12 Februari 2011

Untukmu..

Takdirlah yang mempertemukan kami, dipersatukan oleh artis favorit wanita yang sama, sisanya semua berbeda. Unik memang, perbedaan yang membuat kami berdampingan, caci maki yang menumbuhkan persaudaraan.

Begitu sebalnya saya ketika orang memiripkan pemikiran dan kesukaan kami, dan pasti dia juga tidak kalah sebalnya, saya yakin itu. Selalu mencari alternatif pemikiran dan kesukaan lain agar tidak terlihat sama walau agak dipaksakan. Tak heran, adu persepsi dan argumen sering menghiasi perjalanan kami, walau pasti diakhiri dengan senyum di hati. Menyenangkan.

Dia bukan orang yang cukup pintar dalam mem-balance-kan debit kredit pada persamaan akuntansi, bukan juga orang yang pandai merangkai kata dalam karya ilmiahnya. Tapi satu hal yang pasti, dia begitu cerdasnya membuat saya terpingkal dengan kelakuannya, meredakan gengsi dan emosi saya, memainkan perannya dengan apik dalam salah satu episode perjalanan saya, memotivasi saya memenangkan kehidupan.

Seperti kata Gibran, "kawanku, kamu dan aku akan tetap asing terhadap kehidupan, terhadap satu sama lain, dan terhadap diri masing-masing, sampai hari ketika kamu berbicara dan aku mendengar, menganggap suaramu suaraku, dan ketika aku berdiri di hadapanmu, mengira diriku berdiri di depan cermin.

Dengan modal memahami dan menemani saya sudah cukup membuat dirinya ada di dalam doa panjang saya. Ya, saya berdoa semoga Allah selalu mempersatukan dan menjaga tali silaturahmi dan persaudaraan kita hingga akhir hayat, memberikan kesempatan untuk kita memimpin negeri ini, dan tetap menjadikan kita lentera yang bersinar abadi di kala lampu lainnya redup.

Benar Aristoteles berucap bahwa sahabat laksana satu jiwa yang terdapat dalam dua tubuh. Dulu hadirnya adalah sebuah biasa untuk saya, namun ketiadaannya saat ini menjadi sesuatu yang hilang, separuh jiwa saya.

Semoga, irama indah persahabatan kita tak pernah berganti nada. Langit biru tidak ditutup oleh awan kelabu. Terima kasih, terima kasih telah berperan banyak dalam mewarnai pencarian jati diri saya.

Untukmu, ya saya tau kamu membaca ini. Saya rindu.

Saya, Ayah, dan SPMB

Dalam sebuah sabtu malam yang biru, dimana tak ada niat sedikit pun untuk bergerak dari tempat tidur karena keletihan yang maha dashyat. Hanya saya, Buku Ranah 3 Warna, cokelat panas, obat sakit kepala, dan BBM dari sahabat nun jauh di Borneo sana yang berambisi menjadi Alif dalam buku ini, Acan.

Awal buku ini bercerita tentang Alif, ayahnya, dan UMPTN (pada zaman saya berubah jadi SPMB). Ada sedikit sesak, seperti luka lama yang terkuak. Saya dibuatnya kembali menoleh kebeberapa tahun silam dan tercekat.

Juli 2005, disaat yang lain berpesta pora merayakan kelulusannya di universitas yang diinginkan, saya tertegun bisu, entah akan dibawa kemana masa depan saya setelah saya tidak diterima di universitas yang saya pilih. Ya, saya tidak lulus SPMB dan itu memukul telak saya hingga terjatuh dan tak mengerti cara membangkitkan diri.

Saya sedih, tapi saya rasa ayah saya lebih dari itu. Entah apa di benaknya. Anak pertamanya gagal lolos SPMB, setelah sebelumnya PMDK pun gagal. Ironis memang, diantara prestasi akademik saya yang lumayan di matanya. Ia menangis, dan itu membuat saya menangis lebih sesak. Bukan hanya kegelutan tentang masa depan yang masih samar, lebih dari itu saya membuat ayah saya menangis, memupuskan harapan tingginya mungkin. Bagaimana mungkin sesosok ayah yang super dan kuat di mata saya, menjatuhkan air matanya demi anaknya.

Alhamdulillah, Allah menunjukkan kekuasaanya untuk saya. Saya diterima di sebuah akademi pendidikan keuangan negara, STAN. Semua orang kembali mengangkat saya, termasuk ayah. Pujian demi pujian kembali mengisi hari yang sebelumnya hanya diisi dengan keprihatinan. Tapi itu tidak membuat saya bangkit dan ayah menyadarinya.

Akhirnya, saya menjalankan aktivitas perkuliahan saya di STAN, dengan keterpaksaan tentunya. Bodoh memang, tapi mohon dimengerti, STAN memang segalanya untuk sebagian lulusan SMA se-Indonesia, tapi tidak dengan saya. Dan diantara keterpaksaan tersebut, ayah-lah yang mengajarkan saya arti sebuah keikhlasan.

Memang ketika ikhlas itu datang, segala berubah lebih baik. Segalanya menjadi lebih indah. Saya ikhlas, sungguh. Dan STAN menjadi salah satu episode terbaik saya dalam 23 tahun ini. Prestasi, impian, dan persahabatan, serta eksistensi diri mengalir membuat saya ingin terus bersinar dan berbuat lebih. Dan kini sekolah itulah yang membawa saya ke instansi ini, instansi tempat pengabdian terhadap bangsa diwujudkan.

Saya akan berjuang demi orang-orang yang menyayangi saya tulus, saya harus bisa menaklukan dunia dengan tangan saya. Karena saya yakin, Tuhan tidak akan meninggalkan saya, setelah Ia bawa jauh saya di jalan ini, setelah Ia jatuhkan pilihan STAN dan PNS-nya untuk saya, setelah Ia libatkan saya pada urusan-urusan negara ini.

Ya, saya semakin yakin bahwa ada hikmah berharga disetiap kejadian yang telah diatur-Nya, Yang Maha Mengetahui mana yang baik dan buruk untuk saya. Jalan-Nya begitu indah, tanpa kita bisa menebak, tanpa bisa kita menolak. Terima kasih Allah, the best director of life, atas jalan-Mu ini. Bimbinglah saya selalu, berilah saya petunjuk dan cahaya-Mu dalam menelusuri jalan ini. Ridhoilah perjuangan saya dan jadikan jalan ini menjadi amal ibadah dan ladang jihad saya menuju surga-Mu.

Kontempelasi Malam Ini

Ciputra, pukul 02.00 dini hari. Saat kantuk dan malas menyerbu tanpa ampun, menggeregoti sisa semangat menyelesaikan pekerjaan.

Hanya terdengar suara nafasku yang terengah-engah mencoba membakar diri, sesekali suara tuts laptop menyeruak bilangan-bilangan pada matrik, pekerjaanku. Penat, ingin rasanya lari dari rutinitas, merumput pada fatamorgana malam Jakarta, atau sekedar pulang ke tempat aku dimiliki.

Ah, apa ini, tak seharusnya pikiran itu terbesit sedikitpun. Kewajiban-kewajibanku pada negara pada penugasan kali ini belum terselesaikan, pikiran dan tenagaku masih harus ku pakai demi secercah nafkah dan sebuah loyalitas bernama pengabdian tulus.

Aku malu. Disaat cita-citaku mengabdi kepada negara masih bernilai nol besar, disaat impianku memekikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan Merah Putih bahkan di tanah asing sekalipun belum tercapai, disaat mimpiku menyetarakan derajat bangsa masih menjadi angan, aku mulai menyerah dengan keadaan, aku mulai berlutut kepada kestagnansian.

Apa yang telah ku berikan kepada bangsa ini setelah 23 tahun mengaku bertanah air disini? Di saat pemuda seusiaku berjibaku membela bangsa melalui pertandingan olahraga, atau adik-adik juniorku memeras otak pada olimpiade science internasional, atau pemudi dengan misi pertukaran budaya. Aku bahkan mengeluh, mengutuk ketidakberdayaanku mengusir malas dan kantuk.

Arghh, sudahlah. Semoga kontemplasi ini berguna untukku menjalani dedikasi ini, mewujudkan asaku menjadi kebanggaan bangsa ini, meng-Indonesia-kan Indonesia.

"Bagimu Negeri, jiwa raga kami.."

Apa Rasanya Pensiun Nanti??

Jumat, 28 Januari 2011

Hari ini, spesial bagi Pak Carmadi, seorang kawan di ruangan yang akan mengakhiri masa tugasnya karena pensiun. Beliau yang selalu datang dan pulang tepat waktu, selalu mengajak saya sholat berjamaah saat adzan tiba, selalu membawa tape untuk kita seruangan. Beliau yang menginspirasi saya untuk hidup sehat (walau belum berhasil, hhe). Ada sekelumit cerita ketika saya bertugas bersamanya. Beliau selalu ribut kalo saya pasang AC dengan suhu terlalu rendah sampai akhirnya saya tipu dengan mengatakan kalo ACnya bocor, dan berhasillah saya, hehe (untuk yang satu ini saya sudah minta maaf, beliau hanya tertawa, paham). Yang jelas, saya tidak ada teman kontrol di poli jantung sekarang ini.

Sebenernya yang ingin saya share adalah pikiran saya berlari jauh ke suatu masa dimana saya yang harus pensiun. Apa ya rasanya berada pada posisi beliau saat ini?! Yang tiba-tiba menghilang dari rutinitas berpuluh-puluh tahun, yang hanya tercukupi oleh uang pensiun, yang tidak bisa berbuat lebih di institusi ini, post power syndrome pastinya.

Dari kejauhan saya memperhatikan aktivitasnya di hari terakhir ini, merapikan meja, membawa berkas yang dianggap perlu. Ahh, setitik embun tergenang dipangkal mata saya, terharu. Entah apa yang dirasa saat harus angkat kaki dari kursi yang setiap hari diduduki. Flash back saat mulai masuk kerja jadi cpns, haru biru persahabatan, jatuh bangun saat penugasan, semua mungkin termainkan dengan jelas.

Saat itu mungkin kita akan menyadari betapa kecilnya diri ini, betapa tak berdayanya kekuatan ini. Ya, saat itu mungkin akan timbul pemikiran jika tenaga, pikiran, dan sumbangsih kita sudah tidak diperlukan lagi, sudah ada tenaga-tenaga muda dengan pemikirian dasyat yang menjadi substitusi kita. Saat itu kita menyadari bahwa kita telah direnggut oleh hidup, tua.

Berjuta rasa untukmu Pak. Salam hormat saya selalu. Terima kasih atas bimbingannya selama ini. Mohon doanya agar saya bisa "lulus" sekolah ini.

Ya, entah apa rasanya jadi seorang pensiunan. Semoga Allah mencukupkan usia saya hingga saat itu. Semoga sebelum pensiun nanti, semua kewajiban saya memberikan sumbangsih kepada bangsa ini terbayarkan dengan lunas. Dan semoga saya menjadi orang yang berbahagia karena amanah yang tertunaikan dengan sempurna. Amin..

22 Januari 2011

My December..

Alhamdulillah, Desember yang ribet telah terlewati dengan begitu indah. Bulan yang penuh dengan amanah, tanggung jawab, dan juga kenangan yang luar biasa untuk saya. Di bulan ini, saya harus mengejar deadline to do list yang harus diselesaikan di 2010, belajar sosialisasi juknis, wisuda sarjana, pengumpulan data, Anyer, hingga hingar-bingar Piala AFF.

Bulan ini diawali dengan berlibur ke Dufan secara gratis. Yap, Dian, Inggit, dan Sopia berbaikhati membayarkan saya dan rekan-rekan yang lain untuk bermain di Dunia Fantasi seharian secara cuma-cuma, luar biasa. Terima kasih telah mengabulkan ingin saya. Semoga kalian kelak menjadi generasi penerus bangsa yang berkontribusi dan bermartabat. Seminggu kemudian, saya diresmikan sebagai sarjana akuntansi, walau saya berhalangan hadir dalam prosesi tersebut. Meskipun demikian, kebahaian tersebut tidak berkurang, sama sekali.

Next, saya harus ke Mataram. Waw, Lombok! Bawaannya jalan-jalan deh kalo udah begini. Puji syukur diberikan kesempatan berkunjung ke tempat-tempat wisata disana, Gili Trawangan. Tempat yang luar biasa indah walau belum dikelola dengan baik menurut saya. Thanks Popon yang telah membuat keinginan saya terwujud. Salam untuk teman-teman disana. Sosialisasi dadakan juga merupakan hal yang sangat luar biasa untuk saya. Pulang dari Mataram langsung nonton semifinal Piala AFF di GBK, it’s a WOW. Indonesia luar biasa.

Malam Natal berkumpul lagi sama Ayu, Intan, dan Indri. Sayang Riza sama Ulung ga bisa join. Lama banget ga ketemu Ayu, kita makan-makan Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk baru di Depok, wew. Dan di minggu terakhir, saya ditugaskan ke Padang. Kali ini bersama Pa Luthfi dan Agus. Ga kebayang tiap hari makan enak dan ngeliat bangunan-bangunan disana yang masih banyak yang hancur akibat gempa setahun silam. Sempet jalan-jalan ngelilingin Bukittinggi dan Teluk Bayur. Wow, Indonesia saya memang ga ada yang ngalahin untuk urusan pariwisatanya. Semoga semakin baik pengelolaannya biar bisa jadi income tambahan baik untuk APBD maupun masyarakat setempat.

Pulang dari Padang, di penghujung bulan ini, saya bersama sahabat-sahabat ini pergi ke Anyer. Yah lumayan banget refreshing sebelum memulai kembali aktivitas yang padat di awal tahun 2011 ini. Terima kasih Galih dan keluarga, semoga terus dilimpahkan anugerah dan nikmat yang berlipat. Terima kasih juga untuk Keli, Nanto, Darius, Iwe, dan Indri, sehat dan sukses selalu untuk kalian.

Yahh, Desember memang telah menjadi kenangan, dan tahun baru pun menjelang. Semoga apa yang dilakukan selama tahun 2010 ini bermanfaat untuk sesama dan berkah di mata Allah. Selamat Tahun Baru 2011, semoga di tahun ini banyak hal indah menyertai kita semua, tentunya dengan belaian rahmat Sang Illahi. Mohon maaf jika ada salah kata dan perbuatan selama ini, mari kita buka lembaran baru dalam hidup. Ya, dalam sebuah episode kehidupan yang lebih menantang.

Cheers.

New Year's Trip: Anyer!!

Ahaiii, akhirnya saya menginjakan kaki lagi di Anyer..

Sabtu-Minggu, setelah melewati pekan yang sangat melelahkan di Padang dan malam pergantian tahun yang luar biasa megah, saya berkesempatan bermalam di Anyer secara gratis. Ya, gratis alias ditraktir. Seperti biasa berangkat ngaret dan personel dalam jumlah yang lebih sedikit dari yang direncanakan sebelumnya.

Bermodalkan snack dan baju, kita let’s go ke Anyer. Sudah ditunggu sang empunya hajat beserta keluarga di Anyer sana. Cukup jauh, saya terlelap. Sesampainya disana, ternyata belum boleh check in. Terpaksalah kita ngemper, piknik di pingir pantai, di bawah pohon yang teduh, persis seperti episode wisata se-RT waktu saya masih SD, ahaha. Setelah makan siang dan solat, kita ngobrol ngalor-ngidul ga keruan membunuh waktu hingga tiba waktu check in jam 3 sore. Obrolan yang rata-rata berisi tentang romantika SMA, gunung berapi dan laut ala Iwe, drama-drama korea ala Indri, travelling ala Darius, sampe tentang Sopia. Yap, yang terakhir memang topik yang tak pernah habis menuai gelak tawa. Dan yang ga kalah penting, rencana jalan-jalan berikutnya. Mulai dari Bromo, Pulau Komodo, Raja Ampat, Lombok, Korea, Aussie, Spore, hingga Macau. Luar biasa..

Sore hari, kami bermain voli pantai. And this is the best part of the day. Lama banget ga main voli. Terakhir main voli girang waktu diklat sama BPK STAN 2008. *haa, mengingat ini membuat saya melow total, kangen. Semoga kita tetap menjadi kupu-kupu yang terus terbang dan menebar kebahagian bagi sesama. Semoga kita tetap menjadi paku-paku tajam yang siap menggemboskan roda-roda tikus politik yang menggerogoti uang rakyat! Leading by example.

Malamnya, sesuai rencana kita bakar ayam dan sosis. Saya hanya nonton dan makan, ahaha. Seru, kenyang. Bangga punya temen bekas urang Bandung tea, jago ngipasnya, kekekekk. Adegan ngasi pulpen untuk Galih juga terlaksana. Emaknya Galih pun ga bosen-bosen masakin kentang goreng. Jadilah mulut saya selalu penuh. 

Minggu pagi, hari kedua di 2011, saya memulainya dengan Banana Boat. Se-tim sama Indri, Iwe, dan Nanto. Bener-bener, Iwe bintangnya banget deh, ahaha. Besok-besok gw lelepin lo di empang deket rumah biar ga takut aer. Adegan main voli pantai juga seru. Saya-Iwe lawan Galih-Keli dengan taruhan yang menang nabok yang kalah. Semangat 45 banget gueeee sampe jatoh-jatoh ga keruan hanya demi nabok, ahaha. Apes, pes, pes. Uda kaki bonyok, kalah pula. Untuk saya tidak ditabok.

Thanks to Abang atas kesediaannya membayari kita ke Anyer. Semoga Allah selalu menjaga hati dan keimananmu, seperti Ia menjaga kokoh gunung-gunung di muka bumi. Semoga Allah selalu menganugerahkanmu cahaya dalam hidup, seperti Ia menciptakan kasih yang terpancar dari Ibumu, terang, abadi. Semoga Allah membentengimu dari fatamorgana dunia, membuat seluruh episode kehidupanmu bermanfaat, dan mempertemukanmu dengan jodoh yang menurut-Nya baik untukmu. Thanks juga untuk keluarganya yang berkenan berbagi bersama kami. Saya ketagihan bakso, kentang, dan ayam goreng ala Mama Galih.

Special thanks untuk Indri, Keli, Iwe, Darius, dan Nanto yang masih menyempatkan diri menemani saya untuk pergi berlibur bersama. Semoga Allah menyertai kalian selalu, memudahkan urusan kalian. Satu hal yang saya pelajari bahwa butuh perjuangan dan pengorbanan untuk memilih melakukan sesuatu yang sudah direncanakan. Semua itu bisa dilakukan dengan perjuangan maksimal, dengan ridho Allah tentunya. Dan, terima kasih untuk seseorang yang telah mengingatkan saya, bahwa manusia yang dipegang adalah omongan dan janjinya.

Dan, ini sekelumit oleh-olehnya.. Enjoy it!

Voli Pantai, so FUN,, *ngadu lawan mas2 vila sebelah

Bakar Ayam, sedap, sedap, sedap!
 
Sarapan Banana Boat, Rock!!
 
Sunbathing, biar  tanning dikit, ahaha!

Padang Berdendang

Setelah Mataram, di Selatan Indonesia, kini saya berkesempatan ke Sumatera Barat. Ya, Padang. Kota yang baru saja diterpa gempa bumi yang menelan banyak korban jiwa dan bangunan yang runtuh di pertengahan 2009 dan gelombang tsunami di salah satu pulaunya beberapa minggu yang lalu.

Kebetulan saya pergi bersama Pa Luthfi dan Agus, jadilah kami tiga serangkai yang saling menyerang satu sama lain, ahaha. Pergi Minggu Malam dengan landed dengan cukup mengkhawatirkan di Minangkabau Int’l Airport karena cuaca buruk, hujan deras dan angin yang kencang. Untung saja sudah dijemput dan siap diantar ke hotel dengan tentu saja mampir di rumah makan Padang dulu. FYI, ternyata Restoran Padang juga berjamuran disana, banyak sekali. Padahal kan kalo dipikir-pikir apa ga bosen gitu ya mereka makan masakan bertema santen terus, heu.

Pagi pertama di Kota Padang, dikejutkan dengan banyaknya gedung yang masih dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Setahun lebih sejak terjadinya gempa ternyata Padang belum pulih. Masih banyak bangunan yang berbentuk puing-puing. Masih banyak juga yang dibiarkan berdiri walau dengan kondisi yang setengah hancur. Setelah entry dan sedikit pengarahan, kami bergegas untuk mencari hotel baru dan dapetlah di daerah yang setahun lalu hancur lebur akibat gempa. Ngeri juga, cuman apa daya, suara saya kalah dengan dua rekan saya.

Kami sempat diantar ke Bukittinggi, sekitar dua jam dari Padang. Pertama, ke Lembah Anai, air terjun yang ada di samping jalan raya, enaknya. Setelah itu, Lubang Jepang, Panorama, dan Ngarai Sianok. Sekali lagi, tujuan pariwisata yang amat sangat bagus namun belum “dimanfaatkan”. Lubang Jepang itu katanya goa buatan tentara Jepang yang termegah di Indonesia. Besar memang, dibuat kagum saya dengan arsitekturnya yang luar biasa. Jam Gadang, Taman bung Hatta, dan Pasar Atas adalah destinasi kami selanjutnya. Jepret sana-sini bak foto model dengan perut gendut kekenyangan makan Nasi Kapau khas Padang. Jam Gadang ini jantungnya Kota Bukittinggi, jadi rame banget. Di Pasar Atas, sempat membeli beberapa cinderamata, sarung, baju koko, dan lainnya. Pulangnya, kami melewati Gunung Merapi Padang dan mampir sejenak ke Danau Singkarak. What a beautiful scenery!

Kami juga sempet berkunjung ke Jembatan Siti Nurbaya. Ya jembatan yang menuju sebuah bukit dimana sang legenda Siti Nurbaya dimakamkan. Makan kepala kakap di dekat Pelabuhan Bungus, setengah jam dari Teluk Bayur yang melegenda itu. Next, Pantai Air Manis, tempat dimana Malin Kundang dikutuk sang Ibunda, merinding saya liatnya, heu. Parah bener dah miripnya. Di Padang juga kami menghadiri nonton bareng final Piala AFF. Sumpah yaa, semangat orang disana ga kalah sama yang dateng ke GBK. Bikin bulu kuduk berdiri, bikin semangat bergelora.

Yah begitulah enam hari di Padang. Bagian ga enaknya (kerja dan begadang-red) ga usah pake diceritain, bikin pusing, ahaha. Sayang, ga sempet ketemu Defi yang lagi hamil muda, heu. Terima kasih Padang atas jamuannya yang begitu berkesan. Jakarta, I am home..

Thanks Allah telah mengizinkan saya bertandang ke sisi lain Indonesia.


At Gadang's Tower

Catatan Lombok

Ahh, akhirnya gw menginjakan kaki di Pulau Lombok dan gratisss. Alhamdulillah,, Pergi sama Pa Adang, Bu Dewi, dan Mba Nana untuk sosialisasi, pengumpulan data, sama tindak lanjut, yahh lumayan empot-empotan sih tapi dibawa asik ajalah daripada setres sendirian, hha,, *Dan apesnya hotel di tepian Pantai Senggigi penuh semua, hadehh..

Seperti biasa, hari-hari, 8 to 5 berkutat dengan kerjaan dan tidak ada yang spesial selain ditunjuk sebagai pembicara dadakan, hadehh rasanya pingin kabur ke Jakarta deh. Lagi enak-enakan makan malem hari Rabu, tiba-tiba aja Bu Dewi menugaskan gw nemenin Mba Nana buat sosialisasi Kamis Pagi, jederrr! Pala gw yang ga pusing tiba-tiba aja mumet mendadak. Tapi yaa dijalanin aja dan Alhamdulillah ga belepotan-belepotan amatlah, hha. Kamis pagi beneran kejadian gw sosialisasi berdua Mba Nana. Jekpotlah pokoknya mah, ahaha. Puji syukur semuanya lancar, paling ngga di mata gw. Pencapaian besar dimana gw mampu mengalahkan ketakutan dan ketidakpercayadirian. Yah maklum, cuman golongan babu dan belom genap dua tahun bekerja. Harus menghadapi temen seangkatan, pegawai senior, dan pejabat struktural yang notabenenya siap menikam gw dengan ilmu-ilmu mereka yang lebih banyak. Ahaha, kadang-kadang gw aja ga percaya, heuu.. Again, Praise of You, Allah. Terima kasih atas ilmu yang diamanahkan ini. Semoga bermanfaat bagi pribadi ini, bagi instansi, dan bagi kemajuan bangsa, amin..

Aga jenuh juga cuman hotel-kantor-hotel-restoran-hotel, sampe ahirnya Kamis sore nyempetin jalan buat beli souvenir di Sekarbella dan Cakranegara. Secara di Lombok ini yang terkenal Mutiara yaa mau ga mau emak gw nitip begituan, ahaha mayan bikin miskin ini, tapi buat emak, apa juga gw lakuin! (ce’elah, haha,,). Makan Ayam Taliwang sama Plecing Kangkung yang khas dan tentunya makanan-makanan lain yang sedap, ahaha. Tak lupa gw menjajal Mataram Mall, yahh mayan deh ngobatin kangen mol, kekekkkkk..

Jumat sore, ketiga rekan setim gw itu ahirnya pulang ke Jakarta dan gw masih di Mataram buat jalan-jalan ke Gili. Sabtu pagi-pagi banget uda harus bawa mobil sewaan ke arah pelabuhan bareng Popon, Mita, Mba Ratna, dan Irwan. Orang-orang yang baru gw kenal seminggu ini, yaa kecuali Popon dan Mba Ratna yang berbulan-bulan bersama di Pusdiklat. Perjalanan darat yang cukup melelahkan. Yang bikin beda, ini jalanan walaupun rusak, kalo liat kanan kita bisa liat laut, Pantai Senggigi, dan kalo liat kiri kita bisa liat gunung. Indahnya, walo harus ekstra hati-hati, haha..*gaya selangit.

Sampe pelabuhan dengan kondisi rintik gerimis kita antre untuk naik perahu dengan bayar Rp10.000,-/kepala. Rada dagdigdug juga ujan-ujan nyebrang laut ke Gili. Well, kali ini gw dan kawan-kawan ini memutuskan untuk pergi ke Gili Trawangan, Gili terbesar dan teramai diantara ketiga Gili yang melegenda itu. Nyampe sana langsung nyewa alat-alat snorkeling setelah sebelumnya jepret sana-jepret sini dengan si DSLR baru, ahaha *pamer, walo masi gemeteran megangnya, hha..

Pantai di Gili ini bersih, banyak bulenya yang pasti, dan sepi. Kondisi bawah lautnya juga bagus. Terumbu karangnya banyak yang lagi diperbaiki tapi ikannya banyak banget. Wahh, first experience banget deh snorkeling begitu gw, hhi. Suka, suka, suka, walau harus masih ditemenin sama guide tentunya, heu. Nii snorkeling juga murah ko, cukup Rp60.000/orang aja kita uda bisa nyebur ke laut dengan gogle, kaki katak, sama pelampung. Guidenya Rp100.000. yah, itung2 amal itu mah. Dan setelah beberes ini itu, kita balik lagi ke Mataram dengan perjalanan yang basah dalam arti harfiah, ujan soalnya. Sampe pelabuhan kita kembali ke Mataram dengan perjalanan darat yang beda. Kali ini kita lewat gunung, lebih susah jalannya tapi lebih deket. Seru juga, liat monyet-monyet liar di pinggiran jalan. Dan setelah sampai di Mataram, gw disediain bakso. Oh God, this is the best part of my journey at Mataram, bakso! Argghh, mantep bener.

Dan sudah pukul 5.00, Sang Garuda siap membawa gw ke pangkuan Ibu, tempat terbaik yang selalu dirindukan. Hampir dua jam gw di dalam pesawat dan tibalah di Bandara Soekarno Hatta dengan Ayah-Ibu melambaikan tangan mereka. Ohh, what a perfect life, thanks my big Lord.

Terima kasih Mataram telah berbaik hati menjamu gw enam hari ini. Terima kasih Popon yang sudah memperlakukan gw sebagai tamunya, ahaha. Ingin rasanya memboyong lo kembali ke Jakarta dan kembali bersama di MIA IA. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

At Gili Trawangan!

Bingkisan Hari Ibu Untuk Si Mamah..

Rabu, 22 Desember 2010, pukul 08.00 pagi..

Entah, ada yang berbeda ketika saya melakukan rutinitas ini
Saat saya membuka bekal sarapan pagi yang selalu disiapkan olehnya
Bibir saya bergetar, tak kuasa menahan deru
Tiba-tiba saja air mata ini jatuh tak tertahankan

23 tahun lamanya sudah saya hidup di dunia ini
Dan selama itulah saya disiapkan makanan olehnya
Masakannya memang belum sekelas Farah Quinn
Tapi buat saya, Ia juaranya.

Entah sampai kapan saya bisa dimanjakan olehnya
Melewati setiap malam bersama peluknya
Mengarungi gelombang hidup dengan cintanya
Kasihmu sungguh sebuah pelita bagi hati ini

Selamat Hari Ibu, Mah..
Terima kasih atas doa di setiap sholatmu
Terima kasih atas pengorbanan untuk saya
Terima kasih atas cintamu yang tak terbatas

Selamat Hari Ibu, Mah
Maaf jika saya selalu memberatkan perjuanganmu
Maaf jika terlalu sering lidah ini membuatmu terluka
Maaf jika sampai detik ini saya belum bisa menjadi kebanggaanmu

Ya Allah, sayangilah Ibuku, sayangilah kedua orangtuaku
Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil
Amin.

Mah, bagi duit dong! Hehe..
XOXO

5 Desember 2010

I Love You, Mbah,,

Hj. Gusti Sahariah Soewondo..

Sesosok wanita yang kuat, cerewet, dan berjasa sekali dalam hidup saya. Nenek saya, the one and only. Selalu ada topik yang Ia buat saat kami bersama. Jelas terlihat perhatian yang begitu besar dalam pembicaraan yang sering kali di selingi dengan kebawelannya.

Dulu, saat saya di bangku sekolah dasar, Ia yang selalu menjemput saya saat jemputan saya tidak beroperasi, Ia yang menggantikan ayah dan ibu saya selagi mereka sibuk saat mengambil rapor, Ia yang memanjakan saya dengan jajanan enak dan mainan-mainan, Ia yang menemani saya saat saya tengah malam kebelet pipis saat menginap di rumahnya. Ia juga sering membantu saya mengerjakan tugas agama, kesenian, dan bahasa Sunda. Dan Ia yang paling repot kalo saya sakit. Banyak makanan pasti yang Ia kirim ke rumah.

Dia memang seorang pensiunan guru seni, dan darah seni itulah yang saya yakinin menurun kepada saya. Suaranya apik, walau belum sekelas Celine Dion. Seorang yang telah makan asam kehidupan. Seorang yang turut berjuang menemani suami tercinta, kakek saya, saat perang kemerdekaan. Seorang yang hobi sekali jalan-jalan, berkebun, dan berbicara. Pernah suatu kali saya diomeli hanya gara-gara menggunting daun tanaman kesayanganya.

Suatu kali ketika saya menemaninya berobat, Ia bercerita tentang kehidupan yang sungguh luar biasa saat mudanya. Perang dan merangkak dari ketidakmampuan. Ia menjual cincin kawin hanya untuk membiayai keenam anaknya sekolah hingga ibu dan anak-anaknya yang lain menjadi sesosok yang berarti dan penuh dengan limpahan rezeki seperti saat ini.

Dia juga orang pertama yang saya hubungi ketika saya harus menghadapi ujian semesteran. Doanya ampuh, luar biasa. Jelas, kontribusi yang luar biasa yang Ia berikan kepada saya, cucu keempatnya. Sering kami terlibat dalam perdebatan yang luar biasa, tapi selalu terselesaikan dengan cinta. Ahh, mbah uti-ku yang gendut. Sering juga saya mencelanya karena badannya yang lebar, dan tentunya celana dalamnya yang seperti seprai kasur. Ia hanya tersenyum, cantik, sambil mengacak-acak rambut saya.

Kini, di usianya yang menginjak 80 tahun, badannya mulai mengurus, matanya mulai merabun, bahkan ingatannya sudah mulai berkurang. Nampaknya usianya mulai menggerogoti kehiperaktifannya menjalani kehidupan. Namun, masih saja Ia terlihat kuat. Masih sering menelpon untuk sekedar mengingatkan saya jika sudah dalam waktu yang cukup lama saya tidak berkunjung. Masih sering mengirim makanan-makanan kesukaan saya, masih suka menanyakan kabar kuliah saya walau saya sudah lulus. Dan yang terhebat, hingga saat saya memiliki penghasilan yang alhamdulillah lebih dari cukup ini, Ia masih saja menanyakan apakah saya punya uang untuk ongkos dan jajan supaya tidak kelaparan. Subhanallah..

“Mbah, jaga kesehatan yah. Mbah harus ada saat Amy nikah nanti. Mbah harus liat Amy wisuda S3 di luar negeri suatu saat. Mbah harus bantu Amy ketika nanti Amy diizinkan Allah memimpin negeri ini. Mbah juga janji mau naik haji bareng kan?! Tetep kuat ya, Mbah. Tetep doakan Amy bisa survive dan memenangkan kehidupan ini, seperti yang selalu Mbah lakukan. Mungkin Mbah ga bisa buka internet, ga bisa liat tulisan ini, tapi Amy cukup paham sekali Mbah tahu maksud hati ini.”

Ya Allah, izinkanlah Ia menyaksikan kesuksesan saya suatu saat nanti. Sehatkanlah Ia selalu. Kuatkan dan mudahkanlah Ia dalam menjalani sisa usianya. Limpahkanlah nikmat-nikmat-Mu yang tak terhingga kepadanya, kepada seorang pahlawan bangsa ini, kepada pahlawan di hati saya.



I do love you.

Kado 23..

Ahaa, suka banget sama kado dari temen-temen ini.Kue pertama, kue kedua, kue ketiga, dan kado lukisan karikatur. Tiga kali dapet kue jadi dapet gelas cantik deh dari Bandar Jakarta, hha..


First Cake, dikeluarkan pas jam 12 malem di ciwidey, dengan disertai surprise yang aneh, namun tetep berkesan, ahaha,,,

Second Cake, pas lagi makan malem yang hangat di Utara Jakarta, surprise yang ngagetin, tiba-tiba aja gitu mbak2 sama mas2 Bandar Jakarta tereak selamat ulangtaun, hadehh, ahaha..

Third Cake, pas lagi romantic dinner di Bogor, di sebuah resto yang private dengan rintik gerimis yang bikin hati meleleh, hha! #lebay


Ahaiii, eng ing eng!! inilah kadonyaaa.. sebuah pajangan bergambar karikatur saya bersama mereka. Lucu dan sekarang jadi barang yang saya sayang, kekekkkkk
dan inilah mereka yang telah membuat ulang tahun saya begitu bermakna, kado untuk saya yang sebenarnya. :).

4 Desember 2010

Kue Ketiga

Bogor, 21 Oktober 2010

Ga tau kenapa ni hari kayanya malesin banget. Ujan dari gw berangkat kantor sampe pulang, badan yang masih ga bisa diajak kompromi, harus ke kampus untuk minta tanda tangan dosen penguji, dan tentunya kerjaan yang perasaan ga selesai-selesai, heuu.. dan hari ini gw ga langsung pulang karena janji mau ikutan makan-makan ke Bogor sama Galih, Indri, dan Dian. Maleeessss banget, tapi uda kepalang janji...

Pulang naik kereta Bogor ekspres berdiri nyampe stasiun Bogor, which is gw bediri mpe Depok aja turun-turun harus duduk di peron dulu ngerenggangin tulang-tulang yang keknya uda ga kuat buat nopang ni badan, hadehh.. dan klimaksnya ketika nyampe stasiun Bogor, Galih belum kelar gawe, Indri dan Dian masih entah dimana belom juga nyampe jemput gw dengan alesan ada iring-iringan presiden dan jajaran menterinya yang mau keluar dari Istana Bogor. Maknyos!!!

Seperti biasa, bebe, coklat, dan donat menjadi temen setia saya menunggu, cukup lama, ada kali 45 menitan mah. Rada jamuran juga yaa, cuma ya lagi ga ada mood buat marah-marah, abis energinya, dan hanya pasrah. Hingga akhirnya dateng juga tuh mobil merah nyamperin gw. Setelah babibu, solat di Mesjid Raya Bogor *cmiiw, dan nunggu si abang-abang Nutrifood dateng, hhe. Setelah lengkap, jadilah kita nyari resto yang asik buat makan dan rumpi tentunya. Pantasteik!

Senyap, seperti tak ada kehidupan. Tapi ya emang ini yang dicari. Sepi tanpa gangguan dan mkanan berjenis PASTA, hhe.. as usual, Fettuchini Aglo jadi pilhan saya ditemani dengan minuman bersantan suji dicampur dengan sirup leci dan susu, nikmat. Galih dengan lasagna supernya, Indri dengan Fettuchini Carbonara *cmiiw, dan Dian dengan Spaghetti yang saya lupa sekali namanya, heu..

Lagi asikk mandangin makanan yang baru dateng, tiba-tiba ada bungkusan super besar dengan kartu ucapan berbunga di depan saya. Ya Allah, bener-bener pingin nangis senangis-nangisnya. Tapi yaa karena malu (baca: gengsi) yaa sebisa mungkin ditahan dan pergi ke kamar mandi, dengan alasan pingin pipis, hha.. Bener-bener deh, dapet hadiah yang setelah dibuka sebuah lukisan karikatur yang lucu, heuu (ni pas nulis, nangisnya uda ga kebendung lagi dah, ahaha..)

Dan ga cuma itu ternyata, balik dari kamar mandi, tiba-tiba aja ada mas-mas yang bawain pancake dengan lilin dan tulisan, “HAPPY BIRTHDAY FACHMI”, (yang seharusnya FACHMY), adadaaaaaahh, makin-makin dah! Mata rasanya ada yang naburin lada, pingin banget keluar air mata. Dalam hati cuma bisa bilang, Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, jangan ampe nangis, jangan ampe nangis, heuu..

Ini kue ketiga dalam ulang tahun saya dari mereka tahun ini. Bener-bener harusnya dapet piring cantik sama payung dah, hha. Entah apa yang bisa saya lakukan untuk berterima kasih, speechlees total. Ga ada hal yang pingin gw lakuin saat itu kecuali nangis (uda kodrat kali yaa, manusia terlalu sedih, manusia terlalu seneng mesti nangis, mengaduh sama Yang Maha Besar). Entah, saat itu takut sekali kebahagian ini tiba-tiba harus berakhir, takut sekali keadaan berubah, takut sekali nikmat ini dicabut. Di sisi lain, hati ini berbunga. Bahagianya mengalahkan rasa malas dan penat saya seharian.

Terima kasih (lagi-lagi) dari hati yang terdalam. Malam ini, jadi keinget hapalan Surat Ar Rahman waktu SMA..
“Maka Nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau dustakan?”


Bahagianya saya tetap berada dalam iman sebagaimana fitrah manusia. Bahagianya memiliki Tuhan yang amat Maha Pemberi Nikmat. Bahagianya diberikan sahabat-sahabat terbaik yang Insya Allah menjalin persaudaraan hingga maut memisahkan. Dan bahagianya diberi kue ketiga!

Sumpah itu..

Demi Allah, saya bersumpah/berjanji:
Bahwa saya, untuk diangkat menjadi PNS, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, negara, dan pemerintah;
Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggungjawab;
Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat pegawai negeri, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan saya sendiri, seorang atau golongan;
Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan;
Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara.

***

Jumat, 15 Oktober 2010

Entah mengapa ketakutan muncul dalam diri menghadapi hari ini
Hari dimana saya akan disumpah dengan nama Allah dan Al-Quran
Hari dimana saya resmi menjadi PNS yang siap mengabdi kepada negara
Hari dimana sebuah amanah besar bermula dan dimintakan pertanggungjawaban

Mungkin untuk sebagian orang ini hanyalah sebuah formalitas, tanpa makna
Bagi saya ini sebuah beban berat, penuh konsekuensi
Hingga hati bergetar, tak kuasa menahan air mata
Berlebihan memang, tapi ini ekspresi ketakutan saya akan sebuah kesaksian kelak

Ya Allah Yang Maha Membolak-balikan hati..
Jagalah hati dan keimanan saya dalam berjuang di jalan-Mu..
Jagalah konsistensi saya dalam menjalankan sumpah ini
Jagalah semangat dan kemampuan saya untuk membangun bangsa ini

Ya Allah Yang Maha Melindungi..
Lindungilah saya dari gelap mata hati dan godaan setan yang terkutuk
Lindungilah saya dari fitnah dan konspirasi orang-orang jahat
Lindungilah saya dari perbuatan tercela yang merusak citra kebangsaan

Amiin,,

***

NB..
Hanya mengingatkan diri dengan cara yang berbeda
Tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun
Dan tolong diingatkan jika saya mulai “melenceng” yah..
Semoga Allah bersama kita selalu, amin!!

22 Oktober 2010

Doa itu..

Mungkin saya saja yang berlebihan
Atau mungkin juga saya yang sedang sensitif
Atau mungkin saya sedang rindu dalam doa..

Tapi sungguh..
Sungguh, doa yang diucapkan pada malam itu
Sebuah doa sebelum makan dan sepenggal doa untukku

Hati ini bergetar kencang
Air mata ini menetes beraturan
Diri ini membisu, terpaku, dingin

Sebuah doa yang menjadi kado teristimewa pada usia yang beranjak dewasa
Doa yang sangat menyentuh sanubari
Doa dari sahabat-sahabat yang tersayang

Semoga Tuhan mengijabah doa tersebut
Semoga nama saya selalu berada dalam doa-doa mereka
Semoga hati ini selalu bergetar ketika berdoa kepada-Nya

Aku bersyukur kepada Tuhan, atas sahabat-sahabat dunia akhiratku
Atas kesempatanku meraih cita bersama mereka
Terima kasih dari hati yang terdalam

Nostalgila di Utara Jakarta..

Sabtu, 16 Oktober 2010.

Everybody gonna loves today, loves today, loves today!!

Ahaaa, menyenangkan memang kalo berencana liburan, jalan-jalan ke pantai, makan makanan laut di tepi pantai, apalagi bersama sahabat-sahabat yang selalu menggebrak mood jadi super up, hhe.. Seperti biasa, perjalanan dimulai dengan jam karet. Entah mengapa, tradisi ini begitu mendarah daging (gw doang kali yak?! Ahaha,,). Janjian jam 1 siang tapi baru keluar Depok abis Ashar, luar biasa memang.

Tepat pukul 17.00 kita nyampe di Panai Carnaval Ancol dan langsung jepret sana jepret sini. Seru, penuh canda dan caci maki tentunya, tapi kita semua tertawa, bahagia. Naik perahu layar berkeliling pantai sambil menikmati hilangnya sang mentari di langit Barat Jakarta. Indah dan menyentuh. Memang pergi kemana pun kalo bersama orang-orang yang disayangi rasanya tetap saja membuat hati tersenyum.

Malam dateng, cacing-cacing di perut juga sudah teriak-teriak minta dikasih makan. Setelah sholat Magrib, kami langsung tancap gas ke Bandar Jakarta. Resto seafood di pinggir pantai yang ramenya gak ketulungan. Alhamdulillah rezeki langsung dapet tempat duduk. Langsung mesen makanan kaya orang kelaperan belom makan dua taon (lebay! Hha..) ikan bawal bakar, kepiting, ayam goreng, kerang, udang, dan makanan favorit saya, KANGKUNG! Kesian, kesian, kesian, punya alergi seafood jadi cuman bisa makan kangkung saja, hahh itu juga uda alhamdulillahlah..

Dan surprise..

Gw kena dikerjain lagi. Tiba-tiba aja dateng mbak-mbak dan mas-mas resto yang ributnya kaya orang kampung bawa kue ulang tahun sama kembang api. Untungnya nii surprise berdua sama Inggit, jadi ga gitu malu-malu amat dah, hha,, yak, sekali lagi gw dapet surprise dari mereka, dapet piring cantik sama payung ni dah, heuu!

Sebelum pulang, kita juga nyempetin ke Kawasan Wisata Kota Tua, sumpah yaa rame bener. Nyari-nyari Ragusa dengan kaki yang nyut-nyutan karena kebanyakan kangkung, oh dear God! Makan es krim dan minum yang anget-anget di kedai sambil rumpi sana-sini kembali menghangatkan hati. Dan akhirnya kita pulang dengan rasa was-was dimarahin suaminya Riri, ahaha..

Heuumm, makasii yaa, makasih telah menjadi salah satu hadiah terindah dalam hidup saya!


*Inggit, ditunggu makan-makannya, hhi..