sms mereka, memohon diri, meminta doa. Aku menangis.
Hujan yang lebat mengiringi kepergian mereka, membuatku semakin berdekatan dengan sepi dan dingin. Aku masih ingin bersama mereka,
Aceh, Padang, Jambi, Batam, Bangka Belitung, Lampung, Pontianak, Samarinda, Bali, Mataram, Kupang, Palu, Makassar, Mamuju, dan Manado, menjadi lahan baru beribadah untuk mereka. Mudahkan mereka Tuhan, kuatkan mereka..
Minggu, 12 April 2009
Hari yang paling aku takutkan akhirnya datang juga. Mengantarkan Ncus dan Dadik dari Bintaro menuju Medan walau hanya berhenti pada Soekarno-Hatta. Bersama Opah dan Dimas, mengejar waktu, mengejar asa. Mencoba mengikhlaskan sahabat terbaik yang hendak menjalankan amanah di pulau seberang.
Bertemu Ilaam, sayang hanya sesaat. Dia terlihat tegar diantara kerapuhanku. Menahan air mata yang mungkin bisa jadi beban untuknya, untuk keluarganya. Selamat jalan, buktikan janjimu untuk terbang bersamaku menuju puncak suatu saat nanti. Terima kasih telah membuat penggalan episode kehidupanku menjadi lebih bernyawa. Di sini, di Jakarta, kisah dan impian kita dahulu, dimulai.
Kedatangan teman-teman yang bermukim di pusat membuat hati menjadi lebih baik dari sebelumnya. Opah, terima kasih telah menemaniku seharian ini dengan senyuman.
Gorontalo, Medan, Bengkulu, Banten, Jakarta, dan Palembang, menanti mereka mengabdi kepada bangsa, berdakwah di jalan-Nya.
Catatan:
Banjarmasin dan Kendari, here they come! Awal dan akhir keberangkatan teman-teman.
every step I take, every move I made..
every single day, every time I breath..
I’ll be missing you..
Awal dari melowdrama weekend buatku. Menemani jam-jam terakhir Ebby dan Kliwon di Bintaro, saling memuji dengan cacian yang seperti biasanya, menyalami mereka, dan mendoakannya. Tugas yang amat sangat berat untuk mereka, menjadi penjaga pintu Timur Indonesia dari serangan musuh. Selamatkan mereka Tuhan..
Tertawa keras namun tak lepas bersama Ilaam, Meta, Riri, dan Ade. Ahh, aku benci tertawa seperti ini, hanya membuat dadaku sesak dan tak bernyawa.
Ternate, Ambon, Jayapura, dan Manokwari, izinkanlah mereka berpijak di tanahmu, mengharapkan rahmat dari-Nya.
Sabtu, 11 April 2009
Mataku sulit untuk terpejam. Hari ini, setengah dari kami akan memulai kehidupan barunya di tanah yang berbeda pada bagian bumi pertiwi yang lain. Satu per satu inboxku penuh dengan sms mereka, memohon diri, meminta doa. Aku menangis.
Hujan yang lebat mengiringi kepergian mereka, membuatku semakin berdekatan dengan sepi dan dingin. Aku masih ingin bersama mereka,
Aceh, Padang, Jambi, Batam, Bangka Belitung, Lampung, Pontianak, Samarinda, Bali, Mataram, Kupang, Palu, Makassar, Mamuju, dan Manado, menjadi lahan baru beribadah untuk mereka. Mudahkan mereka Tuhan, kuatkan mereka..
Minggu, 12 April 2009
Hari yang paling aku takutkan akhirnya datang juga. Mengantarkan Ncus dan Dadik dari Bintaro menuju Medan walau hanya berhenti pada Soekarno-Hatta. Bersama Opah dan Dimas, mengejar waktu, mengejar asa. Mencoba mengikhlaskan sahabat terbaik yang hendak menjalankan amanah di pulau seberang.
Bertemu Ilaam, sayang hanya sesaat. Dia terlihat tegar diantara kerapuhanku. Menahan air mata yang mungkin bisa jadi beban untuknya, untuk keluarganya. Selamat jalan, buktikan janjimu untuk terbang bersamaku menuju puncak suatu saat nanti. Terima kasih telah membuat penggalan episode kehidupanku menjadi lebih bernyawa. Di sini, di Jakarta, kisah dan impian kita dahulu, dimulai.
Kedatangan teman-teman yang bermukim di pusat membuat hati menjadi lebih baik dari sebelumnya. Opah, terima kasih telah menemaniku seharian ini dengan senyuman.
Gorontalo, Medan, Bengkulu, Banten, Jakarta, dan Palembang, menanti mereka mengabdi kepada bangsa, berdakwah di jalan-Nya.
Catatan:
Banjarmasin dan Kendari, here they come! Awal dan akhir keberangkatan teman-teman.
every step I take, every move I made..
every single day, every time I breath..
I’ll be missing you..
Siiaaaapp Grakk!!
“Siaaaappp graaakkkk…!!”
“Lencang depan, graaakkk…!!”
“Tegak graaakkk…!!”
”Majuuu, jalaaan..!!”

Dari Sabang sampai Merauke
berjajar pulau-pulau
sambung-menyambung menjadi satu
itulah Indonesia..
Indonesia tanah airku
aku berjanji padamu
memnjunjung tanah airku
tanah airku, Indonesia..
“Belok kiri graakkk..!!”

Demi tanah air dan bangsa, yang terus membangun
Demi tercapai cita-cita Pancasila
Siapkanlah jiwa ragamu, hai abdi negara di BPK
Gerak berdasar undang-undang, mengayomi harta negara
Dengan senjata cakra bermata tiga, menjadi satu bersemboyan
Tepat, cermat, dan juga hemat, di bawah tujuh janji luhur
Janganlah segan, janganlah gentar
Laksanakan demi bangsamu
Hayatilah, dan amalkanlah
Sapta Prasetya Jati
”Henti graakkkkkk..!!”
* Rutinitas para calon punggawa keuangan negara pada setiap kesempatan, di bawah kepemimpinan Pak Kamto dan Pak Pangat! Aku rindu kalian...
“Lencang depan, graaakkk…!!”
“Tegak graaakkk…!!”
”Majuuu, jalaaan..!!”
Dari Sabang sampai Merauke
berjajar pulau-pulau
sambung-menyambung menjadi satu
itulah Indonesia..
Indonesia tanah airku
aku berjanji padamu
memnjunjung tanah airku
tanah airku, Indonesia..
“Belok kiri graakkk..!!”
Demi tanah air dan bangsa, yang terus membangun
Demi tercapai cita-cita Pancasila
Siapkanlah jiwa ragamu, hai abdi negara di BPK
Gerak berdasar undang-undang, mengayomi harta negara
Dengan senjata cakra bermata tiga, menjadi satu bersemboyan
Tepat, cermat, dan juga hemat, di bawah tujuh janji luhur
Janganlah segan, janganlah gentar
Laksanakan demi bangsamu
Hayatilah, dan amalkanlah
Sapta Prasetya Jati
”Henti graakkkkkk..!!”
* Rutinitas para calon punggawa keuangan negara pada setiap kesempatan, di bawah kepemimpinan Pak Kamto dan Pak Pangat! Aku rindu kalian...
GW BENCI DIKLAAAATTTT!!
.jpg)
Apa-apaan nih, masa mao makan harus ngantri, nungguin orang laen ngambil! Belom lagi kalo ada yang gag kedapetan makanan, ribut deh! Harus disiapin segala, kaki dihentakin ke lantai! Apa maksudnya coba?! kampreetttttt!!!
Semuanya harus baris kalo mao ngapa-ngapain. Buseng, gw ini mao jadi auditor bukan jadi pasukan pengibat bendera apalagi tentara!
Tidur sekamar berempat, rebutan suhu AC, gag ada teve, gag ada yang beresin, gag ada guling, ribet bener, gag ada privasi lagi, mandi gag bisa lama-lama semau gw, semuanya serba dikejar waktu!
Di kelas bosen, gag ada hiburan! Belajarnya diulang-ulang! Mending kalo jatohnya gw ngerti, nah ini ngantuk, mao tidur susah, mao ngobrol gda yang asik, mao ngenet batre abis, siaaalll... Mbok yaa belajar sendiri aja!
Ahh, ketemunya dia lagi-dia lagi, maleeessss! Pengen lepas cepet-cepet dari penjara kaya gini. Masa mao keluar aja harus pake kartu izin keluar yang cuma ada lima untuk 75 orang. Kapan jatah gw jadinya!!!
Pengen pulang, pengen pulang, pengen pulang. Pengen ketemu nyokap gw, pengen bebas, pengen jalan ma temen-temen gw! Kapan sih Jumat dateng, lama bener rasanya! Gw uda gag tahan nih.. Sebeeellll...
Hah, apel lagi, apel lagi! Cape, bosen dengerin petuah berulang, males baris-baris, gag penting banget. Untung jabatan ketua kelas gw udahan, jadi gag perlu repot-repot lagi ngebarisin orang..
Adoooh, pake acara senam pagi! Males banget sih! Pushup, situp, lari kelilingh pusdiklat, yaelaaaah gag penting banget!
Pokonya nih diklat gag ada bagus-bagusnya buat gw, kamprettt...
*Ditulis pada paruh awal diklat auditor terampil!!
Senin, 06 April 2009
Jadi Pengen Pulangggg...
Hujan mengguyur Jakarta hari ini, deras sekali. Lima belas, enam belas, bahkan dua puluh tahun yang lalu, pada saat yang sama, aku selalu ingin didekapan ibuku. Aku takut derasnya hujan, aku takut kilatan petir, aku takut gema huntur, aku takut jika ibuku belum sampai di rumah. Aku menangis..
Sekarang aku mencintai hujan, aku senang berada dalam lebatnya air yang turun dari langit itu. Sebuh anugerah Tuhan yang datang begitu saja dari awan-awan di atas sana. Hujan menyimpan begitu banyak kenangan dalam hidupku, seolah menjadi saksi bisu betapa ibu sangat mencintai aku.
Hujan deras hari ini mengingatkanku pada percikan kasih yang lebih hebat dari hati ibuku, membuat hatiku bergetar karena gema rindu padanya. Bahkan aku tak sanggup melukiskannya melalui kata-kata. Aku menangis..
Aku yang selalu merindukan kehadiran hatimu
Aku yang selalu menantikan senyum ketulusanmu
Aku yang selalu mengharapkan untaian doamu
Aku yang selalu menunggu dekapan hangatmu
Aku yang menjadi saksi hidup perjuanganmu, Ibu
Hari ini, detik ini, ingin sekali aku datang kepadamu, mencium tanganmu, memeluk tubuh mungilmu, dan berbisik ” Aku mencintaimu di sepanjang jalanku, di setiap derasnya aliran sungaiku..”
Sekarang aku mencintai hujan, aku senang berada dalam lebatnya air yang turun dari langit itu. Sebuh anugerah Tuhan yang datang begitu saja dari awan-awan di atas sana. Hujan menyimpan begitu banyak kenangan dalam hidupku, seolah menjadi saksi bisu betapa ibu sangat mencintai aku.
Hujan deras hari ini mengingatkanku pada percikan kasih yang lebih hebat dari hati ibuku, membuat hatiku bergetar karena gema rindu padanya. Bahkan aku tak sanggup melukiskannya melalui kata-kata. Aku menangis..
Aku yang selalu merindukan kehadiran hatimu
Aku yang selalu menantikan senyum ketulusanmu
Aku yang selalu mengharapkan untaian doamu
Aku yang selalu menunggu dekapan hangatmu
Aku yang menjadi saksi hidup perjuanganmu, Ibu
Hari ini, detik ini, ingin sekali aku datang kepadamu, mencium tanganmu, memeluk tubuh mungilmu, dan berbisik ” Aku mencintaimu di sepanjang jalanku, di setiap derasnya aliran sungaiku..”
Voli Girang!!
Senangnya bisa bermain voli bersama teman-teman di wisma setiap sore, setelah menimba ilmu di kelas yang membuat mata terkatup dengan mudahnya. Mengingatkanku pada beberapa tahun yang lalu dimana aku belajar bermain voli bersama teman-teman SMP. Setiap Senin sore, kami selalu belajar memukul si bundar itu. Namun ada yang berbeda kala ku bermain voli kali ini. Aku bahagia...
Aku benci berkeringat, tetapi tidak kali ini. Aku menikmati setiap detik yang berlalu, berkeringat memainkan bola, tertawa lepas, bahagia sekali. Tidak ada yang hebat di antara kami, tapi hati tetap senang. Setiap smash yang melayang jauh, setiap loncatan yang berujung cedera, setiap serve yang melenceng entah kemana, setiap umpan yang menjadi boomerang, setiap cerca yang mempersatukan hati kami, aku bahagia...
Ahh, momen itu memang indah sekali, tak akan terlupakan atau hilang dimakan waktu hingga suatu saat nanti, kami akan berkumpul bersama kembali di lapangan voli itu, memeriahkan setiap sore indah yang dihadiahi Tuhan dengan canda dan tawa. Aku bahagia...
”Coy, coy, coy..Udah gag ujan tuh, gag ada mobil pula!! Maen voli girang nyoookk..Ambil bolanya di mas-mas resepsionis yak, pompanya Izul ada di kamar gw! Ajak anak-anak yang laen, turun duluan gih, bantuin anak-anak pasang net! Gw solat dulu, ntar gw yang samperin anak-anak lantai tiga....”
Tentang Hadiah dari Bu Wati..
Selasa 17 Februari 2009, aku tersentak! Setelah jalan jongkok masal gara-gara baris tak rapih, aku mendapat message dari Bu Wati, ada titipan katanya. Pikirku, ada surat atau apapun yang tertinggal di ruang MIA yang ingin dikembalikan padaku, Dimas, atau Popon. Beliau menelpon tapi aku tak mendengar, menyesal tak mendengar suaranya.
Jam 12,45, setelah makan siang, aku menemuinya sedang duduk sendiri. Berencana mengagetkannya tapi sudah kepergok, hehe! Setelah mencium tangannya, tiba-tiba beliau kembali ke kelasnya dan mengambil sekantong plastik kado untuk kami bertiga yang dibungkus rapih dengan kertas koran. ”Ini ada titipan untuk nemenin begadang di wisma”, kata-katanya begitu ampuh membuatku ingin menangis dan memeluknya.
Aku tidak kekurangan makanan sama sekali, aku pun tidak suka begadang seperti apa katanya. Namun hadiah itu sanggup membuat hatiku tersenyum. Semua orang bertanya, ”Itu apa? Dari siapa?”, dengan bangga aku menjawab, ”Dari Bu Wati, ibuku tersayang di kantor!” Senang rasanya mendapat bungkusan itu. Satu hari dari sekian hari yang ku jalani di Pusdiklat, dimana aku tak terpikir untuk pulang ke rumah.
Malamnya bersamka Dimas dan Popon kami menikmati hadiah itu. Ingin rasanya makan bersama beliau, seperti yang setiap hari kami lakukan ketika magang kemarin. Terima kasih dari hatiku yang paling dalam untuk cinta yang tercurah. Bahagia rasanya diberikan hadiah itu, walaupun kehadirannya di sini sudah berbentuk anugerah untukku. We love you, Ibu Wati..
Jam 12,45, setelah makan siang, aku menemuinya sedang duduk sendiri. Berencana mengagetkannya tapi sudah kepergok, hehe! Setelah mencium tangannya, tiba-tiba beliau kembali ke kelasnya dan mengambil sekantong plastik kado untuk kami bertiga yang dibungkus rapih dengan kertas koran. ”Ini ada titipan untuk nemenin begadang di wisma”, kata-katanya begitu ampuh membuatku ingin menangis dan memeluknya.
Aku tidak kekurangan makanan sama sekali, aku pun tidak suka begadang seperti apa katanya. Namun hadiah itu sanggup membuat hatiku tersenyum. Semua orang bertanya, ”Itu apa? Dari siapa?”, dengan bangga aku menjawab, ”Dari Bu Wati, ibuku tersayang di kantor!” Senang rasanya mendapat bungkusan itu. Satu hari dari sekian hari yang ku jalani di Pusdiklat, dimana aku tak terpikir untuk pulang ke rumah.
Malamnya bersamka Dimas dan Popon kami menikmati hadiah itu. Ingin rasanya makan bersama beliau, seperti yang setiap hari kami lakukan ketika magang kemarin. Terima kasih dari hatiku yang paling dalam untuk cinta yang tercurah. Bahagia rasanya diberikan hadiah itu, walaupun kehadirannya di sini sudah berbentuk anugerah untukku. We love you, Ibu Wati..
Menghitung Hari
4 hari lagi..
Senin, 12 Januari 2009 ada upacara ulang tahun BPK yang ke-62 di lapangan. Gw gag ikutan, ngabur bles di ruang rapat sama Popon dan Dimas. Ujan deres banget sampe yang upacara bajunya basah kuyup, hehe! Hari ini juga Pa Eko nunjuk gw dengan semena-menanya sebagai manajer tim futsal, alhasil kalah deh! haha, gw emang dodol soal beginian.. Sorenya, gw latiah vocal group mpe setengah tujuh dan dijemput, horee!!
3 hari lagi..
Selasa, 13 Januari 2009 latian vocal group mpe jam delapan malem di Dephan mpe apal lirik, haha, susahnya tuh lagu batak. Cape banget, tapi seru. Untungnya pulang dijemput lagi jadi bisa bobo di mobil. Hari ini ada acara serah terima dari BPPK ke BPK di Auditorium. Ada Pak Anis, Bu Lis, Pa Kus, dan rombongan lainnya. Gw juga ngeliat Pak Sekjen buat pertama kalinya dari deket. Telat, telat, telat, 58 detik!!
2 hari lagi..
Rabu, 14 Januari 2009 ada lomba vocal group. Pret, tim gw cuma masuk nominasi 5 terbaik, tapi ga dapet juara! Sediiih, hehe! Dari pagi uda ribet ngurusin persiapan nyanyi plus beli minum buat maen futsal (masih inget gw ditunjuk sebagai manajer futsal yang gag becus?! Haha..), futsalnya menang tapi gag masuk babak berikutnya cui. Siangnya gw ke Semanggi buat maem bareng bejo, naek taksi tiara express (gaya dah naek alphard! Hehe). Pulang dari situ bikin laporan keuangan dari rekening koran, mampus gw!
Sehari lagi..
Kamis, 15 Januari 2009 gw naek kereta lagi, ujan, ujan, ujan, deres banget. Hari ini gw wawancara ma Bu Ana, hampir sejam sendiri gw ngerumpi di dalem ruangannya, mudah-mudahan bisa nolong gw penempatan di Jakarta deh, amin!!! Ketemu Pa Padang juga, ngobrol ma Mba Iim, sesiangan (jiah, setengahnya seharian nih ceritanya! Haha,,).. Hmm, dapet training baru pula dari kantor, hehe! Hah, seharian di kantor bener-bener gag kerasa sekarang! Baru ngejogrok sebentar, tiba-tiba uda maem siang, ngejogrok lagi uda bunyi lagu pulang. Cepet kann?! Hari ini kumpul semua di ruangan, minus Mba Ane ajah!
Hari terakhir..
Jumat, 16 Januari 2009, hari yang sangat gw benci karena hari ini status magang gw di AKN I berakhir. Siang pergi untuk pertama kalinya ke pasar Benhil sama Dimas nyari lentera Korpri, muter-muter pasar ujan-ujan. Sorenya semua berkumpul di ruangan yang akan selalu gw, Popon, dan Dimas rindukan. Lengkap, kap, kap, selekap-lengkapnya! Sampai akhirnya salam perpisahan tercetus dari mulut kami. Susah bener nahan aer keluar dari mata, tapi gw berhasil kawan, paling gag ditahan beberapa jam, wekekekek! Senja telah menjemput, tapi beberapa anak magang, masih terdiam malas beranjak dari tempat parkir. Hah, mungkin itu terakhir kalinya kami melihat gedung itu bersama-sama...
Hari ini..
Jumat, 13 Februari 2009, sudah hampir sebulan lamanya gag ngeliat ruangan itu, gedung itu, beserta keramahan di dalamnya. Hari ini gw duduk sendiri di lorong wisma, di depan kamar 203, mencoba mangangkat diri dari kejenuhan dan keterjatuhan yang gw buat sendiri. Rindu bersama mereka, rindu gelak tawa dan riuh canda yang terucap dari bibir mereka, Bu Wati, Pa Mar, Mba Maya, Mba Ane, Mas Aat, Mas Danar, dll.
Senin, 12 Januari 2009 ada upacara ulang tahun BPK yang ke-62 di lapangan. Gw gag ikutan, ngabur bles di ruang rapat sama Popon dan Dimas. Ujan deres banget sampe yang upacara bajunya basah kuyup, hehe! Hari ini juga Pa Eko nunjuk gw dengan semena-menanya sebagai manajer tim futsal, alhasil kalah deh! haha, gw emang dodol soal beginian.. Sorenya, gw latiah vocal group mpe setengah tujuh dan dijemput, horee!!
3 hari lagi..
Selasa, 13 Januari 2009 latian vocal group mpe jam delapan malem di Dephan mpe apal lirik, haha, susahnya tuh lagu batak. Cape banget, tapi seru. Untungnya pulang dijemput lagi jadi bisa bobo di mobil. Hari ini ada acara serah terima dari BPPK ke BPK di Auditorium. Ada Pak Anis, Bu Lis, Pa Kus, dan rombongan lainnya. Gw juga ngeliat Pak Sekjen buat pertama kalinya dari deket. Telat, telat, telat, 58 detik!!
2 hari lagi..
Rabu, 14 Januari 2009 ada lomba vocal group. Pret, tim gw cuma masuk nominasi 5 terbaik, tapi ga dapet juara! Sediiih, hehe! Dari pagi uda ribet ngurusin persiapan nyanyi plus beli minum buat maen futsal (masih inget gw ditunjuk sebagai manajer futsal yang gag becus?! Haha..), futsalnya menang tapi gag masuk babak berikutnya cui. Siangnya gw ke Semanggi buat maem bareng bejo, naek taksi tiara express (gaya dah naek alphard! Hehe). Pulang dari situ bikin laporan keuangan dari rekening koran, mampus gw!
Sehari lagi..
Kamis, 15 Januari 2009 gw naek kereta lagi, ujan, ujan, ujan, deres banget. Hari ini gw wawancara ma Bu Ana, hampir sejam sendiri gw ngerumpi di dalem ruangannya, mudah-mudahan bisa nolong gw penempatan di Jakarta deh, amin!!! Ketemu Pa Padang juga, ngobrol ma Mba Iim, sesiangan (jiah, setengahnya seharian nih ceritanya! Haha,,).. Hmm, dapet training baru pula dari kantor, hehe! Hah, seharian di kantor bener-bener gag kerasa sekarang! Baru ngejogrok sebentar, tiba-tiba uda maem siang, ngejogrok lagi uda bunyi lagu pulang. Cepet kann?! Hari ini kumpul semua di ruangan, minus Mba Ane ajah!
Hari terakhir..
Jumat, 16 Januari 2009, hari yang sangat gw benci karena hari ini status magang gw di AKN I berakhir. Siang pergi untuk pertama kalinya ke pasar Benhil sama Dimas nyari lentera Korpri, muter-muter pasar ujan-ujan. Sorenya semua berkumpul di ruangan yang akan selalu gw, Popon, dan Dimas rindukan. Lengkap, kap, kap, selekap-lengkapnya! Sampai akhirnya salam perpisahan tercetus dari mulut kami. Susah bener nahan aer keluar dari mata, tapi gw berhasil kawan, paling gag ditahan beberapa jam, wekekekek! Senja telah menjemput, tapi beberapa anak magang, masih terdiam malas beranjak dari tempat parkir. Hah, mungkin itu terakhir kalinya kami melihat gedung itu bersama-sama...
Hari ini..
Jumat, 13 Februari 2009, sudah hampir sebulan lamanya gag ngeliat ruangan itu, gedung itu, beserta keramahan di dalamnya. Hari ini gw duduk sendiri di lorong wisma, di depan kamar 203, mencoba mangangkat diri dari kejenuhan dan keterjatuhan yang gw buat sendiri. Rindu bersama mereka, rindu gelak tawa dan riuh canda yang terucap dari bibir mereka, Bu Wati, Pa Mar, Mba Maya, Mba Ane, Mas Aat, Mas Danar, dll.
Sabtu, 14 Februari 2009
Aku Telah Sampai Di Ujung Jalan Itu, Kawan!
Sebuah lirik lagu yang tiba-tiba terputar di laptop ini, membuat senandungnya ikut berputar di otakku!
“Tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini...”
Lagu bertemakan persahabatan yang sudah lama tak kudengar. Huff, lebih tepatnya kuhindari untuk didengar.
Sahabat sejati, tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini..
Tapi bagaimana caranya aku bisa menghilangkan ingatanku pada ujung perjalanan tersebut?!
Padahal aku tahu bahwa setiap jalan ada ujungnya.
Padahal aku tahu bahwa aku tidak akan mampu menelusuri sisa perjalananku tanpamu.
Padahal aku tahu betapa bahagaianya jika aku bersamamu pada perjalananku.
Padahal aku juga tahu bahwa ujung perjalanan itu mungkin ada di depanku.
“Tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini...”
Lagu bertemakan persahabatan yang sudah lama tak kudengar. Huff, lebih tepatnya kuhindari untuk didengar.
Sahabat sejati, tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini..
Tapi bagaimana caranya aku bisa menghilangkan ingatanku pada ujung perjalanan tersebut?!
Padahal aku tahu bahwa setiap jalan ada ujungnya.
Padahal aku tahu bahwa aku tidak akan mampu menelusuri sisa perjalananku tanpamu.
Padahal aku tahu betapa bahagaianya jika aku bersamamu pada perjalananku.
Padahal aku juga tahu bahwa ujung perjalanan itu mungkin ada di depanku.
Fitur Menarik 1A
Gag kerasa udah hampir dua bulan gw kerja di BPK, uda hampir dua bulan rute perjalanan gw berubah, tadinya Depok-Bintaro via Ciputat jadi Depok-Slipi via Mampang. Hmm, sampai saat ini sih di perjalanan sangat menyenangkan. Macet yaa dinikmatin aja, seneng malah (haha, psiko!). dan yang paling penting, selama hampir dua bulan ini juga gw bangun tiap pagi jam 5! Waaaw, rekor banget buat dunia perbangunan gw, haha emang sii kecuali Sabtu Minggu. Ini dua hari mah gw bangun jam 5 sore! Wkwkwk,,
Kerja kata orang lebih cape, lebih membosankan, lebih gag enak, dan emang bener banget kaya gitu, sekarang gw gag bisa lagi ketawa ngakak kaya di kelas waktu masih kuliah, gag bisa lagi ngatain orang semau udel gw (lah, gimana bisa ngatain, ngomong aja degdegan, eselon oiii!!!hahah,,), gag bisa males-malesan dan ngobrol sepanjang hari, semuanya terlihat lebih kaku. Tapi semua hal tersebut hilang ketika gw untuk sementara waktu ditempatkan di MIA AKN I.A.
Bener banget kata seseorang kalo MIA IA bikin lo nyaman, bikin lo seneng buat dateng ke kantor, dan bikin lo gag ngerasa kalo lo udah one step ahead ke dunia perkantoran. Ya, gw ngerasa kalo ruangan adalah rumah gw, gag boleh berantakan, dan pewe! Hehe.. Merekalah yang membuat gw sampe sepewe itu, sampe membuat gw bertahan dari rutinitas yang sangat menjemukan itu.
Bu Wati yang baiiiikkkk banget, yang memerankan figur ibu di ruangan sehingga gw merasa terlindungi dari masalah apapun, seorang eselon IV yang membumi. Makasih yaa bu buat semuanya, ibu telah menerima kami, membimbing kami menapaki dunia yang baru buat kami, menyapa kami dengan kasih sayang. Gag pernah sama sekali gw merasa disuruh, demi nama Tuhan, sampai saat ini gw ikhlas nemenin lembur atau disuruh apapun sama ibu yang satu ini. Maaf yaa bu, kalo selama ini Amy cuma bisa jadi sampah yang gag bisa apa-apa. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan ibu, amin!
Pa Mar yang lucu dan bersahabat, yang sangat berjiwa muda dan menyenangkan buat gw kerjain, hehe! Nii bapak satu walopun Juni 2009 bakalan pensiun tapi masi aja punya semangat yang luar biasa sehingga nularin gw untuk lebih bersemangat menghadapi pekerjaan. Dia yang selalu bikin suasana menjadi renyah karena guyonannya, membuat hati ikut tersenyum di setiap kesempatan. Makasih yaa pa buat persahabatan unik kita, maafin kalo Amy banyak gag ngertinya, hehe! Semoga bapa sehat selalu dan tetep bersemangat. Inget loh, bapa pernah janji mao ngasih selamat kalo Amy jadi kepala auditorat kaya Pa Mahendro!
Mba Maya, Mba Ane, dan Mas Aat yang membuat gw merasa muda, karena mereka sudah tua, haha! Mba Ane yang nyebelin tapi bikin nagih (loh?!), yang tiap abis istirahat jadi pelayan restoran di lapotopnya, hehe. Mas Aat yang sering terlibat perbincangan aneh dengan Dimas dan Mas Erik, yang sedang meratapi nasibnya karena dijodohin sama Hendra, haha, Mba Maya yang jadi temen bertukar pikiran yang oke, yang sering banget curcol di setiap kesempatan dan cukup lumayan buat dijadikan sasaran caci, hihi. Makasih banyak atas kerja sama dan pertemanannya. Ayo kita berlomba-lomba menapaki karier di BPK! Maaf yaa kalo keseringan becanda. Gw bakalan kangen berat sarapan bubur di ruang rapat barengan lo semua. Mba Ane, cepetan kawin, inget umur udah hampir kepala tiga, hehe! Mba Maya, kapan mao gw temenin keliling Jakarta yang indah ini?!n_n
Hmm, masi banyak lagi deh yang seliweran tiap hari di ruangan. Mba Ani yang dibilang sesepuh ruangan (hehe!), Mas Erik yang kayanya kerjaannya lebih banyak di MIA daripada di Setpim, Mas Nurdi yang lucu dengan kemedokannya, Mba Kiki yang terlihat cerdas dan abis hamil (hoho!), Mba Luci yang imut-imut, Mba Tina yang rame, nyengiiiirr melulu, dan gag pernah pake rok, haha!, Hendra, Mba Eva, Mba Dini, Pa Tigno, Pa Agus, Mba Rina di ruang sebelah, Mas Farhan dan Mas Danar yang jadi musuh orang bawah karena sering nganterin kerjaan, Pa Eko, dan banyaaakk lainnya. Tentunya Pa Mahendro, sebagai pemeran utama di Auditorat 1A, makasih banyak yaa pa!
Gag kerasa uda hampir selesai gw bertugas di sana, di ruangan yang penuh dengan kehangatan itu. Sekarang saatnya gw kembali berjuang di tempat lain, Pusdiklat Kalibata (Alhamdulillah gag jadi di Makassar!). Terima kasih untuk semua kasih yang uda diberikan buat gw, untuk semua ilmu yang menjadi bekal gw melangkah lebih gagah, dan untuk semua senyuman itu. Tolong doain Amy yah, supaya makin mantap menjalani hidup dan menatapi karier, aminn! Sampai bertemu di lain kesempatan. n_n
LOVE U, ALWAYS.....
Note:
Tengz berat buat Popon sama Dimas yang uda jadi partner yang menyenangkan dan dapat diandalkan. Kapan yah kita bisa satu ruangan lagi?!
Kerja kata orang lebih cape, lebih membosankan, lebih gag enak, dan emang bener banget kaya gitu, sekarang gw gag bisa lagi ketawa ngakak kaya di kelas waktu masih kuliah, gag bisa lagi ngatain orang semau udel gw (lah, gimana bisa ngatain, ngomong aja degdegan, eselon oiii!!!hahah,,), gag bisa males-malesan dan ngobrol sepanjang hari, semuanya terlihat lebih kaku. Tapi semua hal tersebut hilang ketika gw untuk sementara waktu ditempatkan di MIA AKN I.A.
Bener banget kata seseorang kalo MIA IA bikin lo nyaman, bikin lo seneng buat dateng ke kantor, dan bikin lo gag ngerasa kalo lo udah one step ahead ke dunia perkantoran. Ya, gw ngerasa kalo ruangan adalah rumah gw, gag boleh berantakan, dan pewe! Hehe.. Merekalah yang membuat gw sampe sepewe itu, sampe membuat gw bertahan dari rutinitas yang sangat menjemukan itu.
Bu Wati yang baiiiikkkk banget, yang memerankan figur ibu di ruangan sehingga gw merasa terlindungi dari masalah apapun, seorang eselon IV yang membumi. Makasih yaa bu buat semuanya, ibu telah menerima kami, membimbing kami menapaki dunia yang baru buat kami, menyapa kami dengan kasih sayang. Gag pernah sama sekali gw merasa disuruh, demi nama Tuhan, sampai saat ini gw ikhlas nemenin lembur atau disuruh apapun sama ibu yang satu ini. Maaf yaa bu, kalo selama ini Amy cuma bisa jadi sampah yang gag bisa apa-apa. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan ibu, amin!
Pa Mar yang lucu dan bersahabat, yang sangat berjiwa muda dan menyenangkan buat gw kerjain, hehe! Nii bapak satu walopun Juni 2009 bakalan pensiun tapi masi aja punya semangat yang luar biasa sehingga nularin gw untuk lebih bersemangat menghadapi pekerjaan. Dia yang selalu bikin suasana menjadi renyah karena guyonannya, membuat hati ikut tersenyum di setiap kesempatan. Makasih yaa pa buat persahabatan unik kita, maafin kalo Amy banyak gag ngertinya, hehe! Semoga bapa sehat selalu dan tetep bersemangat. Inget loh, bapa pernah janji mao ngasih selamat kalo Amy jadi kepala auditorat kaya Pa Mahendro!
Mba Maya, Mba Ane, dan Mas Aat yang membuat gw merasa muda, karena mereka sudah tua, haha! Mba Ane yang nyebelin tapi bikin nagih (loh?!), yang tiap abis istirahat jadi pelayan restoran di lapotopnya, hehe. Mas Aat yang sering terlibat perbincangan aneh dengan Dimas dan Mas Erik, yang sedang meratapi nasibnya karena dijodohin sama Hendra, haha, Mba Maya yang jadi temen bertukar pikiran yang oke, yang sering banget curcol di setiap kesempatan dan cukup lumayan buat dijadikan sasaran caci, hihi. Makasih banyak atas kerja sama dan pertemanannya. Ayo kita berlomba-lomba menapaki karier di BPK! Maaf yaa kalo keseringan becanda. Gw bakalan kangen berat sarapan bubur di ruang rapat barengan lo semua. Mba Ane, cepetan kawin, inget umur udah hampir kepala tiga, hehe! Mba Maya, kapan mao gw temenin keliling Jakarta yang indah ini?!n_n
Hmm, masi banyak lagi deh yang seliweran tiap hari di ruangan. Mba Ani yang dibilang sesepuh ruangan (hehe!), Mas Erik yang kayanya kerjaannya lebih banyak di MIA daripada di Setpim, Mas Nurdi yang lucu dengan kemedokannya, Mba Kiki yang terlihat cerdas dan abis hamil (hoho!), Mba Luci yang imut-imut, Mba Tina yang rame, nyengiiiirr melulu, dan gag pernah pake rok, haha!, Hendra, Mba Eva, Mba Dini, Pa Tigno, Pa Agus, Mba Rina di ruang sebelah, Mas Farhan dan Mas Danar yang jadi musuh orang bawah karena sering nganterin kerjaan, Pa Eko, dan banyaaakk lainnya. Tentunya Pa Mahendro, sebagai pemeran utama di Auditorat 1A, makasih banyak yaa pa!
Gag kerasa uda hampir selesai gw bertugas di sana, di ruangan yang penuh dengan kehangatan itu. Sekarang saatnya gw kembali berjuang di tempat lain, Pusdiklat Kalibata (Alhamdulillah gag jadi di Makassar!). Terima kasih untuk semua kasih yang uda diberikan buat gw, untuk semua ilmu yang menjadi bekal gw melangkah lebih gagah, dan untuk semua senyuman itu. Tolong doain Amy yah, supaya makin mantap menjalani hidup dan menatapi karier, aminn! Sampai bertemu di lain kesempatan. n_n
LOVE U, ALWAYS.....
Note:
Tengz berat buat Popon sama Dimas yang uda jadi partner yang menyenangkan dan dapat diandalkan. Kapan yah kita bisa satu ruangan lagi?!
Mampang Pagi Ini..
Hmm, udah dua hari ini, kawasan Mampang lowong, gag macet sama sekali! Waaah, senangnya hati ini! Hehe.. Paling-paling juga macetnya di ujung-ujung lampu merah sama di deket jalan-jalan yang lagi diperbaiki itu. Senang, riang, hari yang kudambakan! Wkwkwk..Tapi ada yang aneh dah kalo lewat kawanan yang biasanya macet terus tiba-tiba lowong melompong! Apa ada pejabat yang mao lewat? Ato ada pemogokan bis kopaja atao angkot-angkot yang biasanya seliweran penuh di jalanan? Hmm, ada apakah gerangan?!
* Gayanya uda kaya presenter gosip aja dah (uuuhh, pengeeeennn!! n_n)
Kaget gw pas lewat halte busway Imigrasi gag ada antrean mobil yang berkepanjangan. Begitu juga pas ngelewatin halte Duren Tiga yang biasanya macet gag ketulungan. Yah paling macet tadi pas menuju halte Mamprat gara-gara ada jalan yang lagi disemen, gag tau masudnya apah. Perempatan Kuningan juga gag pake macet! Seneng bener dah pokonya, yang biasanya dari ujung ke ujung menempuh waktu sekitar setengah jam, sekaran paling cuman 10-15 menitan doang, setengah waktu bisa disave dengan mantabnya! Hehe..
Padahal beberapa hari yang lalu, Senen kemaren tepatnya, Mampang macetnya uda kaya apaan tauk! Bayangin ajah, gw butuh 1 jam untuk nyampe ke Perempatan Kuningan dari TB Simatupang. Jam setengah delapan, gw (dan Mba Maya) masih di depan halte busway Mamprat dengan indahnya padahal jam absen udah mao abis dan ada upacara ulang tahun KORPRI! Hemmm, puyeng! Alhasil ngebut gag penting sepanjang Gatot Subroto, gag nyampe 10 menit udah nyampe kantor! Hoho, gag jadi telat deh, walo pas upacara muka berantakan ditempelin debu, tas dititipin pa satpam, dan baris di depan! Haha, seru!
Sekian info yang dapat saya sampaikan, reporter Fachmy Muhammad Fajri melaporkan dari Lantai 6 Gedung Umar Wirahadikusuma, Jakarta.
* Ckakak, gag jadi presenter gosip, reporter beritapun jadi...
* Gayanya uda kaya presenter gosip aja dah (uuuhh, pengeeeennn!! n_n)
Kaget gw pas lewat halte busway Imigrasi gag ada antrean mobil yang berkepanjangan. Begitu juga pas ngelewatin halte Duren Tiga yang biasanya macet gag ketulungan. Yah paling macet tadi pas menuju halte Mamprat gara-gara ada jalan yang lagi disemen, gag tau masudnya apah. Perempatan Kuningan juga gag pake macet! Seneng bener dah pokonya, yang biasanya dari ujung ke ujung menempuh waktu sekitar setengah jam, sekaran paling cuman 10-15 menitan doang, setengah waktu bisa disave dengan mantabnya! Hehe..
Padahal beberapa hari yang lalu, Senen kemaren tepatnya, Mampang macetnya uda kaya apaan tauk! Bayangin ajah, gw butuh 1 jam untuk nyampe ke Perempatan Kuningan dari TB Simatupang. Jam setengah delapan, gw (dan Mba Maya) masih di depan halte busway Mamprat dengan indahnya padahal jam absen udah mao abis dan ada upacara ulang tahun KORPRI! Hemmm, puyeng! Alhasil ngebut gag penting sepanjang Gatot Subroto, gag nyampe 10 menit udah nyampe kantor! Hoho, gag jadi telat deh, walo pas upacara muka berantakan ditempelin debu, tas dititipin pa satpam, dan baris di depan! Haha, seru!
Sekian info yang dapat saya sampaikan, reporter Fachmy Muhammad Fajri melaporkan dari Lantai 6 Gedung Umar Wirahadikusuma, Jakarta.
* Ckakak, gag jadi presenter gosip, reporter beritapun jadi...
Aku, Apanya yang Berubah?!
Aku, apanya yang berubah sih teman-teman?! Aku belum autis kan?! Aku masi seperti yang dulu kan?! Masih bisa kalian hajar dengan hinaan-hinaan gag penting, dan aku pun siap membalasnya! Aku pun masih rela dijadikan bahan lelucon supaya kita semua tersenyum, bahagia. Aku juga masih senang menghujat statement lo semua yang gag penting. Masih seperti biasa kan?!
Aku, ada yang salah yah?! Kenapa sekarang aku katanya gag banyak omong kaya dulu?! Aneh yah ngeliat gw ngomongnya gag nyampah lagi?! Haha, engga kok! Gw masih sama kaya yang dulu, masih jadi biang keladi, masih dibilang sakit jiwa sama orang-orang ruangan. Jadi apanya yang salah siih?!
Bosan aku mendengar kalimat-kalimat yang aneh, ”Duh yang uda kerja, beda deh!”, ”Lo berubah yah mi!”, ”De, banyak bedanya yah sekarang, ga kaya kuliah dulu!”, ”Amiii somboooonng!”, ”Congor lo udah jinak my?”, ”Tumben gag ngebales cengan gw?!”, dll. Fuh, fuh, lucu (baca: eneg!) juga denger untaian kata yang motifnya sama kaya gitu tiap hari.
Mungkin aku yang salah, mungkin juga kalian yang salah!
Who cares?!
Aku, ada yang salah yah?! Kenapa sekarang aku katanya gag banyak omong kaya dulu?! Aneh yah ngeliat gw ngomongnya gag nyampah lagi?! Haha, engga kok! Gw masih sama kaya yang dulu, masih jadi biang keladi, masih dibilang sakit jiwa sama orang-orang ruangan. Jadi apanya yang salah siih?!
Bosan aku mendengar kalimat-kalimat yang aneh, ”Duh yang uda kerja, beda deh!”, ”Lo berubah yah mi!”, ”De, banyak bedanya yah sekarang, ga kaya kuliah dulu!”, ”Amiii somboooonng!”, ”Congor lo udah jinak my?”, ”Tumben gag ngebales cengan gw?!”, dll. Fuh, fuh, lucu (baca: eneg!) juga denger untaian kata yang motifnya sama kaya gitu tiap hari.
Mungkin aku yang salah, mungkin juga kalian yang salah!
Who cares?!
Bogor Menggila!
Minggu sore, gw, arab, babi, dan bironk, kami berempat nekat jalan ke Bogor cuman buat makan di Hartz Chicken Buffet. Gw yang memutuskan buat pergi kesana karena gw pengen menikmati alam segar yang gag gw dapet di Jakarta sambil maem sepuasnya! Hoho, seperti biasa ngaret yang menjadi kebiasaan kami kembali terjadi. Janjian jam4, baru jalan jam5, itupun masih ketawa-ketawa! Hahakk, dasar bocah-bocah odong!
Bogor ujan, dingin, tapi tetep masih rame, apalagi ditambah perilaku-perilaku manusia gag penting seperti kami. Arab dengan bacotnya yang kaya kompor meleduk, Bironk dengan gayanya yang makin gag nahan, nah apalagi Babi yang kelakuannya udah kaya monyet! Wkwkwk, seneng bener gw ketawa-ketawa tiada henti, saling menghina satu sama lain. Satu hal yang gw baru sadar, TIDAK ADA PUJIAN YANG KELUAR DARI MULUT KAMI SORE ITU! Semuanya serba celaan, haha..
Nyampe sana uda magrib, pas banget buka puasa. Dingin bener duduk di alam terbuka, ujan pula, tapi suasananya comfy banget dah, denger suara aer sungai yang deres, suara takbir yang berdengung di langit (malam ini malam takbiran-red!), suara ketawa kami, haha.. ahirnya gag kuat, makan ronde pertama selesai, kami masuk ke dalem!
Gda bedanya di dalem ma di luar, ketawa muluuuu. Dasar manusia-manusia kebal, gda urat malunya!haha,, Segalanya dimakan, garlic bread yang melempem, roti yang kata Arab kebanyakan kayu manisnya jadi baunya lebih mirip bau iler, buah markisa yang kata Babi mirip ingusnya Bironk (huweeekz, bikin gag selera dah!), mie ayam yang pake jahe (Ronk, pliz dedh itu kunyit namanya!), calamary yang ternyata bawang bombai ditepungin terus digoreng, semua dah,,
Bega, kekenyangan, mao muntah. Jalan susah, ketawa tetep, hinaan jalan terus. Dasar dodol! Ronde kedua, ketiga, ahirnya pulang. Di jalan sepi pada tidur kekenyangan (well, sebenernya gw gag tau sepi apa gag cz gw ngorok duluan!). Di jalan diliatin orang, di restoran diliatin orang, dimana-mana jadi pusat perhatian orang. Bukan karena gayanya yang kaya artis, tapi karena gag tau malu.
Anda kenyang, saya senang, tak ada hutang...
Bogor ujan, dingin, tapi tetep masih rame, apalagi ditambah perilaku-perilaku manusia gag penting seperti kami. Arab dengan bacotnya yang kaya kompor meleduk, Bironk dengan gayanya yang makin gag nahan, nah apalagi Babi yang kelakuannya udah kaya monyet! Wkwkwk, seneng bener gw ketawa-ketawa tiada henti, saling menghina satu sama lain. Satu hal yang gw baru sadar, TIDAK ADA PUJIAN YANG KELUAR DARI MULUT KAMI SORE ITU! Semuanya serba celaan, haha..
Nyampe sana uda magrib, pas banget buka puasa. Dingin bener duduk di alam terbuka, ujan pula, tapi suasananya comfy banget dah, denger suara aer sungai yang deres, suara takbir yang berdengung di langit (malam ini malam takbiran-red!), suara ketawa kami, haha.. ahirnya gag kuat, makan ronde pertama selesai, kami masuk ke dalem!
Gda bedanya di dalem ma di luar, ketawa muluuuu. Dasar manusia-manusia kebal, gda urat malunya!haha,, Segalanya dimakan, garlic bread yang melempem, roti yang kata Arab kebanyakan kayu manisnya jadi baunya lebih mirip bau iler, buah markisa yang kata Babi mirip ingusnya Bironk (huweeekz, bikin gag selera dah!), mie ayam yang pake jahe (Ronk, pliz dedh itu kunyit namanya!), calamary yang ternyata bawang bombai ditepungin terus digoreng, semua dah,,
Bega, kekenyangan, mao muntah. Jalan susah, ketawa tetep, hinaan jalan terus. Dasar dodol! Ronde kedua, ketiga, ahirnya pulang. Di jalan sepi pada tidur kekenyangan (well, sebenernya gw gag tau sepi apa gag cz gw ngorok duluan!). Di jalan diliatin orang, di restoran diliatin orang, dimana-mana jadi pusat perhatian orang. Bukan karena gayanya yang kaya artis, tapi karena gag tau malu.
Anda kenyang, saya senang, tak ada hutang...
Langgan:
Entri (Atom)
