Tampilkan postingan dengan label Tempe Bacem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempe Bacem. Tampilkan semua postingan

24 Oktober 2011

Racauan Pagi Hariii..

Ahaii, akhirnya nonton final episodenya Harry Potter yang melegenda itu. Gw begitu ngikutin ceritanya sih tbh, tapi yang jelas gw amat sangat suka ending-nya yang 19 tahun kemudian itu loh. Ketika akhirnya kejahatan musnah, sementara cinta dan persahabatan tulus yang menang. Ketika akhirnya tokoh-tokoh sentral di film tersebut saling menikah dan memiliki anak. Ahh...

Suka bener gw sama cerita-cerita yang happy ending. Rasanya ngasih perasaan yang menyenangkan dan bikin mood jadi bagus kalo ngingetnya. Maklum, anaknya suka kebawa perasaan terus jadi drama, haha.

Yah, semoga aja hidup gw juga akan berakhir manis, berakhir bahagia. Amin..

6 Agustus 2011

Rasanya Abis Reramean..

Rasanya abis reramean, kumpul sama orang-orang disayang dan jarang ketemu, ketawa cekakak cekikik, lalu harus tiba-tiba sendiri nyetir mobil pulang ditemani ipod bernyanyi lagu kenangan dan gelap malam itu bener-bener bikin hati galau yah, ga keruan rasanya.

Seperti ada separuh jiwa yang tertinggal, masih ingin bercengkrama. Bener-bener ga siap aja harus sendiri, harus kembali balik ke rutinitas, tanpa tau kapan kita bisa kumpul cekakakan lagi.

Satu hal yang gw pelajarin, waktu untuk kumpul sama sahabat-sahabat itu mahal. Priceless, ga bisa dibeli atau disubstitusi. Cuma bisa ngikutin takdir, kapan kesempatan bersama itu datang lagi. Cuma bisa harap-harap cemas kapan bisa cekakakan lagi, tanpa ada sedikitpun rasa yang hilang, seperti saat ini.

Terima kasih untuk yang udah ngehargain waktu bertemu. Ada goresan kenangan yang sulit luput dari benak. Ada jejak kaki yang tak akan terhapus oleh waktu dan usia.
*minggu malam, di sebuah sisi jalan di daerah Buncit, ketika tiba-tiba saja hati saya menjadi tidak karuan.

5 Desember 2010

I Love You, Mbah,,

Hj. Gusti Sahariah Soewondo..

Sesosok wanita yang kuat, cerewet, dan berjasa sekali dalam hidup saya. Nenek saya, the one and only. Selalu ada topik yang Ia buat saat kami bersama. Jelas terlihat perhatian yang begitu besar dalam pembicaraan yang sering kali di selingi dengan kebawelannya.

Dulu, saat saya di bangku sekolah dasar, Ia yang selalu menjemput saya saat jemputan saya tidak beroperasi, Ia yang menggantikan ayah dan ibu saya selagi mereka sibuk saat mengambil rapor, Ia yang memanjakan saya dengan jajanan enak dan mainan-mainan, Ia yang menemani saya saat saya tengah malam kebelet pipis saat menginap di rumahnya. Ia juga sering membantu saya mengerjakan tugas agama, kesenian, dan bahasa Sunda. Dan Ia yang paling repot kalo saya sakit. Banyak makanan pasti yang Ia kirim ke rumah.

Dia memang seorang pensiunan guru seni, dan darah seni itulah yang saya yakinin menurun kepada saya. Suaranya apik, walau belum sekelas Celine Dion. Seorang yang telah makan asam kehidupan. Seorang yang turut berjuang menemani suami tercinta, kakek saya, saat perang kemerdekaan. Seorang yang hobi sekali jalan-jalan, berkebun, dan berbicara. Pernah suatu kali saya diomeli hanya gara-gara menggunting daun tanaman kesayanganya.

Suatu kali ketika saya menemaninya berobat, Ia bercerita tentang kehidupan yang sungguh luar biasa saat mudanya. Perang dan merangkak dari ketidakmampuan. Ia menjual cincin kawin hanya untuk membiayai keenam anaknya sekolah hingga ibu dan anak-anaknya yang lain menjadi sesosok yang berarti dan penuh dengan limpahan rezeki seperti saat ini.

Dia juga orang pertama yang saya hubungi ketika saya harus menghadapi ujian semesteran. Doanya ampuh, luar biasa. Jelas, kontribusi yang luar biasa yang Ia berikan kepada saya, cucu keempatnya. Sering kami terlibat dalam perdebatan yang luar biasa, tapi selalu terselesaikan dengan cinta. Ahh, mbah uti-ku yang gendut. Sering juga saya mencelanya karena badannya yang lebar, dan tentunya celana dalamnya yang seperti seprai kasur. Ia hanya tersenyum, cantik, sambil mengacak-acak rambut saya.

Kini, di usianya yang menginjak 80 tahun, badannya mulai mengurus, matanya mulai merabun, bahkan ingatannya sudah mulai berkurang. Nampaknya usianya mulai menggerogoti kehiperaktifannya menjalani kehidupan. Namun, masih saja Ia terlihat kuat. Masih sering menelpon untuk sekedar mengingatkan saya jika sudah dalam waktu yang cukup lama saya tidak berkunjung. Masih sering mengirim makanan-makanan kesukaan saya, masih suka menanyakan kabar kuliah saya walau saya sudah lulus. Dan yang terhebat, hingga saat saya memiliki penghasilan yang alhamdulillah lebih dari cukup ini, Ia masih saja menanyakan apakah saya punya uang untuk ongkos dan jajan supaya tidak kelaparan. Subhanallah..

“Mbah, jaga kesehatan yah. Mbah harus ada saat Amy nikah nanti. Mbah harus liat Amy wisuda S3 di luar negeri suatu saat. Mbah harus bantu Amy ketika nanti Amy diizinkan Allah memimpin negeri ini. Mbah juga janji mau naik haji bareng kan?! Tetep kuat ya, Mbah. Tetep doakan Amy bisa survive dan memenangkan kehidupan ini, seperti yang selalu Mbah lakukan. Mungkin Mbah ga bisa buka internet, ga bisa liat tulisan ini, tapi Amy cukup paham sekali Mbah tahu maksud hati ini.”

Ya Allah, izinkanlah Ia menyaksikan kesuksesan saya suatu saat nanti. Sehatkanlah Ia selalu. Kuatkan dan mudahkanlah Ia dalam menjalani sisa usianya. Limpahkanlah nikmat-nikmat-Mu yang tak terhingga kepadanya, kepada seorang pahlawan bangsa ini, kepada pahlawan di hati saya.



I do love you.

22 Oktober 2010

Doa itu..

Mungkin saya saja yang berlebihan
Atau mungkin juga saya yang sedang sensitif
Atau mungkin saya sedang rindu dalam doa..

Tapi sungguh..
Sungguh, doa yang diucapkan pada malam itu
Sebuah doa sebelum makan dan sepenggal doa untukku

Hati ini bergetar kencang
Air mata ini menetes beraturan
Diri ini membisu, terpaku, dingin

Sebuah doa yang menjadi kado teristimewa pada usia yang beranjak dewasa
Doa yang sangat menyentuh sanubari
Doa dari sahabat-sahabat yang tersayang

Semoga Tuhan mengijabah doa tersebut
Semoga nama saya selalu berada dalam doa-doa mereka
Semoga hati ini selalu bergetar ketika berdoa kepada-Nya

Aku bersyukur kepada Tuhan, atas sahabat-sahabat dunia akhiratku
Atas kesempatanku meraih cita bersama mereka
Terima kasih dari hati yang terdalam

19 Oktober 2010

Meraih Mimpi

Mimpi kan menjadi menjadi nyata
Bila ku tetap percaya
Walau rintangan menghalang
Kekuatan masih ada
Getar nyanyi indah fajar
Cinta dan kekayakinanku
Percaya akan diriku
Mampu jalani hidupku


(Gitgut, Meraih Mimpi)
Ketika bosan menghampiri mimpi-mimpi, ia datang dengan sejuta cita yang ditawarkan. Lambaiannya mampu menggugah egoku menuju haribaannya, sebuah pelabuhan dimana harkat dan martabat insani dijunjung. Ia berkata-kata indah, memainkan sebuah alunan syair merdu di atas sajadah suci.

Mendengarnya saja adalah sebuah apresiasi besar untukku. Tak sanggup ku melukiskan dengan bait-bait puisi atau ku lantunkan dengan nada-nada yang bersatu membentuk gugusan melodi. Ah, absurd memang logika ini, sepikuk lalu lalang lebah pekerja, seriuh debur ombak selatan.

Kau tak kan tahu bila tak mencoba
Jalanmu masih panjang, Percayalaaaaaaahh..

21 Mei 2010

Mari bahagia!

Hoii orang-orang, ngapain lo susah-susah mikirin keadaan sulit? Ngapain lo ribet sendiri mikirin apa yang orang lain pikirin tentang kejelekan lo? Ngapain juga lo harus puyeng-puyeng mikirin masa depan lo yang jelas-jelas uda ada yang ngatur? Ngapain lo keblingsatan harus tampil sempurna di depan banyak orang?
*Sindiran..

Ayolahh, we have to move on! Masih banyak hal penting yang harus dipikirin, masih banyak cinta yang harus diraih, masih banyak asa yang harus ditangkap, masih banyak hidup yang harus dijalani.
Ayolahh, raih bahagiamu kawan! Dengan cara yang paling membahagiakan tentunya. Sudah terlalu banyak kekecewaan dan kesedihan di hati ini, sudah terlalu banyak kemurkaan tersanggupi.
Ayolahh, hapus air mata kepedihanmu itu kawan! Buang jauh amarah dan benci yang menyelimuti hatimu. Mari kita mulai hidup yang lebih sehat, dengan jiwa yang lebih kuat. Tersenyumlah.
Ayolahh, ubah cara pandangmu terhadap dunia, ubah persepsimu tentang kebahagiaan dan kesedihan. Jalani hidup yang telah menjadi anugerahmu, syukuri hati yang tertunduk kepada-Nya.
*Peringatan..

24 November 2009

Saya dan jantung,..

Senin malam, awal November 2009, tiba-tiba dada saya sesak, keringat dingin keluar dari seluruh badan saya, basah dalam dinginnya AC yang ada di ruangan pribadi itu. Memang hal ini menjadi biasa sejak saya duduk di bangku SMP, dimana cukup sering saya menderita susah bernafas dan merasa seperti tertiban benda yang berat saat tidur.
Selasa pagi, dada saya kembali sesak, disertai dengan badan yang melemas dan batuk kering yang tak kunjung membaik. Layaknya manusia yang menderita masuk angin hebat, perut saya mual, rasanya sulit sekali memasukkan oksigen ke dalam tubuh ini, hidung terasa mampet walau virus flu enggan menyapa saya. Lengan kiri saya pun sakit, seperti terserang rematik, namun hanya bagian kiri saja.
Jumat pagi saya memutuskan untuk memeriksa kesehatan saya pada rumah sakit umum dan hanya divonis mengalami kelelahan hebat akibat aktivitas saya yang cukup pada, subuh hingga dini hari. Namun, jumatmalam dada saya menjadi berdebar-debar dan sesak. Tak kuasa menahan sesak, saya dibawa oleh kedua orangtua saya ke rumah sakit jantung terkemuka di Jakarta. Sesampainya disana, saya dimasukkan pada unit gawat darurat dan hanya ditertawakan oleh dokter jaga di sana. Mana ada anak usia 22 tahun mengidap penyakit jantung, katanya. Kesal, namun sedikit kelegaan mampir dalam diri ini.
Senin pagi, saya kembali ke rumah sakit jantung tersebut untuk menjalankan medical check up dan setelah melewati perjalanan birokrasi dan pendeteksian yang amat melelahkan akhirnya hasil saya diserahkan ke dokter jantung, yang sama sekali tidak ramah terhadap jantung-jantung pasiennya, pada hari Senin minggu berikutnya. Tes darah, treadmil, echo, dan rontgen, diketahuilah bahwa jantung saya dalam keadaan normal, namun terdapat kejanggalan dalam kolesterol, asam urat, dan tekanan darah saya.
Saya mengalami kelebihan kolesterol dan asam urat dalam diri saya, serta tekanan darah tinggi. Cukup aneh memang penyakit yang biasanya diderita oleh orang tua di atas 40-an mengidap pada tubuh seorang anak berusia 22 tahun lewat 1 bulan. Yaahh, apa mau dikata, saat ini saya sedang mengurangi konsumsi cokelat, yang diduga kuat sebagai penyebab utama kolesterol, dan mencoba untuk berkeringat, menggerakan badan yang kaku ini.
Doakan saya kawan, semoga penyakit ini segera pergi dari tubuh saya. Karena saya masih ingin berkarya, mengabdi pada bangsa dan negara, berbakti pada orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabat saya, serta bersujud pada Tuhan saya. Mulai sekarang konsumsilah makan-makanan yang sehat, yang bergizi, dan berolahragalah. Saya remaja berusia 22 tahun dan saya terkena serangan kolesterol serta asam urat karena pola hidup yang nikmat namun tidak sehat.

23 November 2009

Welcome Ternate!

Minggu, 12 Juli 2009
Malam ini saya bersiap, packing baju dan dokumen yang akan saya bawa dan kerjakan di Ternate sana. Pakaian dan segala tetek bengeknya sudah disiapin nyokap, tinggal bawa saja. Beruntung sekali saya memiliki seorang Ibu yang begitu pengertiannya. Pukul 23.00 WIB saya berangkat diantar bokap menuju bandara. Perjalanan yang singkat untuk hati yang excited minta ampun dan kondisi badan yang belum juga membaik.

Senin, 13 Juli 2009
Puku 00.45 WIB saya tiba di bandara Soekarno-Hatta, sudah ditunggu oleh Pak Awal, rekan satu tim di Ternate sana. Bukan untuk pertama kali saya naik Batavia Air, tapi entah kenapa kali ini begitu excitednya. Mungkin karena ini perjalanan pertama saya menuju Indonesia Timur, sebuah sisi lain dari kehidupan di Indonesia. Pesawat take-off tepat pukul 01.25 WIB dan ternyata kami sepesawat dengan Kasetlan Ternate, temannya Pak Awal. Di pesawat, untuk mengurangi penat, tidurlah saya. Bangun sudah di atas Laut Maluku, pesawat terbang hany beberapa meter di atas permukaan laut. Getarannya men, ajip bener. Seperti biasa, Batavia landingnya aga tidak enak, berasa naek ojeg dah, hha.. nyampe Ternate langsung makan lontong sayur yang rasanya ala Ternate, saya gatau dah, beda aja pokonya sama lontong sayur depan kantor. Setelah itu, saya tidur di hotel. Bangun uda pukul 14.00 WIT dan langsung sosialisasi di perwakilan. Hebat juga ternyata saya berbicara di depan para ketua tim, cihuuyy. Makan malam ikan bakar, ikan Krapung, maknyosss. Tapi terpaksa harus minum obat anti alergi, untuk stoknya banyak, pengalaman di Medan mengajariku nsegalanya, hhe..

Selasa, 14 Juli 2009
Bangun kesiangan, disamperin berapa kali sama orang perwakilan. Makan siang pake nasi Padang pukul 11.00 WIT. Lama juga di kantor, menunggu orang perwakilan menyelesaikan tugas yang saya bawa untuk mereka, hhi.. Pukul 16.30 WIT kami diantar oleh Pak Kasubagsetkalan pulang ke hotel. Selepas Magrib, kami makan malam di sebuah restoran. Kali ini makan Ikan Bawal bakar dan rica, sedaappp. Sayang saya tidak doyan seafood. Sampe hotel tidur dengan nyenyaknya hingga pukul 23.30 WIT saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi, nonton tivi yang saya tidak mengerti konsep acaranya, yasudahlah..

Rabu, 15 Juli 2009
Hari ini telat sarapan, udah abis tinggal kopi sama teh aja. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan di sebuah kafe dekat hotel. Saya makan bubur manado denga es milo, Pak Awal dengan nasi goreng spesialnya dan teh botol sosro, apapun makanannya minumnya teh botol sosro katanya, hha.. lagi-lagi kami menunggu di perwakilan, belum selesai juga nampaknya pekerjaan yang kami tunggu. Makan siang di Bakso Lapangan Tembak, jauh-jauh ke Ternate makannya tetep Bakso lapangan Tembak, hha.. malamnya, lagi-lagi saya harus meminum obat anti alergi setelah memakan ikan krapung rica yang maknyoss itu dan akhirnya nyobain juga es kelapa muda dengan gula merah, ajib bos!

Kamis, 16 Juli 2009
Hari in parah capenya. Mulai ngerjain laporan yang harus diselesaikan segera mungkin karena kalo diselesein di Jakarta ga ada waktu lagi, validasi setumpuk LHP telah menunggu. Sarapan pake nasi fu yunh hai, yang lebih mirip telor dadar. Pukul 12.00 WIT saya dan para paejabat dari perwakilan menghadiri sebuah pernikahan orang disana. Seru juga, dapet kesempatan ngeliat pesta pernikahan adat Ternate lengkap dengan makanan khasnya yang ternyata tak cocok di lidah saya. Padal orang-orang lahap bener makannya. Pake dikerjain sama Kasubag Keuangan Ternate pula gw, makan sampe kekenyangan, perut sampe sumpek, haff. Sorenya gw ma Pa Awal ditemenin ma Mas Yadi dan Pak Ipung keliling-keliling Pulau Ternate dengan mobil, yah sekitar dua jamlah, udah nyampe kantor lagi. Sempet berenti di sebuah panti dan danau yang indah bener, tapi gw lupa namanya. Satu kesimpulan yang gw dapet, Ternate itu indah banget, tapi sayang belum dikelola dengan baik lahan pariwisatanya itu sama pemda terkait. Minum es kelapa muda lagi sambil ngeliatin laut, gunung, dan nelayan yang lagi kerja. Sempet makan pisang pake sambel, makanan khas sana, aneh dah, ahahaa.. dan yang penting hari ini, gw ma Pa Awal ikutan lembur nungguin data yang harus kita bawa ke Jakarta sampe jam 2.00 WIT. Waw.. menikmati keheningan malam Ternate, seru juga. Banyak ngobrol sama temen-temen di perwakilan, Robby, Aul, dan Jawir. Masih hangat seperti dulu, masih bermakna..

Jumat, 17 Juli 2009
Dini hari kami pulang dari kantor. Diputuskan kalo kami gag tidur takutnya kesiangan karena pesawat takeoff jam 7.00 WIT. Mesen popmie dan soft drink di hotel, ngobrol ngalor ngidul bersama Pa Awal yang aneh itu, wkk.. akhirnya jam 6.00 WIT kita meninggalkan hotel, dijemput sama Mas Yadi dan Pak Ipung yang kelihatan masih butuh wajtu untuk tidur. Sampe bandara Sultan Baabullah dan kita langsung check-in. Finally, pesawat boarding, take-off dan meninggalkan Ternate yang penuh kenangan itu. Salut saya untuk teman-teman di Ternate, Robby, Aul, dan Jawir yang kerja bak kuda, hhe! Karena hidup adalah perjuangan dan tempat istirahat kita sesungguhnya adalah di surganya Allah. Selamat tinggal kawan, suatu saat nanti kita akan besama lagi di Jakarta. Pesawat sampai di Bandara Soekarno-Hatta, saya tertidur sepanjang pejalanan. Supir sudah menunggu, lagi-lagi saya tertidur di mobil yang mengantarkan saya kembali ke rumah tercinta.

30 Oktober 2008

Plasma, I'm in Love..


Senen itu, ceritanya gw mao ngurusin pemberkasan cpns, ngebuat skck di polres ma kartu kuning di disnaker Depok, tapi karena surat pengantar gw belom jadi, gw gag bisa ngurus skck, dan apesnya skl gw salah spelling, otomatis pembuatan kartu kuning pun ditunda (maavin akuh iaa bebeth! Hoho..). akhirnya ada pencerahan, daripada tuh hari garing, mendingan gw k RS Bhayangkara buat ngambil hasil rontgen gw terus mampir bentar ke kampus, ngambil skl.

Gag ada yang istimewa ketika gw nyampe di RS, paru-paru gw masih oke, paling ketemu Norma ma Jiboh, Ogi sama temen-temennya, Devi yang terlihat sudah gemukan (hoho..), dan Lusi. Gw langsung ngampus karena udah ditungguin Mike disana (buseng nii orang rajin banget ke sekre dah, kaya CS jatohnya! Hahakk,, Mike piss,,). Mpe kampus, gw langsung ke gedung p, setelah ketemu Evan di jalan buat ngasih selamat dan nanya dikit tentang penempatan temen-temennya. Mike uda nunggu, ditemenin Novrijal, gw langsung barteran skl gw ma hasil rontgennya Mike. Gag lama, Bunyamin dateng dengan muka mesumnya itu (tetep! Haha..).

Lagi-lagi gag ada yang istimewa di gedung p. Gag lama, gw pulang bareng Mike, Iyus dan temennya. Kita ke Plasma sebentar buat fotokopi dan beli minum. Nah, disini baru ada kejadian aneh. Gag sadar gw langsung jalan ke arah tempat duduk, dimana kami (3Q-red!) biasa duduk, makan-makan, minum joytea bareng, maen kartu, ngecakin orang, ngobrol-ngobrol, melakukan sesuatu yang kami suka tanpa peduli keadaan sekitar. Mata gw langsung jelalatan nyari dimana Doni, Katez, Oki, Petrik, Jati, Koco, Norma, Beti, Opa Anjar, Yunus, Aul, Ilham, Dadik, Japra, Satria, dll (kami yang sering melakukan hal itu bersama). Semua pikiran itu out of mine, gw bener-bener gag sadar kenapa menuju ke tempat duduk itu.

Hah, begitu sadar, pengen banget tereak, pengen nangis, pengen terlelap dan ketika gw bangun, mereka bener-bener ada di tempat duduk itu, lagi ketawa-ketawa, lagi ngecakin orang, lagi makan gado-gado akang ato baso si bapa, lagi maen kartu boongan, lagi ngomongin dosen, lagi minum joytea seribuan, lagi tersenyum sama gw.

Haha, untung cepet sadar, cepet nyusul Mike ke tukang fotokopian. Pulang dari fotokopian, sempet gw nengok ke belakang, ke tempat duduk itu, masih gag ada mereka. Merem, melek lagi, senyum. Gw tau, mereka emang gag ada disana lagi, tapi mereka ada di hati gw, tersenyum..

Already miss you guys! Kapan yaa kita bisa kumpul bareng disitu lagi, biasanya setiap senen kan, setiap hari ini. Di antara jeda kuliah Pa Toha ma Bu Dila nyambung ke Pa Marmah..

28 Oktober 2008

Kita Masih Tersenyum!

Tepat tiga bulan yang lalu, 26 Juli 2008, kita menyatukan hati di sebuah Bus Departemen Telekomunikasi dan Informasi, masih inget kan kawan?! Hehe.. Pagi-pagi uda repot nyari tiker, repot bawa makanan buat sarapan, repot sama bawaan masing (jiah, ini mah gw doang yang repot! Ckakak..).

Masih inget nungguin Yunus yang gag ada kabar kaya digondol setan sampe lupa Bunyamin belum dateng?! Semua repot, Opa yang ngurusin supir, Oki yang bawa2 tiker, Pumel yang nyiapin rundown bareng Koco, gw yang masih aja ngitung duit orang, Norma yang sibuk ngaca (tetep!), Vina yang sibuk mikirin UAS dan Kompre (haha, nii orang emang gda duanya! Aturan lo yang jadi wisudawan terbaik!), pokoknya semuanya repot, namun tetap ada senyum di bibir mereka, di hati setiap kami.

Nyampe villa langsung pada gag tahan buat nyebur kolam (huh, dasar geng kampung!), setelah sebelumnya kita foto2 di kawasan argo deket mesjid. Gw? Gw tetep aja ngitung duit, takut gag cukup, sambil megang mic buat karokean lagu dangdut (abis adanya cuma dangdut! Hahakk..). Masih aja tetep repot, masih tetep ada senyum.

Hah, cepet banget, tiba2 uda malem, maen games gag penting tapi menyenangkan ala Koco ma Pumel (merasa dikerjain gitu gw!haha..), maem jagung bakar, maen pingpong sampe bolanya ilang-ilangan terus, maen sambung-sambungan bikin lirik puisi, maen kartu sampae kantuk menjemput, terkecuali Azwar yang tidur sepanjang hari, Japra yang makan melulu, dan Katez yang ketawa-ketawa yang setan tengah malem! (hah, setan juga takut ngeliat Katez ketawa!hahakk, piss mamen)

Besok pagi masih juga repot, yaa bikin minuman panas, maen pingpong, maen ramalan ala Mbah Resha yang cuamik, dan foto session ala homo oleh Mas Dadik dan Kekep di kolam renang! Hahakk,. Tak lama terjadilah insiden gw diceburin, sumpah gag penting, kurang ajaallll! Basah, dingin, dendam, laper! Hehe, tetep, abis dingin jadi bawaannya makan melulu!

Pas adzan Magrib kita nyampe kampus dianter ma bus yang sama, nyanyi2, foto2, ngemil2, sibuukk aja orang2, tapi masih tetep ada senyum. Ujan-ujanan, basah kuyup, mules, dan kali ini gag laper, beneran! Masih pengen ngobrol, ketawa bareng, ngecakin orang lewat, tapi udah harus pisah. Ah, besok juga ketemu lagi!

*Besoknya semua pada mencret dan gw paling telat dateng kuliah Pak Toha! OMG...

Hari ini, tiga bulan setelahnya, yudisium udah, wisuda juga, penempatan pun udah keluar beberapa hari yang lalu, kita semua sibuk ke kelurahan, rumah sakit, polres, disnaker masing-masing daerah asalnya. Semua repot ngurus pemberkasan, tapi gw yakin masih ada senyum terpasang di bibir mereka, di hati indah mereka. Benar2 menginspirasi gw untuk tersenyum menghadapi kacaunya birokrasi. Masih pengen ngobrol, ketawa bareng, ngecakin orang lewat, tapi udah harus pisah. Ah, besok juga ketemu lagi! Eh, udah ganti! Ah, apakah bisa besok kita ketemu lagi?!

Miz u guys..

17 Oktober 2008

Panda Itu Bukan Aku (2)

Ahirnya gw nonton Kung Fu Panda lagi, ah senangnya. Sekarang gw nonton ma Ilam, uda malem jadi anak kecilnya ga banyak. Yang ada juga uda pada tidur. Ga ada celotehan anak kecil kaya gw nonton yang pertama, ga ada ketawa-ketawa polos, ga ada semangat pejuang kecil yang tertular di emosi gw, ga ada tangis yang keluar dari mata-mata mungil (lagi-lagi tangisnya mungkin cuma keluar dari mata gw! Huu~, Amy cengeng!). tapi gw seneng banget bisa nonton lagi. Ga nanya-nanya seperti biasanya, banyak makanan yang bisa gw masukin ke perut gratisan dari Ilam. Hehe, sering-sering aja bos!

Nonton kali ini lebih fokus sama pesan moral yang dimunculin tuh film. Seru, seru, seru! Gw suka banet sama kata-kata yang dikeluarin Master Sifuu ke Po, yang bilang kalo ”Yesterday is a history, tommorow is a mistery, and today is a gift, that’s why we called it present!”. Huwaaa, jadi inget Nanto pernah ngesmsin gw tulisan yang sama pas banget ketika gw empet sama keadaan yang gw alamin (tengz bro’!).

Sekarang gw uda ga sebel lagi kalo orang-orang nyamain gw sama Po. Gw malah seneng! Hehe.. Secara Po tokoh utamanya dan dia jadi Dragon Master. Jadinya kalo lo sekarang ngatain gw gendut, buncit, males, ceroboh, yang penting gw adalah Dragon Master yang dicari-cari dan akan menyelamatkan umat. Wakakakak!

Temen gw juga pernah bilang kenapa dia bilang gw mirip sama panda gendut itu. Iyap, gw emang gendut, buncit, males begerak, ceroboh, punya segudang mimpi, aga tolol, penakut, ga punya bakat berantem (tapi kalo adu bacot mah hayuk!), doyan makan, tapi gw punya semangat yang luar biasa. Itu kata temen gw loh! Haha, jadi GR nih! Goblok dah, ngapain juga gw GR, lah itu yang disebutin banyakan sifat negatifnya yak?!

Adegan favorit gw pas Po ngalain Tiger, musuhnya pake perutnya yang buncit. It’s mean gw bisa ngegunain perut gw yang buncit tapi sexy ini buat ngalahin musuh gw! Haha, mimpi kamu! Hmm, adegan pas dia boboan bareng Master Sifuu di pinggiran kolam juga keren. Belom lagi adegan Oogway yang tiba-tiba ngilang, kata Ilam itu cara menghilang yang bagus, aneh kan kalo orang (kura-kura) bijak ilangnya karena mati, nah mendingan kaya gitu ilangnya.

Dan yang paling mantep dari nih film, semangat tokoh-tokoh yang ada di dalem film ini tertular ke gw! Gw jadi semangat banget (ini beneran!) buat nyelessein TA gw. Gw jadi semangat buat ngurusin foto BA, gw jadi semangat ngapa-ngapain dah! Terima kasih Po.. semangat kawan-kawan!

Nah, buat yang belom nonton atau yang pengen nonton lagi, cepetan dah nonton. Gw aja pengen nonton lagi. Let’s see..

Panda Itu Bukan Aku (1)

Waaahh, gara-gara kemakan banyak bujuk rayu orang buat nonton Kung Fu Panda, ahirnya hari ini gw nonton tuh film kartun sama temen-temen gw. First impression, LUCU! Kenapa gw bisa tertarik banget nonton nih film yak?! It’s simple, gw suka banget film kartun dan banyak orang yang bilang gw mirip Po, tokoh utama di film itu yang notabenenya seekor panda gendut, males, ceroboh, punya banyak mimpi tapi selalu berenergi terus semangatnya meluap-luap.

Orang pertama yang sms gw kalo uda nonton tuh film si Pumel, dengan noraknya dia bilang kalo dia uda nonton tuh film, jadi sebel gw kelewatan premiernya. Uda gitu tante dan Gembul yang ga tahan nyeritain tuh film ke gw berulang-ulang kali dengan penekanan tuh panda mirip gw, belom lagi temen-temen lain yang langsung ngirimin sms ke gw setelah mereka nonton Kung Fu Panda. Yang nyebelin, ada sms yang berbunyi “Mii, selamat yaa! Ahirnya lo jadi artis Hollywood juga. Film perdana lo lucu banget. Btw, kenapa babe lo jadi bebek begitu?!”. Nyebelin..

Abis UTS Etprof kemaren, gw uda siap-siap pengen nonton Kung Fu Panda di Bintaro Plasa ma Koco, Jibo, dan Norma, tapi alhasil kita keabisan tiket. Sebel deh, uda niat nonton malah ga kedapetan tiket. Yang nambah bikin sakit ati banyak ketemu temen-temen yang uda dapet tiket dan bilang gini pas mw mule, “Yah, filmnya ga bisa mule-mule dun, kan artisnya ga kedapetan tiket!”. Tai..

Ahirnya gw nonton juga nih film, lucu banget dan banyak pesan moral di dalemnya. Beginilah film yang seharusnya diciptakan oleh para sineas perfilman di Indonesia, dan beginilah film yang seharusnya jadi tontonan yang bagus buat anak-anak. Menghibur dan mendidik (Alah, gaya banget c gw?!)

Yang bikin seru, gw nonton bareng temen-temen gw sesama pencinta film kartun. Uda gitu, secara gw nonton sore-sore dan pas liburan sekola, jadinya banyak banget anak kecil yang barengan gw di teater itu. Asli, mantap banget, ngena banget, nyentuh banget nonton bareng mereka. Kalo filmnya lagi mengobarkan semangat, mereka tereak-tereak, giliran berhasil mereka kegiranganan, giliran berantem, tangannya ikut-ikutan ninju-ninju, giliran sedih, ada yang kedengeran nangis, ada yang kedengeran ngomel-ngomel ma nyokapnya, pokoknya rame dan bikin emosi gw ikut terlibat. Bikin tangan gw ikut ninju-ninju, bikin aer mata gw ikut keluar, bikin celotehan-celotehan tolol keluar dari mulut gw, bikin ge ga bisa diem, bikin gw selalu nanya-nanya karena ga ngerti ) haha, kayanya film apapun gw pasti nanya kalo nonton, harap maklum..).

Film yang berhasil bikin gw ketawa setelah UTS yang bikin empet, sebelum ngurusi foto BA yang bikin ngejelimet, sebelum gw harus bercinta dengan TA gw, sebelum gw bener-bener punya anak! Haha.. Pokonya ini film yang wajib banget buat lo tonton. Ajak dah ade, anak, keponakan, ato temen-temen lo!

21 Juli 2008

Cinderamata Hardiknas

Hardiknas di depan mata! Ko gw tau yak? Ya iyalah, secara bokap-nyokap gw berkecimpung di dunia pendidikan dan sekarang lagi ribet banget ngurusin tuh hari. Mereka dan ribuan civitas akademika sekolahan seluruh Indonesia mungkin lagi muter otak buat ngemaknain hari yang ngebuat pendidikan jadi salah satu prioritas pemerintah buat dikembangin, jadi salah satu kebutuhan primer masyarakat, dan jadi sasaran para calon pemimpin yang ngebual-bual janji kampanye politiknya.

Seberapa pentingnya pendidikan ya buat orang-orang di Indonesia yang notabenenya masih banyak yang ga bisa makan cukup, ga bisa tidur enak, ga bisa ketawa lega? Miris banget ngeliat orang-orang itu, orang-orang yang seharusnya menjadi kaya karena pendidikan yang baik. Lagi-lagi uang, lagi-lagi uang.. Apa uang jadi standar segala macem yang ada di dunia, kenapa harus uang yang ngebuat kita bodoh karena ga bisa ngeyam pendidikan yang normal?

Ah, kenapa pendidikan di Indonesia masih mahal? Kenapa semua jenjang study masih jadi barang langka buat sebagian besar masyarakatnya? Boro-boro kuliah di perguruan tinggi, banyak banget yang gw liat ga bisa sekolah SD! Apa yang bisa diperbuat orang seperti gw, seperti kita? Orang-orang yang ingin berbuat sesuatu tapi entah ingin berbuat apa! Orang-orang yang hanya bisa mengiba tanpa tau caranya memberi.

Seperti apa kita harus memaknai Hardiknas? Seperti Ki Hajar Dewantara memperjuangkan pendidikan dulu? Seperti SBY yang mengalokasikan 20% dana dari APBN Indonesia buat pendidikan? Seperti Jusuf Kalla yang menaikkan standar minimum kelulusan UAN anak SMA? Seperti temen-temen gw yang belajar jauh-jauh hari mempersiapkan ujiannya? Atau mungkin seperti para calon pemimpin yang membual 1001 janji manis buat pendidikan gratis?

Yah, kalo aja ada orang yang concern sama pendidikan kaya yang dilakukan Ki Hajar Dewantara mungkin pendidikan kita ga gini-gini amat yak. Pendidikan Indonesia jadi nomer satu di Asia bahkan di dunia kali yak. Kalo sekarang mah pendidikan jadi alat politik doang. Tega-teganya para calon pemimpin itu ngasih janji palsu buat rakyat. Mudah-mudahan aja makin banyak orang yang peduli ma pendidikan Indonesia, walopun ga kaya yang dilakukan Ki Hajar Dewantara dengan Tut Wuri Handayaninya, tapi kita bisa ngasih kontribusi lain yang sesuai dengan kapasitas kita. Tul gak?!

Hmm, semua tergantung kita menyikapinya bukan? Seperti yang sering lo semua denger di infotainment, disetiap ada gosip tentang selebriti, yah semuanya tergantung kita sebagai korban infotainment menyikapi dan menanggapi tuh gosip. Haha... Yang pasti, gw menyikapi Hardiknas dengan nyelesain TA gw secepet mungkin, seperfect mungkin, supaya gw bisa liburan dengan tenang sebulan full dan prepare buat kompre! Hah, seandainya... n_n

***

Hari ini pengumuman kelulusan UN anak SMA, dan entah kenapa ada sedikit galau untuk melihat hasil dan mengetahui persentase kelulusannya. Takut menghadapi kenyataan kalau banya murid Indonesia yang ga lulus, dan takut melihat fakta bahwa banyak diantara mereka yang lulus tapi ga pantes untuk lulus. Mau jadi apa nantinya negeri ini dipimpin sama orang-orang yang sebenernya ga pantes lulus sekolah, orang-orang yang mengenyam pendidikan normal tapi sering berpolah seperti binatang, seperti tidak berpendidikan.

Tapi bagaimanapun gw menghindari berita tentang kelulusan anak-anak sekolahan, tetep aja gw tergelitik oleh rasa ingin tau yang banget-banget, bagaimana nasib ade-ade kelas gw?! Alhamdulillah ga ada kabar aneh yang ge terima, mungkin lulus semua, seperti biasanya! Emang tanpa bermaksud bernarsis-narsis ria, sekolahan gw menjadi pengecualian dalam hal keraguan gw terhadap kelayakan para murid lulus UN, sekolah gw menjadi sekolah yang gw anggap beruntung karena mempunyai murid yang punya potensi yang gemilang bak bintang yang siap bersinar. (Kalo ga percaya, let’s check them out right now, temen-temen angkatan 2005 yang sudah bersinar ditempatnya masing-masing).

Pertanyaan selanjutnya yang muncul dibenak gw, kenapa sih banyak banget orang-orang yang nyoret-nyoret baju mereka dikala mereka lulus? Anak SD yang harus menempuh sekolah 6 taun lagi, SMP yang mencoret-coret baju, padahal masih harus terus berjuang di SMA, anak SMA yang masih harus kulia, dan untungnya belom pernah gw ngeliat anak TK yang nyoret-nyoret baju mereka karena mereka lulus. Mending kalo mereka yang nyoret-nyoret baju lulus dengan predikat memuaskan! Kalo pengen mengekspreseikan kegembiraan karena lulus, mboh yang positif dikit gitu. Apa ini hasil dari pendidikan yang mereka jalankan? Kalo emang bener, siapa yang harus disalahkan? Gurunya, muridnya sendiri, presidennya, atau sistem pendidikan yang ada?

Yah, mudah-mudahan apa yang liat, yang gw pertanyaankan selama ini bukan merupakan hasil dari pendidikan di Indonesia, bukan merupakan cinderamata Hardiknas beberapa hari yang lalu, bukan juga merupakan cerminan moral dan pribadi bangsa yang mulai terkikis, tapi hanya sebuah euforia kegembiraan untuk terus tetap berkarya. Lets make a better Indonesia together!

-gw nulisnya beberapa hari sebelum hardiknas dan dilanjutkan pas pengumuman UN anak SMA-

(_achmyhoolicz!)